“Kenapa kamu bisa suka sama Angga?” Tangan Fresya yang baru akan mengambil kartu di bawah sofa terhenti. Gadis itu mendongkak, menatap seseorang yang tengah duduk di sampingnya. Menghela napas pelan, Fresya kembali duduk dengan benar setelah mengambil kartu kewarganegaraan asing yang baru saja selesai dibuat. Ia tersenyum tipis seraya menatap gadis lain di sisinya dengan tatapan bertanya. “Bukankah suka itu wajar?” Tanya Fresya balik. Gadis itu mengambil rokok yang ada di meja dan mulai menyalakannya dengan pematik yang ada di dekat gelasnya. “Lagipula, siapa yang tidak akan suka dengan sosok sempurna seperti lelaki itu?” “Tapi Angga tidak suka dengan perempuan seperti kita.” “Lalu? Aku harus merubah penampilan begitu?” Fresya yang baru saja mengeluarkan asap rokok itu tertawa pelan. I

