“Halo, ini benar dengan Pak Reno? Saya Eleana, pasien dr. Ferdi.”
Dengan perasaan takut dan sedikit cemas, Eleana mencoba menghubungi kenalan dr. Ferdi setelah memperkirakan jam tidur suaminya, yaitu sekitar dini hari waktu Jerman. Ia tahu tak mungkin suaminya akan memantaunya sepagi itu.
Eleana memberanikan diri menghubungi Reno dari kamar mandi dan akan segera meminta pengarahan darinya. Harapannya, sebelum suaminya pulang ke tanah air, ia sudah bisa kabur dari istana yang memenjarakannya tersebut.
“Ya, aku Reno. Jangan terlalu formal padaku. Panggil saja aku Reno.”
Suara berat di seberang sana membuat Eleana lega. Suara penyelamatnya itu terdengar sangat merdu di telinga. Seketika rasa aman mulai ia rasakan dan tak ragu, ia menuruti kata-kata laki-laki itu.
“Baik, Reno, walaupun aku merasa tak sopan memanggilmu begitu.”
“Nggak kok, kamu jangan merasa begitu. Kita akan terlibat satu sama lain dan aku tak mau terlalu kaku berkomunikasi denganmu.”
Eleana merasa terharu. “Makasih banyak, Reno. Seperti yang kamu tahu kalau aku dianiaya suamiku selama kurang lebih dua tahun. Aku sudah tak sanggup lagi bertahan dan berulang kali mencoba mengakhiri hidupku, tapi tak pernah berhasil.”
Eleana lalu mulai menceritakan awal mula kenapa ia disiksa dan dengan deraian air mata, ia juga memberitahukan soal papanya yang dibunuh Bryan pelan-pelan sehingga mendapatkan serangan jantung.
“Suami kamu benar-benar kejam.”
Suara Reno terdengar sangat geram. Itu membuat Eleana mendapatkan sebuah kekuatan yang membuatnya mulai bersemangat untuk bertahan hidup.
“Sekarang bagaimana keadaanmu, apa kamu sudah baikan? Apa kamu sudah cukup kuat?”
Eleana menjelaskan kondisinya yang masih cukup lemah saat ini. Namun, semangatnya untuk kabur dari neraka laknat ini, begitu menjadi-jadi.
“Aku belum terlalu fit, Reno. Keguguran yang aku alami, membuat tubuhku lemah. Namun, aku bahagia kehilangan anak dalam kandunganku karena aku juga tak sanggup memiliki anak dari iblis seperti Bryan. Tolong, jangan hiraukan kesehatan dan keadaanku, Reno. Bantu saja agar aku bisa keluar dari sini secepatnya!”
Eleana mengatakan keinginannya dan berharap Reno bisa membawanya keluar dari sini. Entah bagaimana caranya, Eleana berusaha berpikir positif kalau malaikat berwujud manusia ini pasti bisa menyelamatkannya dari cengkeraman iblis berwujud manusia, yaitu suaminya.
“Tentu, aku sudah paham situasimu. Sekarang dengarkan aku baik-baik dan ikuti semua arahanku.”
Dengan antusias, wanita cantik bertubuh mungil itu mendengarkan semua perkataan dan saran dari sang penyelamat dan harapan besar membuat batinnya lega.
“Jadi, yang harus kamu lakukan adalah meminta tolong pada Ina untuk mencari celah di taman belakang. Pasti ada akses untuk kabur dari sana meskipun kamu bilang taman belakang rumah suamimu itu ditumbuhi pepohonan tinggi sebagai pagar pembatas. Namun, aku yakin pasti ada celah di sana. Kalau pun tidak ada, celah itu bisa aku usahakan.”
“Maksud kamu?” Eleana tak mengerti. Bagaimana mungkin Reno bisa membuat celah itu.
“Turuti saja kata-kataku. Coba minta ART-mu untuk mencari celah kabur lewat taman belakang. Kamu bilang Ina sangat menyayangimu, kan?”
“Iya, dia sejak awal ingin membantuku selamat dari penyiksaan, tapi ia tak berdaya. Jika aku melakukan kesalahan, dia juga akan dihukum oleh j*****m itu hingga tangan, betis, dan punggungnya lebam.”
Lagi, Eleana mendengar suara Reno menggeram kesal. “Suami kamu bukan manusia. Aku tak akan membuang-buang waktu. Secepatnya kamu harus kubawa kabur dari sana. Pastikan juga meminta ART kamu untuk mengelabui para pengawal dan menutup CCTV di ruang kerja suami kamu agar kamu bisa mencuri buku nikah kalian dan bisa menyalin rekaman CCTV saat kamu dianiaya.”
“Tapi dia punya rekaman itu di ponselnya, Reno. Aku takut dia menyebar video itu.”
Rasa takut kembali menghantui Eleana, terutama saat ia mengingat betapa jahat dan kejamnya sang suami menunjukkan videonya di kamar ini sedang disiksa dengan keji pada papanya hingga terkena serangan jantung. Ia juga takut, laki-laki keji itu berbuat nekat menyebarkan videonya saat mengetahui dirinya telah berhasil melarikan diri.
“Jangan khawatirkan apa pun! Aku akan menyuruh seseorang untuk merampas ponselnya dan menghapus semua data tentangmu. Aku juga akan menyelinapkan seseorang untuk masuk ke perusahaannya dan melenyapkan semua rekaman aib kamu.”
Eleana tak bisa menahan laju air matanya. Betapa besarnya pengorbanan lelaki ini untuk menyelamatkannya. Berapa besar biaya yang akan Reno keluarkan untuknya dan betapa besar risiko yang pria itu ambil untuk melepaskannya dari Bryan.
Salah sedikit saja karir, bahkan nyawa pria itu bisa melayang karena menentang Bryan–seorang penguasa bisnis di kotanya tersebut.
“Aku tak tahu harus bagaimana berterima kasih padamu, Reno. Apa kamu sudah pikirkan risiko yang akan kamu tanggung menyelamatkan tawanan seorang penguasa sepertiku? Aku tak punya apa-apa untuk membalasmu.”
“Aku tak meminta balasan apa pun, kamu jangan khawatir. Aku hanya tak suka dengan penindasan. Memang suami kamu memiliki segalanya, tapi dengan kekejamannya mengurungmu, menyiksamu, bahkan membunuh papamu secara tak langsung, membuatku akan memiliki sesuatu untuk membungkamnya. Dia tak akan berani denganku jika aku memegang semua kelemahannya.”
“Namun, itu artinya aibku akan kamu simpan sebagai senjata, begitukah, Reno?”
Bukannya Eleana tak senang dengan ide Reno, tapi membiarkan pria itu memegang video berisi penyiksaannya, tentu akan mempermalukannya. Ia bahkan tak mau videonya itu ada. Ia ingin memusnahkannya selamanya karena itu membuat hatinya perih.
“Kamu jangan khawatir, El. Cut saja videonya sesaat sebelum pria jahat itu melakukan hal keji padamu. Aku hanya butuh itu untuk mengancamnya. Lagi pula, aku punya hasil visum kamu saat kamu keguguran. Itu sudah menjelaskan dan membuktikan terjadi penganiayaan padamu. Apa kamu lupa kalau dr. Ferdi melakukan visum padamu sesaat setelah kamu mendapatkan penyiksaan dan kehilangan bayimu karena suamimu itu.”
Eleana bernapas lega mendengar penuturan Reno. Lalu, ia mengonfirmasi secara detail tentang rencana menyalin CCTV yang akan segera ia lakukan dalam waktu dekat.
“Apa itu artinya, aku harus memotong semua video yang kusalin nanti agar aibku aman?”
“Potong saja lalu hapus file aslinya. Video itu hanya akan digunakan untuk menggugat cerai suamimu. Aku akan mempergunakan video itu agar dia tidak berani mengancam karirku. Biarlah suamimu menganggap aku memiliki semua file penyiksaan yang ia lakukan padamu, berikut bukti visum kamu. Aku malah berencana ingin membantumu melaporkan kasus KDRT yang kamu alami ke polisi agar dia bisa masuk penjara. Dengan semua bukti itu, dia akan mendekam lama di penjara.”
Eleana tak sadar menggelengkan kepalanya. Ia takut berurusan dengan polisi. Ia hanya ingin kabur dan hidup tenang, tak akan tersentuh oleh kekejaman suaminya lagi.
“Aku hanya ingin hidup tenang, jauh dari lelaki itu, Reno. Aku tak mau berurusan dengan polisi.”
Terdengar helaan napas dari seberang sana. Eleana tahu, Reno pasti kecewa pada keputusannya. Namun, sungguh ia hanya ingin hidup tenang terlepas dari lelaki itu.
“Baiklah kalau itu yang kamu mau. Namun, jika setelah perceraian, dia kembali berbuat jahat padamu, maka aku tak bisa lagi tinggal diam. Aku sendiri yang akan menjebloskannya ke penjara.”