Bertemu Kembali di acara reunian
“Ayah, kanapa kamu ingin aku menikahi pegawaimu itu. Jelas-jelas dia bukan kaum bangsawan. Apa karena dia penyelamat hidupmu?!”
“Diamlah, kamu ikuti kemauan terakhir sebelum kamu menyesal kehilangan warisanmu! “
“Ck.. Ayah bisanya kamu " ucapan Agam terhenti sebuah tamparan mendarat di pipi.
“Sekali ini saja, kamu turuti keinginan aku, sebelum ayahmu ini mati. Dia wanita baik-baik walaupun bukan dari kaum bangsawan, kamu harus jadi pria baik-baik dan menjadi ayah yang baik buat anakmu nanti!“ Ayahnya menepuk pundaknya dan meninggalkan diri nya termenung.
Agam mengernyitkan alis, "Wanita itu begitu penting buat ayahku, jalang ini bisa mengubah ayahku seperti ini,"
***
“Jangan sok jual mahal kamu, Rania, ”
“Dia tuh, Diam-diam masih mencintaimu. Emang kamu mau kamu dan anak-anak kamu gak ada yang melindungi,”
Sinta terus menceramahi sahabatnya itu, ketika di acara reunian sekolah menengahnya. Rania berbalik badan, menatap sahabat sejak masih kecil itu dalam.
“Kamu ingin aku jadi pelakor, perusak rumah tangga orang, Sinta! “ tekan Rania tersenyum sinis.
“Tidak, aku tahu Rahadian itu masih mencintai kamu. Dan kamu harus tahu istrinya Rahardian itu punya penyakit kanker rahim,kamu harus tahu itu,”
“Aku tidak mungkin mengambil kesempatan dalam kesempitan,“ tegas Rania memejamkan mata, sebenarnya dulu dia sangat memuja Rahardian, Rania merasakan sakit hati. Waktu itu Rahardian memilih Mona anak seorang pejabat di daerahnya. Sedangkan Rania hanya anak petani biasa.
“Mungkin dulu aku sangat menginginkan dirinya, sekarang aku sudah sadar di mana tempat aku berasa seharusnya,“ tak terasa Rania menyela air mata yang entah kenapa setiap mengingat Rahardian hatinya perih.
“Jadi kamu akan menikahi bos kamu itu. Maksudnya anaknya yang maniac itu. Apa kalian akan kawin kontrak,” selidik Sinta. Rania menggelengkan kepala.
“Entahlah, aku belum memutuskan. Aku merasa berhutang budi pak bos sudah mengangkat derajatku, sampai aku menjadi seorang manager di perusahaan majalah ini. Aku beruntung bertemu beliau. Aku merasa bersalah jika menolaknya. Aku juga enggan menerimanya,” Jawaban Rania sambil menarik nafasnya berat. Sinta menghembuskan nafasnya.
“Kamu harus tegas, jika kamu ingin karier. Kamu bisa berhenti dan bekerja di tempat lain. Aku ada kenalan kalau kamu mau? “ Rania mendongak, menggelengkan kepalanya dan meninggalkan Sinta.
“Hmm, aku harus bertindak supaya Rahardian dan Rania bersatu dan aku bisa menjadi bos menggantikan Rania,” Lirih Sinta menatap punggung Rania yang menuju toilet.
“Kemana Rania, aku lihat tadi bersamamu? “ tanya Rahardian melihat ke kanan dan kiri Sinta.
“Oh, iya tadi dia bilang mau ke toilet. Kamu kejar gih sana. Dia sedang galon,” titah Sinta.
“Kenapa sama dia? Apa ada masalah kerjaan?” Rahardian menatap Sinta tajam.
“Aku kasih tahu kamu. Kalau kamu menginginkan Rania cepat bergerak. Rania sudah diminta bos untuk menikah dengan anaknya yang maniac. Kamu harus membantu Rania. Hanya kamu yang bisa membantu Rania,” jawab Sinta panjang lebar, sambil menepuk pundak Rahardian. Langsung melenggang kakinya menuju teman-teman yang lain sedang berpesta.
***
“Apa aku harus menjadi pelakor? Bukannya aku bercerai karena pelakor? Aku sangat mencintai Rahardian? Tapi aku takut,“ lirih Rania sambil berkaca-kaca, air matanya kembali menetes tiba-tiba.
“Aku melihat pria tampan di depan toilet apa dia sedang menunggu pacarnya?”
“Beruntung sekali wanita itu, punya pria yang perhatian. Aku juga menginginkan pria seperti itu,“
Dua gadis itu tersenyum sambil mengintip ke arah pintu luar toilet. Rania mendengar perkataan mereka, jadi tiba-tiba ingin melihat, Rania berjalan sedikit ke arah mereka, mengintip siapa pria yang mereka maksud tadi.
‘Oh, Rahardian apa dia kemari menungguku. Aku temuin dia dulu,’ Rania terdiam lalu menghembuskan nafas nya Rania berjalan keluar toilet.
Rania berjalan tidak langsung menuju Rahardian, melainkan langsung ke arah teman-teman nya berada. Rahardian dengan cepat mencekal tangan Rania.
