Bab 11. Mendapat Keberuntungan

1007 Kata
“Bagaimana keadaan Anda hari ini, Nyonya? Apa sudah merasa segar?” Eleana tersenyum pada dokter Ferdi. Ia, sungguh merasa bahagia selama berada di rumah sakit. Bagaimana tidak, meski ia harus mengalami rasa sakit saat proses keguguran terjadi dan juga menahan rasa nyeri dalam masa pemulihan, tetapi setidaknya ia sungguh merasa tenang karena tidak bertemu dengan suami brengseknya itu. Tidak berjumpa dengan laki-laki itu adalah sebuah keberkahan baginya. "Saya baik-baik saja, Dokter. Namun, kalau boleh saya meminta, saya belum ingin pulang. Saya takut. Saya tidak ingin kembali mengalami penyiksaan," ujar Eleana memelas. Dokter Ferdi tersenyum, sungguh tak sabar ingin menyampaikan berita gembira yang ia baru saja dapat dari Bryan di mana laki-laki kejam itu menghubunginya dan mengatakan bahwa ia akan mengirim empat anak buah untuk menjemput Eleana pulang dan mengatakan ada dinas ke luar negeri selama satu bulan penuh. Itu artinya Eleana bisa mengatur semuanya sebaik-baiknya bersama dengan Reno untuk mempersiapkan diri keluar dari rumah itu. "Impian dan doa Anda selama ini terwujud, Nyonya." "Maksud Dokter? Kalaupun saya bisa melarikan diri, akan makan waktu setidaknya satu hingga dua bulan untuk mempersiapkan diri agar saya bisa benar-benar kabur dari neraka itu." "Anda tidak perlu menunggu selama itu, Nyonya. Sungguh Anda diberi keberkahan. Entah kenapa, suami Anda tiba-tiba menghubungi saya dan mengatakan bahwa dia tidak akan menjemput Anda pulang." "Apa maksud Dokter? Bagaimana mungkin dia mau melepaskan saya?" "Dia tidak melepaskan Anda, Nyonya. Tetapi dia mengatakan tidak akan menjemput Anda. Sebagai gantinya, dia mengirim anak buah saja untuk mengawal Anda pulang ke rumah. Dan, Pak Bryan bilang dia akan dinas ke luar negeri selama satu bulan penuh." "Benarkah, Dokter?" Mata Eleana berbinar-binar. Tak pernah ia sangka bahwa ia akan mendapatkan kebebasan selama satu bulan. Tidak bertemu dengan laki-laki itu, tidak mendapatkan penyiksaan selama satu bulan, adalah sebuah kebahagiaan baginya. "Itu benar, Nyonya. Entah apa yang terjadi pada Pak Bryan sehingga mau pergi ke luar negeri tanpa membawa Anda. Yang jelas, satu bulan itu bisa dimanfaatkan untuk mengatur kepergian Anda sebaik-baiknya." "Terima kasih banyak, Dokter. Terima kasih banyak sudah mau membantu saya." "Bukan hanya bantuan dari saya. Sebenarnya itu ada andil takdir juga sehingga tiba-tiba membuat suami Anda mendapatkan panggilan pekerjaan ke luar negeri dan waktunya cukup lama, yaitu 30 hari ke depan. Artinya rencana untuk kabur semakin mudah dilakukan. Ikuti saja semua yang diarahkan oleh Reno terkait pengumpulan bukti supaya sebelum suami Anda pulang, Anda bisa segera meninggalkan rumah itu." "Tapi bagaimana mungkin saya keluar dari sana? Pengawasannya benar-benar ketat, Dok." Eleana tiba-tiba merasa pesimis saat ingat sulitnya untuk pergi jika pengawasan sang suami padanya begitu hebat. "Ikuti saja apa yang dikatakan oleh Reno. Saya terus menghubunginya dan mengatakan situasi yang Anda hadapi. Dia bisa membantu Anda. Percayakan semuanya padanya." Ferdi menekankan. Eleana menarik napas lega lalu mengangguk pelan sambil tersenyum penuh syukur. "Baiklah. Terima kasih banyak, Dokter." "Hari ini Anda boleh pulang, Nyonya. Jangan khawatir, tidak akan terjadi apa-apa pada Anda. Anda bisa bebas selama 30 hari, tidak mendapatkan kekejaman dari suami Anda. Malah Anda bisa mempersiapkan diri sebaik-baiknya untuk meninggalkan