Di datangi Istrinya

1124 Kata
Rania tebangun jam 11 siang, merasakan seluruh tubuhnya kaki dan bercak merah diseluruh tubuhnya. “Ahhhh… apa ini.. Ya ampun, kenapa aku semalam. “ Rania menarik-narik rambutnya, dan terduduk dilantai. Rania mengingat kembali, semalam dia dan Rahardian berdua satu kamar namun setelah dia makan dan minum, dia tidak mengingatnya lagi. Rania bangun mencari dimana Rahardian tidak terlihat sosoknya, namun dia tersadar dan tersentak kaget, ketika bangun, dia dalam keadaan tidak memakai busana. Rania terdiam, dia mengerti sekarang, dia dan Rahardian sudah melakukan yang tidak seharusnya. Rania berlari mengambil selimut dan ponselnya yang tengah di charger. Rania menelpon Sinta, “Sin, kamu ada di mana? Bisa bawakan bajuku? “ ucap Rania dan Sinta tertawa terbahak-bahak. “Hahaha.. Yaya, akan kubawakan kamu tunggu aku.” Sepuluh menit terdengar ketukan pintu, karena Rania memakai jubah mandi, dia tidak membuka pintu langsung menyuruh masuk. Rania tersentak kaget yang datang bukannya Sinta melainkan Mona, istrinya Rahardian. “Jalang, beraninya kamu tidur dengan suamiku!” Mona mendekati Rania dan menjambak rambut Rania membuat Rania pusing, Rania yang mau membuka mulutnya terkejut, saat dia mendongakkan wajahnya. Rania langsung ditampar Mona. Plak.. Plak.. Plak.. “Ini peringatan pertama untukmu jalang, sekali lagi aku lihat kamu bersama suamiku. Aku habisi kamu dan keluarga besarmu di desa! “ Mona melepaskan jambakan tangannya, menghembuskan kepala Rania ke tembok membuat kepala Rania berdarah. Akhhhh… Rania terisak-isak setelah kepergian Mona, saat itu datanglah Sinta membukakan pintu kamar hotel, tersenyum lebar lalu merubah raut wajahnya menjadi sedih dan memeluk Rania. “Rania, huhuhuhu…maafkan aku terlambat. Apa yang terjadi. Sampai kamu berdarah. Ayo aku papah kamu ke sofa.” ucap Sinta padahal dalam hatinya merasa jijik terhadap Rania dan bahagia melihat penderitaan Rania sekarang. Setelah Rania terduduk, Sinta mengambil batu es yang sebelumnya dia minta ke pelayan kamar, sudah menduga pasti Mona akan menampar Rania. Rania membiarkan Sinta mengompres lebam di dahinya, ”Aku antar kamu ke rumah sakit ya? Apa perlu aku hubungi Rahardian? “ ucap Sinta pelan di dekat telinga Rania. Rania menggeleng kepalanya, ”ke rumah sakit saja, tidak perlu hubungi Rahardian, bantu aku ke kamar mandi!” Sinta mengangguk, mengangkat bahu dan badannya Rania dan membiarkan Rania di kamar mandi untuk berganti baju. Setelah melihat Rania keluar dari kamar mandi, Rania melangkah mengambil ponselnya terus melangkah keluar dari kamar hotel, diikuti Sinta, Sinta berusaha menyusul langkah Rania dan memapah tangan Rania. *** “Kamu berani sekali, mendatangi Rania huh!” Ditarik rambut Mona, Mona meringis, minta dilepaskan. “Sakiiiit, lepaas. Aku gak akan membiarkan kamu dan Rania bahagia diatas penderitaan aku!” pinta Rania dengan terisak. “Cih, aku gak sudi hidup dengan kamu lagi! Jangan pernah menyentuh Rania. Aku akan meninggalkan kamu dan membuat kamu menderita! CAMKAN ITU! “ dengan nada lebih keras dari biasa dan menghempaskan tubuh lemah itu “Baik, aku tidak akan menggangunya, tapi jangan pernah minta bercerai denganku! “ Mona bangkit berusaha mendudukkan dirinya diatas kasur kamar. Rahardian hanya menatap nya dingin, setelah melihat Mona duduk meninggalkan Mona sendiri. Mona menangis tersedu-sedu meratapi nasibnya sekarang, kenapa penyakit ini harus datang pada dirinya, dia mengeluh penyakit yang dialami, tidak ingin Rahardian menjadi milik orang lain. *** “Agam kapan kamu ada disini?” Rania tersentak kaget saat dia masuk kedalam ruangan tamu sudah ada Agam dengan kepulan rokok di tangannya. Agam tersenyum sinis dan mematikan rokoknya, Sinta yang melihat ini langsung pamit ke dapur. “Kalian mengobrol dulu, aku harus, aku akan