“Rania mari kita bicara.” ucap Rahardian menatap mata Rania, Rania tidak menolak tangannya digenggam Rahardian.
“Disini saja” jawab Rania menundukkan kepala. Rahardian tersenyum.
“Tentu saja, tidak disini. Ayo pergi ke tempat lain!”
“Tunggu, bagaimana dengan Sinta?”
“Ayo, dia sudah dewasa bisa pulang sendiri!“ Tangan Rania yang digenggam Rahardian tidak terlepas, Rania mengikuti langkah Rahardian keluar pintu klub itu.
Rahardian membuka pintu mobil untuk Rania, Rania diam dan duduk di sisi Rahardian yang menyetir mobilnya sendiri.
“Kemana kamu akan membawa aku?“ tanya Rania menatap Rahardian, Rahardian yang memegang setir kembali menatap Rania.
“Ke pantai tempat yang kamu suka, bukan kamu suka deburan ombak di malam hari sambil melihat bintang, ”
“Oh, oke.”
***
“Bintang sangat indah masih seperti dulu Rania dan deburan ombaknya, ” ucap Rahardian menggenggam tangan Rania, Rania berusaha menepis genggam tangan Rahardian namun tidak bisa.
“Sekarang tidak bisa, kamu sudah bersama Mona, dan aku bersama anak-anakku sudah cukup,” jawab Rania menundukkan kepala. Rahardian mengangkat kepala Rania.
“Sekarang dia tidak bisa melayaniku, aku pria normal, dia sakit mungkin umurnya tidak lama lagi. Aku menginginkan kamu disisiku,” Rania sedikit mengerti maksud ucapan Rahardian namun Rania merasakan ketakutan dalam hatinya.
“Aku tidak bisa menjawabmu sekarang, tolong kasih aku waktu Rahardian. Antar aku ke hotel, aku sudah lelah,“ pinta Rania, Rahardian mengantuk kepalanya dan membukakan pintu mobil untuk Rania dan segera berputar ke arah setir mobil. Tak lama mobil pun melaju meninggalkan pantai.
***
Rahardian bermaksud memesan dua kamar, hari ini karena weekend kamar sudah penuh yang ada kamar suite presiden. Rahardian menatap Rania, Rania hanya diam, entahlah apa yang dia pikirkan. Rahardian menyetujui dan mengambil kunci kamar hotel. Ketika sampai kamar hotel, Rahardian ikut masuk kamar.
“Kamu, ini kamarku, pegilah ke kamar kamu. Sana pergi! “ usir Rania mendorong Rahardian. Rahardian yang saat itu tengah lengah hampir terjatuh.
“Maaf, Bukan maksud aku. “ Rania menundukkan kepalanya. Rahardian memegang pundak Rania.
“Rania biarkan aku masuk dan tidur di sofa, kamar hotel ini sekarang penuh, Aku sudah lelah. Oke,“Rahardian langsung menuju sofa dan mendudukinya sebelum diusir lagi Rania.
Dicelah pintu kamar hotel yang belum tertutup rapat. Ada senyuman seseorang dan membidikan kamera nya ketika Rania sedang berhadapan dengan Rahardian.
“Untung kamar si Rania ada di depan kamarki, aku bisa minta pelayan kamar memberikan minuman ini supaya mereka berdua melewati malam indah.Ini kesempatan yang aku tunggu,“ Sinta cepat berlari ke arah pelayanan kamar untuk memberi makanan dan minuman sebagai hadiah hotel, tak lupa Sinta memberikan tip yang besar.
Rania saat ini sedang mandi, dia terhenti sejenak dia lupa tidak membawa baju tidurnya yang dia titipkan pada Sinta. Rania menghembuskan nafasnya dan melanjutkan mandi. Setelah selesai mandi. Rania berjalan menjinjitkan kakinya, menengok kearah Rahardian yang terlihat sedang tiduran di sofa dan memegang ponselnya.
“Kamu sudah selesai mandi? Apa kamu lupa tidak membawa baju ganti? Kamu sengaja menggodaku? “ Kata-kata Rahardian membuat Rania memerah. Membuat Rania tersentak kaget, dia pikir Rahardian tidak melihat kehadirannya.
“Kamu!.. “ tunjuk Rania, Rahardian mendekati dan memegang tangan Rania untuk duduk di sofa.
“Tadi pelayan kamar memberikan makanan cemilan yang kamu suka dan minuman. Ayo dimakan dahulu.”
“Baiklah aku coba, aku suka kue cokelatnya. Kenapa pelayan itu tahu.” selidik Rania. Rahardian mengangkat bahunya.
Setelah memakan beberapa cokelat dan meminum jus lemon kesukaan Rania, beberapa menit kemudian Rania merasakan sensasi panas, Rania hendak membuka jubah mandinya. Ditahan tangan Rahardian dia langsung menggendong Rania menuju kamar mandi.
“Rania sadarlah!! “ Rahardian menepuk-nepuk pipi Rania. Rania yang dipenuhi hasrat.”Panas, tolong aku Rahardian “ Bibir Rania mendekati Rahardian menempelkannya. Rahardian tidak menolaknya. Mereka melakukan di bathup
“Siapa yang memberikan pil untuk Rania” pikir Rahardian.