Terjadi Lagi

1217 Kata
Tibalah perubahan musim yang pertama, musim hujan telah berlalu, sekarang waktunya musim gugur datang sebelum menyambut musim dingin. Oase mulai berdebar saat akan merubah musim, tapi dia melakukannya dengan sebaik mungkin. Musim gugur akhirnya tiba... Para Dewa yang berada di bumi sedang membicarakan musim gugur yang datang, mereka adalah Dewa Kelahiran bernama Lilian, Dewa Kesuburan bernama Ares dan juga Namo. “Akhirnya musim telah berubah, lihatlah betapa anak-anak sangat menyukai dedaunan yang jatuh, atau lihatlah mereka yang sedang berpacaran, uh ... romantis sekali!Aku selalu menyukai musim gugur, karena pekerjaanku sebagai Dewa Cinta selalu berjalan dengan baik setiap musim gugur,” komentar Namo terlihat sangat bahagia. “Musim gugur memang indah, tanaman akan berganti dengan daun yang baru setelah musim gugur dan dingin selesai, musim gugur juga sangat membantu tugasku,” ucap Ares. “Ya, aku setuju. Musim gugur ini selalu membawa kebahagiaan untuk kelahiran manusia di dunia, mereka yang baru saja keluar dari rumah sakit membawa bayi mereka untuk pertama kalinya, pasti akan mengenalkan musim gugur ini. Para bayi pasti akan tersenyum melihat daun berguguran, itu sangat menyenangkan.” Sahut Lilian. Disisi lain Urvilla sedang mencoba mencari pekerjaan, dia telah lelah seharian mencari lowongan pekerjaan dan belum menemukan pekerjaan yang cocok untuknya. Dia hanya seorang wanita tamatan SMA sehingga cukup sulit mencari pekerjaan di usianya yang sudah 23 tahun, hampir semua pekerjaan menginginkan gelar D3 atau S1. Dia mencoba untuk tidak mengeluh dan tidak kesal karena itu pasti akan membahayakan bajunya. Masih berjalan menyusuri pinggiran kota, baru beberapa langkah ada tiga orang preman lewat dan menatapnya dengan kurangajar, Urvilla mencoba tidak peduli, dia harus menjaga moodnya dengan baik hari ini. Saat Urvilla melewati preman yang berpapasan dengannya, tiba-tiba salah satu dari mereka mencolek bagian bawah pinggangnya, dengan spontan Urvilla langsung melepaskan sepatu high heelsnya dan melemparnya ke arah preman yang baru saja mencoba melecehkannya. Langit langsung berubah mendung, musim gugur yang indah tiba-tiba sirna begitu saja, petir menyambar dan hujan pun turun. Preman itu bingung dengan cuacanya, tapi dia tidak mengurungkan niatnya untuk mendekati Urvilla yang membuat kepalanya sedikit memar, “Kau berani-beraninya melempar kepalaku dengan sepatu?” bentak salah satu preman yang memang kepalanya terkena sepatu Urvilla. Urvilla sama sekali tidak takut, selama di panti asuhan, dia di bekali ilmu bela diri, dia memang selalu berpenampilan feminim tapi tidak dengan jiwanya karena seperti kata ibu asuhnya di panti, dunia luar sangat kejam, jadi dia harus punya pertahanan. “Aku benar-benar membenci hal ini, gara-gara mereka aku harus basah lagi!Dasar menyebalkan!Kenapa kalian mencoba melecehkanku?Hia ...” “Plug!” Tendangan kaki Urvilla tepat mengenai pipi preman yang berbicara dengannya tadi, kedua preman yang lain bengong seketika melihat wajah bosnya berdarah dan memar. Mereka ikut menyerang Urvilla tapi Urvila menyelesaikan mereka berdua dengan sekali tendangan. “Plug!” Kedua preman itu berhamburan ke tanah, akhirnya ketiga preman itu kabur meninggalkan Urvilla. Hujan yang deras itu berubah menjadi gerimis, setelah Urvilla menghela nafas dan meredakan emosinya. Kemudian, Urvilla melangkahkan kakinya untuk segera kembali ke rumah. *** Ketiga Dewa yang baru menikmati musim gugur tadi, sedikit emosi dengan yang terjadi saat ini. “Apa Oase sedang berulah?” tanya Ares yang sedikit sebal karena bajunya basah. Namo ikut kesal, “Pasangan itu putus karena hujan datang!Astaga!Apa yang dilakukan Oase?” “Kasian bayi itu, dia baru saja mengenal musim gugur.” Keluh Lilian. “Bagaimana jika kita menemuinya saja di rumah dewa?” Ares memberi saran. “Ide bagus, Ayo kita kesana!” jawab Namo dengan antusias, Lilian tidak menyahut apa-apa dia hanya mengikuti saja kedua dewa itu berjalan. Oase sedang menahan kesal di depan mejanya tepat di rumah dewa, “Siapa yang