"Wanda." Gadis bersurai hitam kecoklatan itu terbangun dari tidurnya yang tak nyenyak. Ia menegakkan tubuhnya dan menoleh. Di belakangnya berdiri seorang wanita paruh baya dengan dandanan mewah. "Iya, Mam?" sahut Wanda. Wanita yang ternyata adalah ibu dari Arga mengelus pundak dan punggung Wanda. Ia memberikan sebuah senyuman untuk gadis yang selama dua hari ini telah menjaga putra semata wayangnya. "Kamu istirahat aja, biar Mami yang jaga Arga," sarannya. Wanda menggeleng. "Aku masih mau nungguin Arga." Air mata itu menetes lagi. Wanda sangat rapuh. Ia akan selalu menangis jika ada yang menyuruhnya istirahat. Gadis itu tak ingin jauh dari putra tunggal keluarga Mahardika itu. Ingin terus menjaganya dan mencintainya. Yuni, ibu dari Arga itu mengerti. Bahkan ia merasa sangat bersyu

