Bab 10. Saran Dimas

1068 Kata
“Kenapa Anda pulang kembali ke kantor, Pak?” Bryan yang merasa pusing dan stres akibat kejadian yang menimpa sang istri karena ulahnya, juga merasa stres karena tidak bisa membawa pulang Eleana hari itu juga, akhirnya memutuskan kembali ke kantor. Pria itu tidak tahu harus ke mana dan itu tentu saja membuat sang sekretaris merasa heran. Ia hanya bisa menyugar rambutnya kasar lalu duduk di depan meja di dalam ruangan miliknya. Sementara itu, Dimas menanti jawaban dengan sabar. “Kalau saya boleh tahu, ada apa, Pak? Kenapa Anda tampak begitu gundah?” Dimas memberanikan diri bertanya. Di luar dugaan, bukan kemarahan yang ia dapatkan, tapi jawaban lirih dari seorang laki-laki yang menurutnya sangat keras, kasar, dan tegas. “Aku baru saja membunuh anakku sendiri.” Dimas terperanjat lalu mengonfirmasi lebih jauh. “Apa? Maksud Anda apa, Pak?” “Istriku keguguran saat aku menyentuhnya tadi, dan sekarang dia berada di rumah sakit,” lanjut Bryan lagi. “Astaga, terus bagaimana keadaan istri Anda? Apa Nyonya baik-baik saja?” “Dia mengalami pendarahan hebat dan sudah ditangani oleh dokter. Dia dikuret,” jawab Bryan. Dimas tidak bisa berkata-kata. Ia menanti sang atasan untuk melanjutkan ucapannya. “Apa yang sudah aku lakukan sebenarnya....” lirih Bryan sambil meremas rambutnya, terlihat begitu tertekan. “Pak, kalau boleh saya menyarankan, sebaiknya hentikan semuanya, Pak. Dendam Anda sudah terbalas. Indra Hendrawan sudah meninggal dunia sesuai dengan keinginan Anda. Mama Anda juga sudah tenang di sana karena sudah mendapatkan pembalasan dendam. Selain itu, Anda sudah menyiksa putri Indah Hendrawan selama dua tahun. Itu sudah cukup, Pak.” “Diam kamu! Mana mungkin aku bisa melepaskannya!” bentak Bryan tiba-tiba naik darah. “Apakah Anda bahagia terus-menerus menyiksa istri Anda? Anda mungkin mendapatkan kepuasan, tapi apakah Anda mendapatkan ketenangan ketika melakukannya?” Dimas nekat menelisik isi hati sang atasan. Bryan terdiam, tidak bisa menyanggah ucapan Dimas. Ia memang tidak mendapatkan apa yang dikatakan oleh sekretarisnya tersebut. Yang ia rasakan hanyalah kepuasan karena dendamnya terbalaskan, tetapi ia tidak mendapatkan ketenangan hidup. Hari ini, ia menyaksikan istrinya bermandikan darah, dengan gumpalan-gumpalan yang keluar langsung dari jalan lahirnya karena ia menyentuhnya dengan kasar tadi siang. Hal itu membuatnya merasa miris. Ia sudah membunuh bayinya sendiri. Meskipun ia tidak menginginkan bayi itu, tetapi setidaknya bayi itu adalah darah dagingnya dan istrinya. Ia sudah membunuhnya, meskipun secara tidak sengaja. Perasaan yang dirasakannya saat melihat itu tidak bisa dideskripsikan. Ada rasa bersalah, ada rasa sedih, dan semua itu bercampur aduk, membuatnya stres dan tertekan. “Pak, Anda tidak bisa menjawabnya. Itu artinya Anda tidak merasakan ketenangan ketika menyiksa istri Anda. Hentikan semuanya, Pak. Maafkan semua yang telah terjadi. Ceraikan Nyonya Eleana. Lepaskan dia sebelum Anda membunuh satu nyawa lagi,” lanjut Dimas berusaha membujuk Bryan agar mengakhiri dendam. Bryan menggeleng tegas, menyangkal ucapan sang sekretaris. “Aku tidak pernah membunuh! Itu semua terjadi tidak sengaja.” Dimas memupuk keberaniannya untuk terus menekan sang atasan agar menyadari bahwa apa yang ia lakukan selama ini sudah sangat salah dan keterlaluan. “Suka atau tidak suka, Anda sudah membunuh Pak Indra Hendrawan. Meskipun bukan dengan tangan Anda sendiri, tapi penyebab kematiannya adalah Anda. Semua dendam yang Anda simpan selama ini juga sudah membunuh bayi Anda sendiri. Itu nyawa, Pak. Nyawa seseorang yang tumbuh di rahim istri Anda. Itu keturunan Anda sendiri.” “Aku juga tidak menginginkan dia hamil. Kenapa pula dia tidak meminum obat kontrasepsinya dengan rutin? Dan, kenapa dia berbohong padaku mengatakan sudah meminumnya?” protes Bryan terlihat tak mau disalahkan. “Nyonya pastinya lupa hari dan tanggal karena merasa hidup di dalam neraka, Pak.” Mata Bryan membulat, menatap tajam pada sekretarisnya. “Kenapa kamu membela istriku, hah?” “Saya tidak membelanya. Saya hanya memikirkan Anda. Saya sudah menemani Anda sejak lama dan saya sungguh menginginkan kebahagiaan Anda. Putuskan hubungan dengan Nyonya Eleana! Bina hubungan baru dengan wanita lain dan hiduplah bahagia bersama dengan keturunan Anda nanti. Mama Anda juga pasti akan bersedih melihat Anda seperti itu terus. Dendamnya sudah Anda balaskan. Berbahagialah, Pak, dan hiduplah normal seperti orang pada umumnya.” “Jangan mengajariku!” bentak Brian pada sekretarisnya. Dimas menahan degub jantungnya yang mulai bertalu-talu akibat bentakan sang atasan. Namun dalam hati, ia berdoa supaya sang atasan terketuk pintu hatinya untuk mendengarkan semua yang ia katakan. Apa yang dilakukan oleh Bryan itu sudah berlebihan dan itu bukan hanya menyiksa Eleana, tetapi juga menyiksa batinnya sendiri. Dimas takut kalau sampai sang atasan membunuh istrinya sendiri. Hal itu akan membuat reputasinya buruk dan ia tidak menginginkan itu terjadi. “Tolong pertimbangkan lagi usul saya, Pak. Untuk saat ini, sebaiknya Anda menjauh dari istri Anda. Pikirkan pelan-pelan semua yang saya katakan. Jika Anda menjauhi istri Anda, pasti Anda tidak akan merasa emosi. Semakin Anda menemui istri Anda, semakin amarah Anda akan meledak-ledak. Cara terbaik untuk meredam emosi Anda dan membuat batin Anda tenang adalah menjauhinya.” “Tapi dia akan kabur dariku,” pungkas Bryan spontan. Entah kenapa di hati kecilnya ada rasa tak rela tidak berjumpa dengan sang istri. Dimas menggeleng pelan. “Nyonya tidak akan bisa kabur, Pak. Anda sudah tahu sendiri bagaimana ketatnya pengawasan Anda selama ini. Bila perlu, Anda tidak usah melihat CCTV yang ada di ponsel Anda. Serahkan saja semuanya pada saya. Saya yang akan memantau keberadaan istri Anda. Dia sendiri tidak akan kabur dari rumah.” Pria berpenampilan kelimis itu berusaha keras menyentuh perasaan Bryan yang paling dalam. “Sebaiknya Anda fokuskan pada pekerjaan dan menginap di apartemen untuk menenangkan pikiran Anda. Pertimbangkan lagi, Pak, dan dengarkan semua saran saya. Saya ingin melihat Anda bahagia, membina keluarga dengan wanita yang Anda cintai, memiliki anak, dan hidup normal seperti orang pada umumnya. Hentikan semua dendam Anda ini, Pak, karena semuanya sudah terbalaskan,” lanjut Dimas menambahkan. “Tapi aku tidak menginginkan dia hidup tenang, Dim. Karena itu aku tak mau melepaskannya.” Bryan mempertahankan egonya, tak mau menuruti masukan dari sekretarisnya. “Kehidupannya juga tidak akan baik-baik saja setelah Anda lepaskan, Pak. Dia akan menjadi gelandangan dan kehidupannya akan sangat menyedihkan. Itu sudah jauh lebih cukup sebagai pembalasan,” tandas Dimas lagi. Bryan akhirnya mematung, mencerna semua kata-kata sang sekretaris. Dalam hati kecilnya, ia tahu kalau semua yang dikatakan oleh Dimas itu benar. Ia memang tidak pernah merasa tenang. Batinnya selalu bergejolak, terutama ketika melihat wanita itu. Setiap kali ia melihatnya, emosinya membuncah. Apakah sebaiknya ia menuruti kata-kata Dimas untuk menjauh sementara waktu dari Eleana sehingga ia bisa berpikir jernih dan bisa mulai merencanakan masa depannya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN