Kejadian tidak diinginkan

1080 Kata
“Halo, untuk apa kamu menghubungiku?” tanya Agam tatkala saat itu sedang bersama cewek-cewek cantik di hari ruangan VVIP. Rania menggigit bibirnya, memejamkan matanya, lalu memainkan jari tangan. “Tolong antar aku ke Desa dimana ibuku tinggal, aku ingin melarikan diri dari Rahardian dia seperti monster.” Agam mencibir, memonyongkan mulutnya. “Ck, seperti monster tapi udah sering bertukar ludah, tidur bersama lagi. Gantengan juga aku, dia cuma menang di badan kekar saja.” Rania yang mengingat hal itu pipi memerah, namun sadar langsung naik darah disentil seperti itu oleh Agam. “Sudah, sudah. Cepat datang kemari! Aku tidak ada waktu lagi.” Rania menyudahi ucapan konyol Agam, dia tahu Agam pasti tidak akan berhenti menindasnya, sejak tahu kelemahan Rania adalah Rahardian. “Oke, istriku. “ Jawaban Agam membuat ingin menjitak kepala Agam. Rania bergidik ngeri langsung menutup ponselnya tanpa membalas ucapan Agam. Agam tertawa kecil, salah satu gadis disana bangkit mendekati Agam. “Sayang, kamu pergi lagi. Calon istrimu selalu mengganggu kita bersenang-senang. “keluh gadis simpanan Agam, bernama Rara. Agam menyentil kepala Rara. “Kamu, tenanglah dulu Rara sayang, setelah aku menikahi Rania, karena tak waris itu, setelah gak waris itu milikku, aku bisa menikahimu dan bersenang-senang denganmu. Rania hanya istriku diatas kertas, istri pajanganku. Ingat itu, Rara.” Agam mengecup kening Rara dan menyuruh Rara segera pulang. “Kamu juga pulanglah. Aku pergi dulu sayang, sampai disana aku kabari!” “Oke, aku tunggu telp kamu sayang.” Rara melambaikan tangannya, hati terasa berat. *** Rania dan Agam telah sampai desa dimana ibunya tinggal, ibunya tinggal sendiri, setelah kematian ayahnya. Ibu tidak ingin tinggal di kota bersama Rania, dia suka suasana pedesaan. Namun, ketika mereka sampai dirumah Ibunya Rania, ada kebakaran dan tepatnya itu rumah ibu Rania yang terbakar. “Kebakaran.tolong kebakaran!!” teriakan ibu-ibu warga di sana. Bapak-bapak sibuk memadamkan api yang besar, pemadam kebakaran belum juga datang. Rania yang baru datang melihat hal itu badan Rania lemas, ambruk ke tanah, Agam yang melihat kejadian itu sedikit shock, lalu melihat ke arah Rania dan berusaha membangunkan Rania, memapah ke tempat yang aman. Namun Rania melepaskan genggaman tangan Agam, berusaha masuk kedalam rumah menerjang api besar itu, buru-buru Agam menarik dan mendekap tubuh Rania. Rania berteriak-teriak dan meronta minta dilepaskan dan memanggil ibunya. “Lepas, lepaskan aku, Agam. Ibuku di dalam. Tolong lepas. Aku harus menolong ibuku!!” “Lepas!!” “Tenang Rania, api sangat besar. Bahaya kalau kamu masuk kedalam. Kamu juga bisa mati disana. “ “Biarkan aku mati bersama ibuku. Lepaskan aku Agam!” Pinta Rania menatap mata Agam, mata Rania yang penuh air mata diusap Agam. Namun cekalan Agam sangat kuat. “Lepas!” Agam hanya diam saja. Pura-pura tidak mendengar. Rania menarik nafas berat. Rania berteriak-teriak,memukul-mukul badan Agam yang kurus dan menangis, akhirnya badan Rania yang lelah, lemah, langsung pingsan saat itu. Agam yang saat itu ada di sisi Rania langsung membawa pergi ke rumah sakit dan meminta tolong ke warga untuk menemukan ibunya Rania. Dua jam kemudian, Rania baru tersadar setelah dia mengigau memanggil nama ibunya. Rania terbangun, dia mengingat tadi dia bermimpi ibunya berpamitan dan menyuruh Rania untuk bertemu dengan ayah kandungan, Rania bukan anak kandung ibu Rasti, dia anak angkat ibu Rasti, ibu Rasti dan suami tidak mempunyai anak, ibu Rasti mandul dan bersedih mengangkat Rania dari panti asuhan Kasih Ibu. Itu yang ibu Rasti bilang dalam mimpi, Rania harus meminta alamat ke panti asuhan Kasih Ibu. Rania menundukkan kepala menangis tersedu-sedu. Agam yang baru datang dari ruangan dokter, duduk dan menepuk-nepuk bahu Rania. Rania melihat ke arah Agam, Agam mendekati dan memeluk Rania, tangisan Rania menjadi besar. “Menangislah, menangislah!” suara Agam pelan namun Rania mendengarnya. Rania hanya diam, setelah merasa tenang, Rania melepaskan pelukannya. Menatap Agam, Agam yang melihat Rania sedang menatapnya, mengerutkan kening. “Ada apa? Apa yang ingin kamu lakukan sekarang?” tanya Agam mendekapkan kedua tangannya. “Agam, aku ingin pergi ke panti asuhan Kasih Ibu. Tadi dalam mimpiku, ibuku bilang aku harus kesana untuk menemukan keluarga kandungku. “ suara Rania pelan dan serak. Agam menarik nafas dan mengangguk. “Baiklah.” Agam bertanya dalam hatinya ’Jadi dia bukan anak kandung dari keluarga PNS biasa ada kemungkinan Rania adalah anak seorang pejabat atau anak buangan keluarga kaya. Aku harus memberitahukan hal ini pada ayah.‘ “Rania, aku merokok dulu ya?” pamit Agam, Rania mengangguk, menyandarkan kembali badan ke ranjang pasien. Rania menatap punggung Agam dengan hanya diam dan tatapan kosong. Saat diluar Agam langsung menelpon ayahnya, ayah memberitahu kalau ayah sudah mengirim beberapa pengawalnya untuk menjaga Agam dan Rania dan akan membantu menyelidiki siapa keluarga kandung Rania. Sesudah Agam merokok, merasa iba dengan keadaan Rania. Seandainya dia kakak kandung Agam, dia akan melindungi dengan jiwa raganya. Agam juga ingin tahu keluarga mana yang tega membuang putri yang cantik dan cerdas seperti Rania. *** “Kamu, gila Mona, kamu melakukan hal itu, kamu bakar rumah ibu Rasti?Hah!” bentak Rahardian sambil memegang baju Mona, dan mengoyak tubuh lemah itu. “Kamu hebat, walaupun badan kamu sakit, kamu masih bisa berbuat kejam seperti in.” Rahardian melepaskan cengkraman tangannya, membuat Mona linglung dan tersungkur di atas tempat tidur, berusaha bangun dan melawan Rahardian. “Aku gila! Aku memang gila. Istri mana yang tega melihat suaminya tidur dan bermesraan dengan mantan pacarnya dan berjanji menikahi wanita jalang itu. Apa hebatnya dia? Dia itu dari keluarga miskin aku sudah berhasil mengalahkan jalang dengan menikah denganmu Rahardian. Rahardian harusnya kamu bersyukur menjadi suami dan menantu pejabat seperti aku, kamu tidak akan kekurangan dan memudahkan kamu naik jabatan. Coba kamu pikir kurang apa aku dan keluargaku untuk kamu?” terang Mona menekan Agam supaya merenungi dan bersyukur menikah dengan dia dari keluarga pejabat. Rahardian diam, dan bangkit meninggalkan Mona. Mona tertawa Terbahak-bahak dan melanjutkan katanya, “Aku tahu kamu tidak akan meninggalkan kemewahan dan martabat tinggi, aku gak papa. Asalkan dia hanya jadi simpananmu, jangan jadikan istrimu. Kamu hanya bermain-main dengan Rania bukan?” Kata-kata Mona membuat langkah Rahardian terhenti. Berbalik badan, dan menatap Mona yang dari tadi menatap punggungnya. “Kamu lihat saja, aku serius dengan Rania, aku akui aku tidak ingin kehilangan kehormatan dan kekayaan ini. Tapi saat ini yang aku inginkan berada di sampingku, hanya Rania, bukan kamu.” jawaban tegas Rahardian membuat Mona tertawa sinis. “Hahaha, Lama-lama kamu juga bosan dengan jalang itu.” Rahardian tidak mengindahkan kata-kata Mona langsung pergi meninggalkan Mona sendiri. “Mona, kerja kamu sangat bagus. Selanjutnya adalah bagianku menghilangkan Rania di muka bumi ini”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN