Awalnya
Di sebuah desa dekat pantai bernama Desa Ikan, hiduplah sebuah keluarga kecil yang sangat sederhana, mereka terdiri dari ayah, ibu dan dua anak perempuan bernama Urvilla sebagai anak pertama dan Parama sebagai anak kedua. Ayah mereka bekerja sebagai nelayan sedangkan ibu mereka bekerja sebagai buruh cuci. Urvilla waktu itu berusia delapan tahun dan Parama berusia tiga tahun, Urvilla sudah bersekolah di sekolah dasar yang tidak jauh dari rumahnya, sedangkan Parama belum merasakan bangku sekolah karena dia masih kecil. Keluarga kecil ini walaupun dalam segi ekonomi masih jauh dari kata cukup tapi mereka adalah pribadi yang penuh dengan syukur, mereka bisa menikmati kebahagiaan ditengah kesulitan ekonomi. Keluarga ini juga merupakan keluarga yang taat dengan agama yang mereka anut.
Kebahagiaan itu menghilang dalam waktu singkat ketika sebuah bencana Tsunami menerjang Desa Ikan tepat disaat semua orang sudah terlelap tidur di rumah masing-masing. Tidak ada satu orang pun yang menyadari akan datangnya bahaya Tsunami, mereka semua pasrah dan hanya bisa tersadar saat berada di dalam lautan yang sangat gelap. Entah bagaimana ceritanya, Urvilla membuka matanya di tengah lautan yang gelap, dia kebingungan karena tidak melihat siapapun disana, dia hanya melihat beberapa cairan darah segar yang lewat di depan matanya, saat dia mengingat ayah, ibu dan adiknya. Urvilla mulai panik, dia mulai kehilangan kendali di dalam air, mulai menelan banyak air laut hingga dia merasa menelan sesuatu di dalam tenggorokannya yang membuatnya pingsan dan tidak sadarkan diri.
Keesokan harinya, pantai di penuhi dengan banyak wartawan dan keluarga yang mencari saudaranya yang menjadi korban tsunami yang menimpa desa itu pada dini hari tadi. Banyak tubuh korban yang tidak utuh terbengkalai di tepi pantai, puing-puing bangunan berserakan dimana-mana dan tersebar bau anyir di setiap sudut pantai. Petugas medis mulai menyisir, berharap bisa menemukan korban yang masih selamat di antara puing-puing yang berserakan.
Tiba-tiba sinar matahari yang begitu terik membuat Urvilla membuka matanya, dia berfikir, mungkin dirinya sudah berada disurga karena sinar yang begitu terang. Namun, perlahan sinar itu berubah menjadi pemandangan langit biru yang sangat cerah, dia menoleh ke kanan dan ke kiri.
Apa aku masih hidup? Tanya Urvilla dalam hati sembari mencoba bangun dari tempatnya.
Dia cukup terkejut ketika melihat dikanan kirinya, penuh dengan orang-orang mati, Urvilla mengibaskan kakinya, sedikit takut karena ada kepala orang yang badannya sudah tidak utuh lagi menimpa kakinya. Tapi dia merasa aneh melihat tubuhnya sendiri, dia tidak terluka bahkan terlihat baik-baik saja, matanya mulai berkeliling. Lalu, dimana ayah, ibu dan Parama?Apa mereka masih hidup sepertiku? Urvilla mencoba untuk bangkit dari tempatnya. Tiba-tiba ingatannya kembali saat dia berada di dalam laut dan menelan sesuatu yang membuatnya tidak sadarkan diri, kepalanya terasa pusing.
“Aww, Apa yang aku telan waktu itu?” dia mencoba mengingat tapi dia masih tidak tahu apa yang dia telan. Tiba-tiba ada seseorang berteriak, “Ada yang masih hidup!Ada yang masih hidup!” salah satu relawan yang melihat Urvilla tampak girang menemukan ada yang masih selamat.
Urvilla mulai mendengar suara orang berlari mendekatinya, tiba-tiba tubuhnya yang masih berbaring diangkat ke sebuah tandu dan dibawa ke posco penyelamatan. Urvilla merasa tubuhnya lemas, dia melihat ke kanan dan ke kiri tapi bayangan mulai gelap, akhirnya dia kembali pingsan.
