“Nyonya, bersiaplah. Sebentar lagi bodyguard itu akan mengalami mulas.”
Ina mengintip ke dalam kamar Eleana sambil terus mengawasi bodyguard bertubuh tinggi dan kekar yang saat ini mulai memegangi perutnya. Pria itu baru saja menyantap camilan sore yang diantarkan oleh rekan-rekannya. Kue sus favorit laki-laki itu sudah dibubuhkan obat pencahar atas permintaan Ina pada sang kurir yang biasa mengantarkan makanan setiap pagi jam 10.00 dan jam 03.00 sore.
Sebentar lagi laki-laki itu pasti akan berlarian ke toilet karena sudah tidak sanggup lagi menahan rasa mulas di perutnya. Eleana mengangguk, bersiap berlari ke ruangan kerja Bryan setelah pengawal yang ditugaskan untuk menjaga pintu ruang kerja suaminya tersebut, berlari ke toilet untuk menuntaskan hajatnya.
“Sekarang, Nyonya. Segera manfaatkan waktu sebaik-baiknya. Saya akan menjaga di depan pintu toilet, mencoba untuk menghalangi laki-laki itu kembali ke depan ruang kerja. Jika dia keluar, saya akan menanyakan keadaannya dan akan berusaha memberinya obat untuk meredakan mulas yang ia rasakan. Setidaknya itu akan memberikan waktu untuk Nyonya melaksanakan semua rencana.”
“Terima kasih, Mbak Ina,” ucap Eleana menoleh pada Ina sekilas lalu mulai berlari ke ruang kerja sang suami.
“Semoga berhasil, Nyonya,” seru Ina.
Gadis bertubuh kurus itu memastikan sang nyonya masuk ke ruangan Bryan terlebih dahulu sebelum menyusul ke arah toilet untuk menghalangi pengawal tersebut agar tidak kembali lebih cepat ke poskonya, yaitu di depan pintu ruang kerja Bryan–sang majikan.
Sementara itu, Eleana tidak membuang waktu. Begitu ia berhasil masuk ke ruang kerja suaminya, ia langsung mengunci pintu. Ia melihat ada sebuah layar besar di mana semua penjuru rumah terlihat jelas dari sana. Tanpa buang waktu, Eleana segera mengakses laptop yang ada di sana, lalu mulai menelusuri semua rekaman CCTV dua tahun ke belakang. Dengan menahan rasa sakit di hatinya, ia mulai menyalin beberapa video yang dirasanya bisa menjadi bahan pertimbangan hakim untuk mengetuk palu perceraian.
Ia sempat melihat dirinya sendiri saat disiksa suaminya. Sungguh pemandangan itu begitu menyakitkan. Harga dirinya tercabik-cabik karenanya. Namun, Eleana menahan diri agar tidak menangis dan terus berkonsentrasi untuk menyalin video yang ia butuhkan. Lalu, setelah semuanya dirasa cukup, tombol hapus pun ditekan. Ia tidak peduli berapa lama proses penghapusan itu akan berlangsung. Yang jelas, ia harus segera mencari buku nikahnya dan milik Bryan, lalu membawanya keluar dari ruangan tersebut dengan selamat.
“Di mana dia menyimpannya?” gumam Eleana.
Ia berusaha mencari buku nikah yang ia butuhkan untuk mengajukan gugatan cerai. Wanita cantik membuka semua laci dan akhirnya menemukan dua buah buku nikah tepat di laci paling bawah meja kerja milik suaminya.
“Akhirnya, aku menemukannya.”
Rasa bahagia tidak bisa ia ungkapkan ketika melihat buku nikah yang saat ini sudah berada di tangannya. Ia meraih flashdisk di atas meja dan membiarkan proses penghapusan seluruh video yang ada di rumah itu berjalan sejak ia menikah dengan pria tersebut. Kemudian, buru-buru ia membuka pintu.
Syukurnya, pengawal itu sepertinya masih sibuk di toilet. Ia segera berlari ke kamarnya dengan napas yang begitu menderu. Rasa syukur tidak bisa diutarakan. Eleana yakin Bryan tidak akan mungkin melihatnya. Perbedaan waktu yang cukup signifikan membuat laki-laki itu tidak akan mungkin menyadari aksinya.
“Aku harus segera menelepon Reno sekarang juga, memintanya untuk menyiapkan kendaraan untuk membawaku pergi dari sini bersama Mbak Ina,” gumamnya.
Tanpa banyak suara, Eleana meraih ponsel yang diberikan oleh dokter Ferdi padanya, kemudian mulai menghubungi Reno. Sebelumnya, ia menyimpan baik-baik buku serta flashdisk ke dalam tasnya. Bahkan, ia sudah menyusun koper berisi pakaian miliknya sehingga ketika Reno mengatakan siap untuk menjemputnya, ia sudah siap berangkat. Tak lama, panggilan pada Reno tersambung.
“Halo, Eleana. Bagaimana kabarmu?”
“Aku sudah berhasil menghapus semua video yang ada di rumah ini, terhitung sejak aku tinggal di sini. Aku juga sudah mendapatkan beberapa rekaman yang kurasa cukup untuk membuktikan kalau Bryan melakukan penyiksaan panjang padaku. Aku sengaja mengambil video rekaman saat aku disiksa di awal pertemuan, pertengahan, hingga hari terakhir dia menganiaya aku.”
“Bagus. Buku nikahnya?” tanya Reno.
“Aku juga sudah mendapatkannya.” Eleana menceritakan semuanya dengan perasaan lega.
“Bagaimana dengan celah untuk kamu melarikan diri? Apakah ada?” tanya Reno lagi.
“Ada. Aku belum sempat menghubungimu tadi pagi. Mbak Ina menemukan celah untuk melarikan diri di taman belakang. Di sana ada dua pepohonan yang cukup renggang sehingga kami berdua bisa melalui celah itu lalu menelusuri parit yang akan tembus ke jalan utama.”
“Bagus. Bisa berikan aku nomor Ina?”
Eleana mengernyit heran. Kenapa Reno meminta nomor ART-nya. Bukankah semua yang disampaikan oleh Ina sudah ia sampaikan semuanya tanpa ada yang ia lebihkan.
“Untuk apa, Reno?” tanya Eleana.
“Aku harus memintanya untuk kembali menelusuri celah di taman belakang. Setelah sampai di jalan utama, aku ingin dia mengaktifkan GPS-nya sehingga aku mengetahui lokasi tempat di mana aku bisa menjemput kalian.”
Eleana akhirnya mengerti dan langsung menyetujui permintaan Reno. Ia langsung mengirim nomor ART-nya pada Reno.
“Aku baru saja mengirim nomor Mbak Ina ke nomormu.”
“Oke, bersiaplah. Aku akan mempersiapkan kendaraan besok, selambatnya lusa. Mintalah Ina untuk menyiapkan kopernya juga dan letakkan di taman belakang.”
“Baik,” sahut Eleana penuh semangat.
“Oh, ya, atur waktu kepergian kamu. Sesuaikan dengan jam tidur Bryan. Dengan begitu, dia tidak akan mengetahui dan tidak sempat melihat rekaman CCTV saat kalian pergi,” tambah Reno lagi.
“Aku akan memberitahumu jam berapa tepatnya aku akan pergi dari sini. Sebelumnya, terima kasih banyak, Reno. Kamu adalah malaikat penyelamatku. Aku tak akan melupakan kebaikanmu.”
“Tidak usah mengucapkan terima kasih. Berjuanglah untuk menjadi wanita mandiri. Aku akan membantumu sehingga ketika mantan suamimu bertemu lagi denganmu, dia tidak bisa melakukan apa-apa. Kekuatan uang yang kamu miliki serta bukti-bukti yang kamu simpan akan membuatnya tidak berkutik, sehingga dia tidak akan pernah bisa mengancam kehidupanmu di masa depan lagi. Semangat, Eleana.”
Semangat Eleana seketika bangkit ketika mendapatkan motivasi dari malaikat penolongnya. Ia bertekad menjadi wanita tangguh mulai detik itu juga.
“Iya, Reno. Aku pastikan aku jadi wanita yang sangat mandiri dan tidak akan pernah bisa disakiti siapa pun lagi.”