“Apa kamu sudah siap meninggalkan neraka itu, El?”
Pertanyaan itu seperti angin segar di tengah sesaknya kehidupan Eleana. Seolah dunia yang selama ini menjeratnya dengan rantai tak kasat mata kini memberikan sedikit celah kebebasan. Pagi itu, matahari bersinar cerah, tetapi suasana di dalam rumah megah yang disebutnya "neraka" itu terasa dingin dan menyesakkan. Dinding-dinding besar bercat putih itu berdiri kokoh, tetapi terasa seperti penjara yang membungkam semua jeritannya selama dua tahun terakhir.
Rumah mewah itu dulunya ia masuki dengan penuh harapan. Dua tahun lalu, ia berdiri di ruang tamu yang megah dengan lantai marmer berkilauan, tersenyum sambil menggenggam tangan Bryan–pria yang ia pikir akan menjadi pelindung sekaligus pahlawan hidupnya.
Namun, perlahan semua berubah menjadi mimpi buruk. Setiap sudut rumah yang dulu terasa indah kini dipenuhi kenangan pahit. Kamar tidur, yang seharusnya menjadi tempat beristirahat, berubah menjadi arena penyiksaan fisik dan mental. Hari ini adalah hari pembebasannya. Dengan tekad bulat, ia bersiap untuk meninggalkan semua luka dan trauma di balik pintu besar rumah itu.
“Aku sudah siap meninggalkan neraka ini, Reno,” jawab Eleana dengan penuh keyakinan.
Dia baru saja selesai mandi dan sedang bersiap meninggalkan kediaman suaminya hari ini juga. Reno–sang penyelamat sudah menyediakan seorang sopir di ujung jalan pintasan, dan ia telah memerintahkan Ina–pembantunya yang setia, untuk memindahkan barang-barangnya ke dalam mobil.
Yang perlu Eleana lakukan hanyalah menunggu Ina yang akan datang menjemput, lalu mereka akan pergi bersama-sama meninggalkan tempat mengerikan itu selama-lamanya.
“Aku hanya perlu menunggu Mbak Ina menjemputku. Terima kasih sudah mengusahakan semua ini secepat mungkin,” ujar Eleana dengan suara pelan.
“Jangan ucapkan terima kasih. Sudah kubilang, kamu tidak perlu merasa tidak enak padaku,” jawab Reno di seberang telepon.
“Tapi kamu sudah menghabiskan banyak waktu dan uang untukku, Reno. Aku sungguh berhutang budi padamu,” balas Eleana dengan nada penuh terima kasih.
Saat ini, Eleana bahkan belum tahu apa yang bisa ia lakukan untuk mencari uang. Dokter Ferdi pernah berkata kalau Reno tak akan memperkerjakannya di perusahaan miliknya karena itu pasti akan mengancam jiwanya. Perusahaan milik Reno terbilang cukup besar dan sewaktu-waktu pasti akan terhubung dengan Bryan.
Lantas, bagaimana caranya bisa menghasilkan uang? Ia ingin bertanya lebih jauh pada Reno. Namun, lelaki itu belum mau membahas detail soal itu. Pria itu hanya berfokus pada rencana untuk menyelamatkannya saja. Dan entah kenapa, hari ini tiba-tiba Eleana kepikiran soal balas budi yang ia tak tahu bagaimana caranya.
Reno terkekeh kecil. “Yang kuhabiskan tidak seberapa dibandingkan apa yang kamu lalui. Kamu juga akan kubimbing nanti supaya bisa mandiri dan menjadi wanita sukses. Kalau kamu mau membalas budi, lakukan itu ketika kamu sudah berhasil, ya.”
“Tapi bagaimana caranya. Aku sama sekali tidak memiliki pengalaman bekerja, Reno.”
Lagi, suara tawa terdengar di telinga Eleana. Sedetik kemudian, hatinya terasa sedikit tenang mendengar penuturan yang meluncur dari bibir penyelamatnya itu.
“Jangan khawatirkan apa pun, El. Setibanya kamu di kediaman barumu nanti, aku akan mengajarimu cara berbisnis. Bukan di perusahaanku, tetapi aku akan membantumu mendirikan perusahaanmu sendiri.”
“Tapi aku tak yakin bisa melakukannya, Reno,” lirih Eleana pesimis.
Bagaimana mungkin ia mendirikan sebuah perusahaan, sedangkan ia tak punya modal dan skill sama sekali. Bahkan, ia tak memiliki sedikit pun warisan dari sang papa karena semuanya telah dirampas Bryan. Itulah sebabnya Eleana merasa tak percaya diri.
“Kamu bisa. Yang tidak tamatan kuliah saja bisa, apalagi kamu yang memiliki ijazah sarjana. Udah, jangan pikirkan apa pun. Fokus saja pada rencanamu untuk kabur dari sana.”