Matanya kembali terbuka saat sudah berada di dalam tenda posco penyelamatan,
“Dok, korban sudah sadar!” ucap salah seorang relawan.
Dokter itu langsung mendekatinya, dia memeriksa suhu tubuh Urvilla kemudian memeriksa denyut nadi dan juga kedua matanya.
“Apa kamu masih merasa pusing?Siapa namamu, sayang?” tanya dokter wanita itu.
Urvilla menggeleng-nggelengkan kepalanya, matanya mulai berkeliling, dia melihat hanya ada relawan, beberapa perawat dan tim dokter saja.
“Namaku Urvilla, dok dimana pasien yang lainnya? ” ucapnya Lirih.
Dokter itu menelan salivanya, “Belum ada yang di temukan selamat, hanya kamu yang kami temukan masih hidup.” Jelas dokter itu.
Air mata Urvilla mengalir, bersamaan dengan itu petir bergemuruh, badai mulai datang lalu hujan turun, “Ayah, Ibu, Parama, kalian dimana?Aku berharap kalian masih hidup?” isaknya dalam tangis. Tiba-tiba Urvilla merasa tubuhnya basah dan penuh air yang membasahi tempat tidurnya juga, dia terkejut, padahal dia ada di bawah atap tapi tubuhnya bisa basah kuyup seperti terguyur hujan. Dokter dan relawan itu mencoba membantunya berdiri, “Kenapa bisa begini?” tanya dokter yang merasa aneh dengan keadaan Urvilla.
Urvilla yang bingung akhirnya berhenti menangis, langit tiba-tiba kembali terang dan tidak ada mendung sama sekali. Para relawan yang masih bekerja untuk menemukan korban yang masih hidup juga merasa heran, tadi langit sangat mendung tapi tiba-tiba berubah menjadi panas terik dalam waktu yang sangat singkat.
Urvilla di beri baju ganti oleh seorang relawan, dia diantar ke sebuah kamar mandi umum untuk mengganti bajunya yang basah. Saat mengganti bajunya, Urvilla masih tidak mengerti tentang semua yang terjadi dengan dirinya, Apa yang terjadi padaku? Pikirnya.
Urvilla dan relawan itu akhirnya kembali ke posco lalu Urvilla kembali istirahat di tenda. Sampai petang datang, masih belum ada tanda-tanda pasien baru. Hingga para relawan dan tim sar memutuskan untuk meneruskan pencarian keesokan paginya. Malam itu para relawan dan petugas medis menginap di dalam posco, Urvilla yang masih terjaga sejak tadi, diam-diam keluar dari dalam posco.
Melihat suasana yang sepi, Urvilla memberanikan diri untuk melihat posisi tempat tinggalnya dulu, berharap dia bisa menemukan keluarganya. Udara malam itu sangat dingin, ombak masih terlihat ganas, Urvilla kembali meneteskan air mata, ketika melihat rumahnya sudah tersapu bersih, petir mulai menyambar, Urvilla melihat ke langit yang semakin gelap karena mendung, dia masih heran kenapa saat dia menangis langit gelap beserta petir. Tiba-tiba dia menginjak sebuah baju berwarna merah mirip seperti yang dipakai oleh adiknya Parama, Urvilla mencoba menarik baju yang tertindih oleh beberapa kayu, tapi masih tidak berhasil kemudian Urvilla mencoba memindahkan kayunya
"Aarrgghhh" erangnya kepayahan saat mengangkat batang kayu itu.
Setelah kayunya berhasil di pindahkan, Urvilla menangis sejadi-jadinya.
“Hiks, hiks, Tidak, ini tidak mungkin!Parama!”Tangis Urvilla kembali mendatangkan hujan lebat yang membasahi tubuhnya, Urvilla membuka bagian kayu yang lain hingga semuanya berhasil Urvilla singkirkan.
Urvilla semakin kebingungan melihat tubuh ayah dan ibunya juga ada disana dalam kondisi yang tidak utuh, Urvilla terduduk di depan jasad ibu, ayah dan adiknya, “Hiks, hiks, Ayah, ibu, Parama. Kenapa kalian pergi meninggalkan aku?Kenapa jadi begini?” Urvilla yang sangat syok melihat kenyataan itu akhirnya kembali tidak sadarkan diri.