“Apa yang sedang dia lakukan sekarang?”
Bryan menimbang-nimbang untuk melihat rekaman CCTV yang ada di ponselnya yang terhubung langsung ke rumahnya. Sungguh, ia ingin mengetahui bagaimana keadaan istrinya di rumah. Ia benar-benar melakukan hal ekstrem yang tidak pernah ia pikirkan akan dilakukan, di mana hati kecilnya menuruti kata-kata Dimas–sang sekretaris, untuk menjauhi Eleana sementara waktu supaya bisa memupus dendam di hatinya.
Bahkan, nanti lama-lama ia bisa melepaskan Eleana dan hidup bahagia tanpa dibayangi oleh dendam lagi. Namun, begitu sulit untuk melakukan saran dari Dimas, karena sejak ia berangkat ke Jerman, ia terus-terusan memikirkan istrinya. Setiap kali ia berniat untuk melihat CCTV di layar ponselnya, Dimas yang ikut menemaninya untuk berbisnis di kota Jerman–kota kelahiran papanya, terus melarangnya.
Kini, ia sudah berada di kamar hotel, tetapi pikiran tentang istrinya masih terputar dan terus terngiang-ngiang. Ucapan dan saran dari Dimas yang terus memintanya untuk tidak memantau apa yang dilakukan istrinya membuatnya merasa resah.
"Benar, tanpa harus memperhatikannya, pengamanan di rumah sudah kuperketat dua kali lipat. Tidak mungkin akan ada celah sedikit pun baginya untuk melarikan diri dari rumahku. Sebaiknya aku kembali fokus pada bisnisku," gumamnya lagi.
Namun, semua keinginan itu sama sekali tidak bisa ia realisasikan. Pada akhirnya, tangannya kembali meraih ponsel lalu tanpa sadar mengakses aplikasi CCTV yang ada di ponselnya. Sedetik kemudian, ia mendapati sang istri sedang tertidur di kamar, meringkuk seperti biasanya. Bahkan tanpa kehadirannya, wanita itu tetap tertidur dalam posisi ketakutan.
Tiba-tiba, ia merasakan rasa sakit, nyeri, serta dendam kembali di dadanya. Namun, saat melihat wanita itu meringkuk dengan bekas-bekas luka di tangan serta tubuhnya di mana saat ini sang istri tengah mengenakan gaun tidur yang cukup terbuka, memperlihatkan semua tanda kekejamannya selama kurang lebih dua tahun—hatinya terasa perih.
"Apa yang kulakukan ini sudah cukup? Apakah saatnya aku harus melepaskan dendam ini, melepaskan dia hidup seperti di luar sana?"
Pertanyaan itu terlintas di dalam hatinya. Apakah ia sanggup melepaskan wanita ini? Pikirannya mulai berkelana, membayangkan wanita itu hidup bebas di luar sana, tertawa ceria dan bahagia tanpa dirinya. Namun, tiba-tiba ia merasa tidak rela melihat wanita itu bahagia. Kenapa itu terasa menyakitkan.
"Aku tidak mau memikirkannya sekarang, terlalu memusingkan," gumamnya lagi.
Akhirnya ia membalik layar ponselnya, menutupnya lalu naik ke tempat tidur. Dengan sekuat tenaga, pria blasteran Jerman itu memejamkan matanya. Namun, bayang-bayang istrinya yang menangis, meraung, dan menjerit karena penyiksaannya terbayang di pelupuk mata. Bukan perasaan senang yang ia rasakan saat ini, melainkan perasaan iba dan sedikit rasa bersalah.
"Ada apa denganku? Bukankah dia pantas mendapatkan itu?"
Bryan akhirnya memukul kepalanya, berusaha mengusir pikiran-pikiran aneh yang mulai menyelinap dan mengganggu ketenangannya.
"Aku tidak boleh begini. Aku tidak boleh kalah. Aku tidak boleh memikirkannya lagi. Dia harus kubuang dari hidupku. Aku harus menata masa depan, mencari pasangan hidup, mendapatkan keturunan, dan berbahagia tanpa sedikit pun menoleh ke masa lalu," ucapnya dengan tegas. Lalu ia kembali memejamkan mata, berharap segera terlelap ke alam mimpi.
***
“Nyonya, saya sudah mendapatkan celah di mana Anda bisa kabur dari taman belakang.”
Ina segera menerobos masuk ke dalam kamar mandi, pura-pura membawakan handuk untuk Eleana lalu dia mulai bicara tentang penemuannya.
Sudah dua minggu penuh ART bertubuh kurus itu berusaha mencari celah di taman belakang yang begitu luas untuk mencari jalan supaya bisa melarikan diri. Dengan semringah, Eleana, yang baru saja ingin membuka gaun tidurnya, bersiap akan masuk dalam bathtube, tersenyum pada Ina lalu bertanya.
“Benarkah? Bukannya taman belakang itu begitu luas dan pepohonan yang tumbuh begitu tinggi sebagai pagar itu begitu rapat? Bagaimana mungkin Mbak bisa menemukan sebuah celah untuk melarikan diri dari sana? Aku malah berpikir ingin menghubungi Reno untuk membantu membuat jalan agar kita bisa kabur dari sini.”
“Tidak perlu, Nyonya. Saya sudah menemukannya dan itu memang benar-benar tidak akan terduga,” jawab Ina dengan mata berbinar-binar.
“Maksud Mbak?” tanya Eleana penasaran.
Ina menjelaskan situasi yang ada di taman belakang, di mana memang tidak disediakan satu orang pengawal pun di sana. Bryan pasti berpikiran tidak akan ada jalan untuk kabur karena pepohonan yang ditanam untuk menjadi pembatas pagar antara tanah miliknya dengan tanah tetangga itu tumbuh rapat, tinggi, dan kokoh.
Bryan pasti berpikir Eleana adalah seorang wanita lemah yang tidak akan mungkin bisa menebang pohon untuk kabur dari sana. Karena itulah pria blasteran Jerman yang memiliki sifat kejam itu tidak menempatkan para bodyguard di sana. Bodyguard hanya ditempatkan di depan dan di samping rumah.
Ketika Eleana berjalan-jalan ke belakang pura-pura ingin melihat pemandangan untuk merelakskan pikiran dan bermain di pinggiran kolam ikan, tak ada seorang pun yang mengikutinya kecuali Ina. Tak disangka, Ina mendapatkan celah di sana untuk melarikan diri.
“Sungguh ada celah di antara pepohonan itu, Mbak?” Eleana kembali mengonfirmasi. Wanita cantik itu tidak bisa mengukir rasa bahagianya.
“Iya, Nyonya. Ada sebuah celah di mana hanya muat tubuh kita saja di antara pepohonan tinggi itu agar kita bisa keluar? Saya sudah menelusuri jalan itu. Memang akan sangat menjijikkan karena kita harus melalui sebuah parit besar, Nyonya,” jelas Ina penuh semangat.
“Kok, bisa?” tanya Eleana ingin tahu lebih jauh.
“Di celah pepohonan tersebut ada semak-semak yang menutupi pohon satu ke pohon lainnya. Namun, ada dua pohon yang sedikit renggang, di mana kita bisa menyelinap ke sana. Setelah saya coba, celah itu menuju ke tanah tetangga. Perjalanannya agak cukup panjang karena tanah tetangga itu juga luas seperti tanah milik Tuan Bryan. Kita harus menelusuri pinggiran parit tersebut hingga bisa sampai ke jalan utama,” jelas Ina panjang lebar.
“Aku tidak peduli, meskipun aku harus melewati parit ataupun apa pun. Yang penting, aku bisa keluar dari rumah ini,” ucap Eleana tegas.
“Bisa, Nyonya. Kita bisa kabur dari sini. Hanya tinggal sedikit lagi masalah, yaitu ruang kerja Tuan Bryan yang selalu dijaga oleh seorang bodyguard,” ucap Ina terlihat khawatir.
“Itu yang kupikirkan. Bagaimana caranya agar kita bisa masuk ke ruang kerja itu?” Eleana juga merasa cemas, takut tak bisa mengambil bukti rekaman CCTV, berikut surat nikah sebelum meninggalkan kediaman suami jahatnya itu.
“Yang penting, kita sudah menemukan jalan untuk melarikan diri. Nyonya segera hubungi Tuan Reno lalu katakan tentang penemuan yang baru saja saya ceritakan.”
“Aku akan menghubunginya nanti. Masalahnya, kita belum bisa kabur sebelum aku menghapus semua rekaman CCTV yang ada di ruangan itu. Aku juga harus menyalin beberapa sebagai bukti kuat untuk bercerai dari laki-laki kejam itu,” jawab Eleana menjelaskan.
Ina merenung sejenak sambil memegang pelipisnya, tampak tengah berpikir serius. Tak lama kemudian, ia tersenyum pada Eleana.
“Saya akan melakukan hal gila, Nyonya,” ucap Ina.
“Maksud Mbak?” tanya Eleana, sontak mengernyit heran.
“Saya akan membuat bodyguard yang menjaga ruang kerja Tuan mengalami sakit perut.”
“Bagaimana caranya?” tanya Eleana semakin penasaran.
“Para bodyguard itu biasanya akan menyantap aneka snack yang mereka beli dari luar, karena saya tidak diperintahkan oleh Tuan untuk memasak apa pun untuk mereka. Mau tidak mau, mereka memesan makanan dari luar. Kebetulan, saya kenal dengan orang yang menjual makanan itu, dan saya juga sudah memperhatikan makanan apa saja yang sangat disukai oleh laki-laki yang berjaga di depan ruang kerja Tuan Bryan,” jelas Ina menuturkan.
“Benarkah Mbak memperhatikannya sampai sejauh itu?” tanya Eleana terkejut.
“Ya, Nyonya. Saya memperhatikan apa saja yang dilakukan oleh para bodyguard, termasuk apa yang mereka makan, demi membantu Nyonya,” jawab Ina sambil tersenyum.
“Terima kasih banyak, Mbak Ina. Aku tidak pernah menyangka Mbak mau membantuku,” kata Eleana dengan mata berkaca-kaca.
“Saya akan ikut ke mana pun Nyonya pergi. Saya sudah terbiasa melayani Nyonya dan saya juga tidak ingin berada di rumah Tuan Bryan lagi. Kalau akhirnya apa pun yang saya lakukan salah, saya juga akan mendapatkan hukuman. Saya tidak mau mendapatkan kekerasan lagi,” jawab Ina dengan tegas.
Eleana menepuk pundak ART-nya penuh haru. “Terima kasih banyak sudah setia mendampingiku.”
“Saya yang harusnya berterima kasih, Nyonya, karena Nyonya mau mengajak saya kabur dari sini. Kalau begitu, bagaimana kalau kita merencanakan pembobolan ke dalam ruang kerja Tuan Bryan sore nanti?”
“Kamu yakin bisa melakukannya?” tanya Eleana memastikan.
“Saya akan memasukkan obat pencahar ke dalam makanan yang akan diantar oleh kurir makanan. Saya kenal kurir itu. Saya hanya akan memasukkan obat itu ke makanan favorit bodyguard yang berjaga di depan ruang kerja Tuan Bryan. Jika ia mengalami sakit perut, Nyonya memiliki kesempatan untuk menyalin semua CCTV dan memusnahkan semuanya,” jelas Ina cepat.
“Tapi bagaimana jika mereka curiga?” tanya Eleana khawatir.
“Tidak akan ada yang curiga, Nyonya, karena bodyguard yang lain tidak akan mengalami sakit perut seperti yang ia rasakan. Jadi, tidak ada alasan untuk menyalahkan kurir itu. Nyonya hanya memiliki waktu sekitar 15 menit untuk melakukan aksi ini. Karena saya perkirakan dia akan mengalami mulas dalam waktu itu,” pungkas Ina yakin.
“Oke, dalam waktu 20 menit saja, aku bisa melakukannya. Aku hanya akan mengambil rekaman yang benar-benar penting dan tidak mengambil semua CCTV. Setelahnya, aku akan menghapus semua rekaman lama,” jawabku mantap.
“Baiklah, Nyonya. Saya keluar dulu. Siapkan diri dan mental Anda untuk melakukan aksi besar ini. Setelah CCTV, pengawasan Anda hancurkan, kita hanya memiliki beberapa hari untuk mengatur kepergian kita dan meninggalkan rumah ini dalam keadaan selamat sebelum Tuan Bryan mengetahui Nyonya menyelinap ke ruangannya.”
Eleana mengangguk. “Setelah aku berhasil mengakses video itu dan mengambil surat nikah yang ada di dalam ruang kerja Bryan, kita harus segera kabur. Aku akan segera menghubungi Reno untuk menyiapkan kendaraan untuk menjemput kita di ujung jalan pintas yang akan kita lewati nanti. Aku tidak akan pernah melupakan kebaikan Mbak yang telah membantuku,” ucap Eleana penuh haru.
Ina menatap Eleana dengan sorot penuh harap lalu menyuarakan keinginannya. “Tidak perlu membalas kebaikan saya, Nyonya. Cukup bawa saya ke mana pun Nyonya pergi karena saya ingin selalu bekerja dengan Nyonya."