Suara gemericik air terdengar pelan membuat Faray yang masih berada di alam mimpinya mengernyit bingung. Sepulas apapun lelaki itu tidur, pasti telinganya mendengar suara. Karena radar kepekaan Faray memang lebih besar. Perlahan Faray pun bangkit dari tempat tidurnya sembari menyikap selimut tebal yang berwarna putih bersih, lalu melangkah ke arah balkon melihat apa yang terjadi di luar. Apakah pagi-pagi seperti ini hujan? Dan benar dugaan Faray, pagi ini langit tengah menangis menimbulkan awan mendung dengan tetesan-tetesan air yang turun membahasi bumi. Mengisi setiap sudut kota dengan aliran air yang menggenang, membuat dirinya mendesah kecewa. Pasti hari ini akan sangat macet, membuat Faray harus segera bersiap menjemput Kayna. Kalau tidak, gadis itu pasti akan menggunakan bus untuk