ambilkan minuman untuk kamu.” Agam mengangguk, Sinta langsung pergi ke dapur. Rania melihat kepergian Sinta mengernyitkan alis sebentar, lalu merubah mukanya dengan malas. “Untuk apa kamu kesini?” tanya Rania sambil melipatkan tangannya di d**a, Agam tertawa kecil. “Ya, aku menjenguk calon istriku. Calon istrku sudah berselingkuh dengan suami orang. Apa ayahku masih memuja sebagai dewi penyelamatnya. Ketika tahu kamu bersama mantan pacar menghabiskan satu malam yang panas.” Rania diam mengerutkan keningnya, tersenyum sinis kepada Agam. “Kamu sudah tahu hal ini, kenapa kamu tidak melaporkan hal ini pada ayahmu! Aku akan sangat senang sekali tidak jadi menikah dengan kamu. “ Agam semakin tertawa, Rania diam menyelidik. “Tentu akan kulakukan, kalau begitu aku tidak akan berlama-lama disini. Pasti dia akan datang menghibur kamu.” Agam berdiri sambil menunjukkan ke arah jalan. Rania bangkit dari duduknya berjalan perlahan melihat ke arah yang ditunjuk Agam. “Buat apa dia kesini?” lirih Rania yang masih terdengar oleh Agam. Agam melirik ke arah Rania berdecak. “Ck, tentu saja menjumpai pacarnya. Aku tidak ingin menjadi nyamuk! “ Agam langsung melangkah keluar bertemu dengan Rahardian di depan pintu masuk rumah Rania. Rahardian menatap dingin Agam, Agam hanya tersenyum sinis. Pandangan Rahardian beralih ke Rania, Rania memalingkan wajahnya yang memerah. “Buat apa kamu, kemari. Bukankah istri kamu sudah datang tadi pagi ke hotel?!” Rahardian berhenti di tempat, tersenyum tipis, melihat kearah Rania yang tidak ingin melihat dirinya. “Aku akan menceraikannya, apa itu kurang? Apa aku harus membalaskan sakitmu?! “ Tiba-tiba Rahardian duduk disamping Rania dan membalikkan badan Rania, Rania tersentak, mencoba bergeser menjauhi Rahardian, namun dia terus mengikuti Rania, sampai ujung sofa, dagu Rania dipegang tangan kekar Rahardian. “Aku akan membereskan semuanya, termasuk perjodohan kamu dan Agam, juga perceraian aku dan Mona sedang diurus pengacaraku. “ Rania membulat, sebelum Rania menjawab bibir sudah dikunci sama bibir Rahardian. Rania mencoba meronta, namun kekuatan Rania kalah dibandingkan Rahardian, Rania menyerah membiarkan Rahardian, tak lama terdengar suara pecahan beling. Pranggg.. “Maaf, aku mengganggu. Aku kira Agam masih ada, aku akan ke dapur. Kalian lanjutkan saja! “ Sinta mengomel dalam hatinya “Si Mona ini tidak bisa diandalkan, rumah tangga sendiri hancur karena Rania cinta masa lalu suaminya. Aku harus bertindak sendiri. Harus hati-hati dengan Rahardian, aku harus tetap dekat dengan Rania dan mensupport pernikahan mereka.” Di bak pencucian piring Sinta menghela nafas, mengambil ponsel, menghubungi Mona dengan sedikit berbisik. “Aku akan menemuimu, sekarang kamu tenangkanlah diri kamu. Ikuti saja keinginan Rahardian, kalau ada celah nanti baru kita bertindak “ Sinta mendengar suara tangisan Mona.Sinta terdiam sebentar lalu mematikan ponsel. Sinta pergi ke depan ruang tamu, “Maaf aku mengganggu, Rania karena sudah ada Rahardian menemani kamu, aku pergi dulu. Kalau kamu butuh sesuatu. Hubungi aku ya! “ pesan melambaikan tangannya, sebelum Rania menjawabnya. “Aku gak perlu kamu, kamu pulanglah. Aku lelah mau beristirahat!” usir Rania mengisyaratkan Rahardian supaya pergi dari rumahnya. Rahardian tersenyum tipis. “Baiklah, hari ini aku biarkan kamu istirahat. Aku kan menyuruh beberapa orang berjaga-jaga di depan rumah kamu. Nanti aku kembali. Beristirahat yang baik oke! “ Setelah mengusap kepala Rania, mengecup keningnya, berjalan menuju pintu. Rania menarik nafas lega. Rania bangkit dari sofa menuju kamar. Membukakan pintu, langsung duduk di tepian tempat tidur. “Jangan sampai malam ini Rahardian kembali, aku harus meminta pertolongan Agam untuk kabur darinya. “
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN