Suara pintu apartemen terbuka menggema di ruangan gelap yang selalu menjadi penyambut perempuan berdress pink pastel itu. Tangannya yang memegang kantong belanjaan langsung membanting totebag itu ke sofa. Matanya yang merah karena jarang tidur ia pejamkan seraya menyugar rambutnya yang terasa sangat basah karena keringat. Kaki jenjangnya yang kini terluka ia luruskan dengan baik. Merenggangkan tangannnya yang terasa kaku, gadis itu baru duduk di sofa setelah menghela napas panjang. Tak berniat menyalakan lampu, perempuan 21 tahun itu memilih memejamkan matanya. “Kamu gak tahu, kan seberapa murahannya kamu?” Fresya kembali membuka matanya saat telinganya mendengar hal itu. Menghela napas panjang, Fresya memilih duduk dengan tegak. Tangannya yang memang banyak terluka karena pisau dan jug

