Arga mengernyit saat merasakan memar pada rahang. Ia juga berdecak kesal karena bibir bawahnya yang pecah dan memberikan rasa amis pada indra pengecapnya. "Nih." Pria berkulit putih pucat itu mengangkat kepalanya. Di hadapannya berdiri Indra yang menyodorkan sekaleng bir dingin padanya. Arga menerima minuman itu dan bergumam, "Thanks." Indra mendudukkan dirinya di samping Arga. Ia menghela napas seraya mengedarkan pandangan matanya pada keramaian orang yang berlalu lalang. Kemudian dengan bosan mengarahkan pandangannya ke sahabatnya. Melihat wajah Arga yang agak lebam karena hasil dari karya seninya, Indra tertawa renyah. Selepas Wanda pergi meninggalkan Jakarta dan keadaan terasa lebih tenang, Indra memutuskan untuk menghapus Arga dari daftar blokir pada ponselnya. Ia segera menghu