mengacaukan musimku?” Oase menghela nafas mencoba menahan emosinya, “Tidak, aku tidak boleh marah!Nanti aku akan membuat banyak masalah lagi.” Oase mencoba menahan amarahnya dan sedikit memijat kepalanya. Ketiga dewa itu tiba-tiba muncul, “Oase apa yang kamu lakukan?” bentak Ares terlihat sangat kesal. “Apa kamu sedang kesal?Pasangan itu putus karena ulahmu,” tambah Namo. “Atau moodmu sedang kacau?” sahut Lilian. Oase menghela nafas, “Aku tidak berbuat apa-apa, kalian pusing aku juga pusing. Aku tidak tahu ini ulah siapa?” Oase masih menahan emosinya. Namo baru ingat kejadian waktu itu, “Apa ini hari pertama pergantian musim dan musimnya berubah?Apa benar begitu, Oase?” “Tuh tahu, kenapa kamu ikut menyalahkan aku, Mo?Apa kamu ingin aku marah, sekarang?Aku sedang kesal,” Oase beranjak dari tempat duduknya dan menendang kursi yang baru saja di dudukinya. “Brak!” Oase meninggalkan mereka bertiga ... “Sebenarnya kenapa dia?Jelaskan!Apa maksud dari pertanyaanmu itu, Mo?” Ares merasa Namo tahu sesuatu. “Iya, aku baru ingat. Kalian berdua mendekatlah!” Namo menceritakan semua kejadiannya, mereka pun akhirnya paham situasinya. “Lalu, siapa yang mengendalikan hujannya?” Lilian penasaran. “Oase saja tidah tahu, apalagi aku.” Namo mengangkat kedua bahunya. “Sepertinya ada sesuatu yang terjadi, siapa kira-kira yang bisa membantuku mencari tahu?” Ares bertanya dalam hati sambil berfikir. Oase menuju taman kebahagiaan yang ada di rumah dewa, taman yang hanya bisa di lihat oleh Dewa. Oase duduk termenung di salah satu bangku disana menatap bunga-bunga yang bermekaran dan kupu-kupu yang riang terbang diatasnya. Oase menatap ke arah kupu-kupu itu,“Apa kalian bisa membantuku?Aku bisa mendapatkan hukuman dari Dewa ketua jika musimku di kacaukan lagi, jika pergantian musim selanjutnya masih kacau. Aku benar-benar akan mendapatkan masalah, karena musim depan adalah musim yang sangat di tunggu manusia untuk merayakan natal. Aku akan bersabar sebentar jika masih kacau di musim berikutnya, tidak ada cara lain, aku harus meminta bantuan kepada Dewa pembaca,” Oase berbicara sendiri di taman itu untuk meredakan pening di kepalanya karena kesal yang tertahan. *** “Bagus, aku pulang kembali basah dan hujan masih rintik-rintik hingga aku kembali ke rumah.” Urvilla menghella nafas lalu menghentikan langkah kakinya di depan pintu rumah, dia mengambil obat pendorong hormon bahagia itu untuk mengembalikan moodnya. “Hah ... aku sudah lebih baik. Cuaca cerah dan aku harus mengganti pakaianku sebelum aku kedinginan.” Urvilla membuka pintu rumahnya lalu masuk. Meletakkan sepatunya di ember yang selalu tersedia di depan pintu. Urvilla berlari menuju ke kamar mandi sebelum dia menginjakkan kaki ke kamar. Baju Urvilla sengaja di letakkan di kamar mandi beberapa, agar disaat moment seperti ini dia tidak kesusahan untuk berjalan keluar kamar tanpa busana hanya untuk mengambil bajunya. Urvilla sekalian mandi untuk membilas tubuhnya, kata ibu asuhnya di panti, hal ini harus dilakukan agar tidak cepat masuk angin. Lima belas menit kemudian, Urvilla selesai mandi, dia sudah membungkus rambutnya dengan handuk. Dia langsung menuju ke dapur untuk membuat makanan karena dia terlihat sangat lapar. Di dalam kulkas hanya tersisa mie instant, dia sudah menanak nasi tadi pagi. Urvilla mengambil salah satu mie instant lalu membuka tutupnya, mengambil air panas dari termos kemudian mulai membuka beberapa bumbu dengan gunting lalu mencampurkannya ke dalam mie instan, setelah semua sudah masuk Urvilla menutupnya. Sembari menunggu mienya siap, dia pergi ke kamar tidurnya untuk mengambil handphone di dalam tas lalu menancapkan ke charger yang ada di salah satu stop kontak karena batreinya sudah habis saat sampai di rumah. Lima menit kemudian, mie sudah siap, Urvilla mengambilnya bersama satu piring nasi, kemudian menuju ke meja kecil di depannya untuk menyantap makanan. Belum berhasil satu suapan masuk ke dalam mulutnya, tiba-tiba suara bell pintunya berbunyi, “Thing, thong.”      
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN