"Wanna some?" Wulan menggeleng. Lagi-lagi ia menghela napas. Menopang dagunya dengan ekspresi wajah bosan. "Indra kok lama sih? Bukannya pesawatnya udah landing dari tadi..." keluhnya. Wanda tak peduli dengan sungutan, keluhan, dan wajah cemberut Wulan yanh sedari tadi protes karena Indra yang tak kunjung menampilkan ujung hidungnya. Gadis itu terus menyuap Pringles-nya. Mulutnya terus mengunyah. Ketika ia selesai mengunyah habis keripik kentang di mulutnya, Wanda berkata, "Coba telpon gih." Tring! Tringtingting!!! Trong! Trongtongtong!!!! Tiba-tiba ponsel Wulan berbunyi. Nyaring. Mengalahkan bunyi sirine ambulan. Sampai-sampai jantung Wanda rasanya hampir melocot. Jatuh karena melompat dari rongga dadanya. "Astaga! Bisa nggak sih lo ganti itu bunyi notif chatting lo! Bikin gue jant