kediaman suami Anda dengan sebuah senjata untuk menyerangnya agar dia tidak akan mengganggu masa depan Anda lagi." Eleana tersenyum senang. Tak masalah baginya pulang hari ini juga kalau semua yang dikatakan oleh Dokter tadi itu benar adanya. "Kalau begitu, bersiap-siaplah. Saya akan melepaskan infus Anda lalu meresepkan beberapa obat yang harus Anda minum. Kemudian saya sendiri akan mengantar Anda ke depan, di mana anak buah suami Anda sudah menunggu di sana." "Baik, Dokter." Dokter Ferdi segera melepaskan infus di tangan Eleana lalu kemudian mengurus segala sesuatunya. Setelahnya, ia mengantar Eleana ke parkiran, di mana empat orang laki-laki besar sudah menantinya. Ferdi tak lupa mengingatkan Eleana sebelum mengantarnya masuk ke dalam mobil. "Ingat semua yang saya katakan, ya, Nyonya. Minum obatnya dan lakukan semua seperti yang saya sarankan," ujar Ferdi sambil memberi kode pada Eleana untuk melakukan apa saja yang ia katakan, termasuk menghubungi Reno setibanya di rumah. "Makasih banyak, Dokter. Kalau begitu, saya permisi." Dua orang pria bertubuh besar membantu Eleana masuk ke dalam mobil, kemudian dua orang lainnya segera masuk dalam mobil lalu mengemudikannya menuju kediaman Bryan. Di perjalanan, tiba-tiba suara ponsel dari salah satu anak buah suaminya berdering. Sesaat kemudian, laki-laki besar yang sedang berada di sampingnya menyerahkan ponselnya pada Eleana. "Mohon diterima, Nyonya! Ini dari Bos," ucap laki-laki bertubuh tegap tersebut. Dengan gemetar, Eleana meraih ponsel dari laki-laki itu, kemudian mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh suaminya. "Aku akan pergi ke luar negeri. Kamu sudah mengetahui beritanya dari Dokter Ferdi, kan?" "Iya, aku sudah mendengarnya." "Jangan berpikir untuk kabur. Meskipun selama 30 hari ke depan aku tidak pulang, bukan berarti kamu bisa bebas berada di rumahku dan melakukan apa pun yang kamu mau. Aku akan terus memantau kamu. Camkan itu!" Eleana menunjukkan sikap kooperatif dengan menyetujui semua perintah sang suami agar rencana ke luar negeri tidak Bryan urungkan. “Iya, aku tak akan macam-macam. Kalau boleh tahu, kamu mau pergi ke negara mana?" "Kenapa kamu mau tahu?" Eleana menelan salivanya lalu menjelaskan alasan ia bertanya. "Aku hanya bertanya saja." "Aku akan pergi ke Jerman. Ada urusan bisnis di sana." Bryan menegaskan. "Iya ...." Eleana tidak bisa menanggapi apa pun lagi. Tujuannya menanyakan ke negara mana Bryan akan pergi adalah karena ia harus mencari tahu selisih waktu antara negara yang dikunjungi Bryan dengan negara ini, sehingga ia bisa tahu jam-jam istirahat Bryan dan bisa melakukan apa saja yang akan diperintahkan oleh Reno nanti. "Ingat apa kata-kataku tadi. Jangan berpikir untuk kabur. Pengawasan di rumah akan aku gandakan menjadi dua kali lipat. Tidak ada celah untukmu kabur dari rumahku." "Aku tidak akan kabur," sahut Eleana menahan semua rasa sakit di hatinya. "Bagus, itu yang harus kamu lakukan. Ingat, aku akan terus memata-mataimu untuk memantau gerak-gerikmu selama di rumah. Jangan pernah membuat kekacauan!" Telepon terputus, membuat hati Eleana begitu lega. Tidak masalah diawasi dari kejauhan, asalkan tidak mengalami penyiksaan fisik lagi selama 30 hari ke depan. Wanita cantik itu menatap ke arah jendela, memegang dadanya yang terasa begitu lega, sambil berdoa dalam hatinya. "Terima kasih, Tuhan. Berikan aku kekuatan untuk segera merealisasikan kepergianku dari laki-laki b******k ini."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN