“Kok lo bisa di sini?” Fresya mengerutkan keningnya dengan senyum yang masih terpatri di wajahnya. Seakan menikmati wajah terkejut Angga saat ini. “Memang apa salahnya kalau saya di sini?” “Lo gak bisa ngomong tanpa bahasa baku?” Tanya Angga yang mulai risih dengan suara Fresya yang selalu memakai bahasa baku. Padahal sebelum ini, mereka berbicara dengan bahasa tidak baku dan saat menggunakan bahasa Vietnam juga gadis ini tidak segan memakai bahasa non-formal. Tapi kenapa sekarang harus memakai bahasa baku. “Bisa. Memang kenapa jika saya memakai bahasa baku?” “Gak enak di denger.” Fresya tertawa mendengar hal itu. Ia tidak menyangka jika ternyata Angga bisa sedekat itu dengannya. Padahal baru beberapa jam yang lalu mereka saling berseteru dan menggunakan nada tajam. Tapi sekarang ked

