Lima belas tahun kemudian...
Dunia berubah begitu cepat, bahkan semakin modern. Banyak fasilitas umum sudah menggunakan mesin otomatis, kendaraan umum juga berkembang seiring berjalannya waktu, gaya hidup manusia mulai bergonta-ganti, mereka mulai ketergantungan dengan gadget atau yang biasa mereka sebut dengan handphone. Segala aktifitas manusia, sekarang tergantung dengan dunia digital dari aktifitas berbelanja, bersosialisasi, bekerja, berkarir bahkan memenuhi kebutuhan sehari-hari, hampir semua manusia memiliki handphone untuk memenuhi gaya hidup mereka.
Tapi yang tidak berubah dari Dunia adalah manusia tidak pernah sadar dengan kehadiran dewa dan dewi disekitar mereka. Selama ini Dewa dan Dewi selalu berkeliaran sekitar mereka untuk menulis jalan cerita kehidupan setiap manusia, bahkan dewa hidup berdampingan dengan mereka untuk lebih mendalami peran mereka dalam menjalankan tugasnya sebagai dewa.
Kebanyakan dewa dan Dewi memiliki paras yang rupawan, bahkan diatas rata-rata, tidak heran, banyak wanita dan pria banyak mengidolakan mereka saat mereka berjalan, berada di pusat perbelanjaan, berada di cafe atau sekedar berdiri di halte bus. Mereka sulit di bedakan di tengah-tengah manusia, karena mereka berperilaku dan berpenampilan sama seperti manusia, yang membedakan dari mereka adalah Dewa tidak boleh mencintai siapapun karena jika itu terjadi maka mereka akan lenyap. Oleh karena itu, mereka selalu pintar menjaga jarak ketika manusia mulai mendekati mereka.
Hari itu Dewa Musim yang bernama Oase sedang bekerja untuk mengubah musim panas ke musim penghujan, kebetulan musim itu bekerja dengan baik, tidak ada masalah, namun hal itu sangat di benci oleh Urvilla karena dia harus menelan kenyataan pahit, setelah dia kehilangan keluarganya pasca bencana tsunami itu, Urvilla menyadari ada keanehan di dalam tubuhnya, ketika dia menangis, marah, emosi atau moodnya buruk, maka tiba-tiba hujan turun dan membasahi sekujur tubuhnya, jika dia berada di dalam rumah maka yang akan terjadi, tubuhnya langsung basah seperti terguyur hujan sama seperti saat di dalam posco penyelamatan. Naasnya dia selalu mengalami kemalangan yang membuatnya marah, kesal dan menangis, pernah suatu kali, dalam dua hari berturut-turut dia tidak berhenti dalam keadaan basah padahal sudah berganti pakaian berulang kali, karena moodnya yang buruk. Alhasil, dia harus menginap di rumah sakit karena mengalami demam dan flu yang berkepanjangan. Dokter mengatakan jika dia terus seperti ini maka imun tubuhnya tidak akan kuat, sehingga bisa saja kematian menghampirinya tiba-tiba. Urvilla selama ini tidak bisa mengatakan keanehannya itu kepada dokter karena sudah pasti dokter akan menganggapnya gila selain itu dia tidak punya cukup biaya jika saja dokter menyarankan dirinya untuk berobat. Dia sekarang hanya bergantung dengan obat pendorong hormon bahagia yang tersedia di apotik, untuk mengurangi resiko basah saat moodnya tidak baik, itu juga dia ketahui saat mencari informasi melalui internet, tapi terkadang obat itu sama sekali tidak bekerja ketika moodnya memang terlalu buruk.
“Kenapa harus hujan?Aku sangat membenci hujan, hujan ini selalu membawa sial! Sejak hari dimana aku selamat, sampai detik ini hujan itu sangat menyebalkan!” Setiap u*****n Urvilla hujan terdengar makin deras, dia sedang berada di kamar mandi dengan air hangat, sehingga dia tidak mungkin basah atau kedinginan, karena dia mulai hafal dengan situasinya.
Oase mulai merasa aneh dengan hujan itu, dia yang baru berbincang dengan Dewa Cinta yang bernama Namo tiba-tiba terdiam tidak meneruskan kalimatnya, melihat hujanya melebat tanpa perintahnya.
“Kenapa kamu diam?” tanya Namo penasaran memperhatikan Oase yang terus melihat ke arah hujan.
“Apa kamu tidak merasa aneh?Hujan melebat tanpa perintahku,” Oase masih terus memperhatikannya tiba-tiba petir menyambar dan hujan bertambah lebih deras lagi.
“Mana mungkin hujan melebat tanpa perintahmu?Kamu kan sering melakukannya dalam keadaan diam?” Namo terlihat tidak percaya dengan Oase.
“Hah ... kali ini aku tidak melakukannya!Apa aku salah makan tadi atau aku lapar atau aku kelelahan?” Oase bingung dengan dirinya sendiri.
“Dewa tidak pernah merasa lapar dan dewa tidak mungkin salah makan bahkan dewa tidak punya rasa lelah, jangan berfikir seolah kamu ini manusia!” Namo mencoba meluruskan pikiran Oase.
“Lalu?Ada apa dengan hujannya?Baiklah, berhenti!Ayo berhenti!” Oase memerintahkan hujan untuk berhenti.
Kali ini Namo menyadari jika ada aneh, “Iya, ya. Kenapa hujannya tidak berhenti?Tidak ada dewa selain dirimu kan di dunia ini?” Namo ikut berfikir.
Ternyata di balik hujan yang deras itu, Urvilla di kamar mandi terus mengumpat, dia sedang kesal dan sangat marah, setelah keluar dari panti asuhan banyak kemalangan yang terjadi dengan Urvilla seperti hari ini dia dipecat dari restauran dimana dia bekerja karena selama tiga hari dia membuat lantai basah tanpa alasan. Padahal, itu akibat karyawan lain yang selalu menyulut emosinya ketika bekerja, ditambah ada pelanggan yang super menyebalkan selalu membuatnya marah.
“Aku kesal!Kenapa hujan ini selalu mengikutiku?Kenapa aku selalu basah?Jika begini, bagaimana aku bisa tidur?haruskah aku di kamar mandi sampai besok pagi?Inilah tujuanku mencari rumah kontrakan yang ada bath-upnya, jika moodku tidak baik, aku lebih memilih tidur di bath-up. Aku malas sekali mencuci spray!Astaga, lalu bagaimana aku bisa mendapatkan pekerjaan baru?Pesangonku tidak cukup untuk memenuhi kebutuhanku selama satu bulan, dasar pria tua sialan!Jika bukan karena kau pelanggan tetap restauran itu, aku pasti sudah menghajarmu!” Urvilla terus mengumpat sambil meremas-remas tirai kamar mandi.
Oase dan Namo mendadak bingung, petir menyambar begitu keras, hujannya tiba-tiba deras, tiba-tiba mereda lalu kembali deras lagi.
“Namo, kamu tahu aku kesal!” Oase mengepalkan tangannya.
Namo langsung mengelus pelan tangan Oase yang mengepal,“Jangan marah Oase!Itu berbahaya, ayo lepaskan tanganmu yang mengepal!bersantailah!kamu bisa mendatangkan petir dan banjir, jika kamu melakukan itu Dewa Bencana akan datang dan mendukungmu. Manusia bisa lenyap, kamu tahu kan?Apa kamu tidak bosan masuk ke dalam mercusuar dan tidak bisa keluar selama bertahun-tahun?”penjelasan Namo kali ini membuat Oase menghela nafas panjang dan melepaskan kepalan tangannya.
“Huh ... untung kamu bisa mendengarkanku.” Namo mulai bernafas lega.
“Lalu, apa yang harus kulakukan?” Oase sedikit geram.
“Musim tidak berganti dan tetap musim hujan, apa yang kamu takutkan?Jika dia sampai mengacaukan musim yang seharusnya, barulah kamu bisa mengambil tindakan!” Namo mencoba memberi saran.
“Sebenarnya ini bukan kali pertama, hanya saja aku tidak terlalu menggubris. Karena waktunya sangat singkat, waktu itu musim panas, jelas aku datangkan musim panas. Tiba-tiba hujan datang tapi hanya gerimis, lalu menghilang. Aku pikir, mungkin ada yang salah denganku, lalu setelah itu aku tidak menghiraukannya. Itu terjadi beberapa kali, yang ini paling parah, aku menghentikan hujanku sendiri saja tidak bisa,” Oase kembali menatap hujan yang masih deras.
“Jadi begitu?Begini saja, kamu pastikan lagi dua musim kedepan, jika masih terjadi hujan, disaat bukan musim hujan. Kamu bisa mengambil tindakan!” Namo memberikan saran lagi untuk Oase yang membuatnya mengangguk pelan.
“Aku akan menunggu sampai dua musim, aku berharap tidak ada masalah!”