“Sekali lagi, terima kasih, Reno. Aku tidak tahu bagaimana aku bisa membalas semua ini. Aku juga ingin mengucapkan terima kasih pada dr. Ferdi.”
“Nanti saja, ketika kamu sudah sampai di tempat yang aman, baru kamu hubungi dia dan ucapkan terima kasih. Sekarang, cepatlah tinggalkan rumah itu, El. Lupakan semua masa lalu yang menyakitkan dan fokuslah pada masa depan yang lebih cerah tanpa bayang-bayang laki-laki jahat itu lagi.”
Tanpa sadar Eleana tersenyum lalu menanggapi ucapan Reno. “Iya, aku akan bersiap sekarang.”
“Oke, sampai jumpa di kediaman barumu nanti. Aku akan menunggu kamu di sana.”
Setelah panggilan terputus, Eleana menyimpan ponsel ke dalam tas tangannya lalu ia memandangi wajahnya di cermin. Wajah cantik jelita tanpa cacat itu memantulkan kepribadian yang kuat, meski selama ini dipenuhi kesedihan. Dua tahun perjalanan hidupnya bersama Bryan telah mengubah segalanya. Hidup yang dulu penuh cinta berubah menjadi neraka tanpa henti. Namun, kini sinar kebahagiaan mulai kembali.
Binar keceriaan mulai muncul di wajahnya. Dalam bayangan Eleana, ia akan hidup bebas, tanpa penyiksaan dan rasa sakit. Tidak ada lagi jeritan dan pukulan dari laki-laki yang dulu pernah sangat ia cintai.
“Akhirnya, aku bebas dari laki-laki itu,” gumam Eleana bisa bernapas lega.
Wanita cantik itu menyisir rambut panjangnya, masih mengenakan jubah mandi putih. Ia menyelesaikan kegiatannya menata rambut, hingga tiba-tiba suara pintu terbuka. Suara itu membuatnya tertegun, dan suara langkah yang sangat ia kenal mulai terdengar di telinga.
“Semua koper sudah saya letakkan di dalam mobil Tuan Reno, Nyonya,” ujar Ina, muncul dari balik pintu. “Saya akan menunggu di depan pintu. Jika ada bodyguard yang bertanya. Saya akan bilang kalau saya menunggu Anda untuk jalan-jalan ke taman belakang.”
“Syukurlah. Aku hanya perlu mengganti pakaian lalu kita pergi bersama-sama. Tunggu aku sebentar ya, Mbak,” balas Eleana dengan raut ceria.
Ina segera keluar dari kamar, sementara Eleana buru-buru mencari pakaian yang cukup sopan. Hari ini, ia akan bertemu langsung dengan penyelamatnya. Ia memilih gaun berlengan panjang yang menutupi seluruh tangan dan kakinya, menyembunyikan bekas luka lebam akibat pukulan yang selama ini ia terima.
Setelah berpakaian, ia kembali ke depan cermin. Ia memulas wajahnya dengan bedak tipis lalu membubuhkan lipstik berwarna nude di bibirnya. Dengan riang, ia memandang dirinya yang terlihat lebih segar. Sebelum meninggalkan kamar, pandangannya tiba-tiba fokus ke seluruh ruangan. Kilasan kenangan pahit mulai terputar di ingatannya. Di kamar ini, ia mendapatkan penyiksaan yang tidak akan pernah ia lupakan.
“Aku tidak akan kembali ke sini lagi. Semoga aku tidak pernah bertemu dengan pria seperti itu lagi,” bisiknya dengan nada getir.
Eleana menghapus air mata terakhirnya, yaitu air mata kesedihan yang selama ini selalu tumpah kala Bryan menyiksanya. Ia tersenyum, berusaha menatap masa depan yang lebih cerah dan indah. Pelan-pelan, ia meraih tas tangannya lalu melangkah ke arah pintu. Namun, belum sempat ia membuka pintu kamar, pintu itu tiba-tiba terbuka dengan sendirinya.
Jantungnya berdegup kencang. Sepatu yang ia sangat kenal muncul di hadapannya. Perasaan takut langsung mencekam jiwa.
“Jangan katakan kalau Bryan tahu gerak-gerikku selama ini,” batin Eleana panik. “Jangan katakan kalau aku akan gagal melarikan diri karena tertangkap basah sebelum sempat merealisasikan rencanaku.”
Pelan-pelan, Eleana mundur. Rasa cemas menguasai hatinya. Ia takut mendapatkan penyiksaan lagi dari sang suami.
“Kenapa laki-laki ini pulang sebelum waktunya?” ucapnya lagi di dalam hati. Tidak mungkin semua rencananya gagal. Ia sudah mengusahakan ini sekuat tenaga.
Bryan berdiri di ambang pintu, menatapnya tajam. “Kenapa kamu terlihat ketakutan? Mau ke mana kamu, Eleana?” tanyanya dengan nada dingin.