"Siapa yang datang siang-siang begini?" keluh Urvilla sambil beranjak dari tempat duduknya untuk segera membukakan pintu.
"Krek!" Urvilla membuka pintu.
Ternyata yang datang adalah kurir. Kurir itu memberikan sebuah amplop besar berwarna coklat, Urvilla langsung menerimanya.
"Terimakasih pak,"
Kurir itu hanya mengangguk dan pergi begitu saja. Urvilla kembali masuk ke dalam rumah kontrakannya, dia mengamati amplop coklat besar itu dan melihat kop suratnya dari restoran ayam panggang.
"Apa aku pernah mengirimkan surat lamaran secara online, ya? Mungkin aku lupa," Urvilla segera membuka amplop coklat besar itu.
Dia berhasil mengeluarkan isinya, tertera dengan jelas, nama, alamat, nomor handphonenya disana, ada keterangan yang menjelaskan bahwa surat ini adalah jawaban lamaran pekerjaan yang diajukan tanggal dua puluh enam bulan Maret sekitar satu tahun yang lalu.
"Pantas saja aku lupa," ungkapnya.
Urvilla membacanya lagi sampai selesai,
"Wah ... benar-benar keajaiban, disaat aku membutuhkan pekerjaan, lamaranku yang dulu ada panggilan. Terimakasih Tuhan, aku bisa melanjutkan hidup. Sepertinya panggilan Interview itu hari ini juga, baiklah setelah makan aku akan langsung berangkat! " Urvilla kembali ke meja kecilnya untuk menyantap mie instan dan nasi yang tadi sempat tertunda.
Urvilla kembali bersemangat, dia mendorong dengan lahap mie instan ke dalam mulutnya sampai tidak menyisakan sedikitpun di dalam mangkuknya, kemudian dia segera mengganti bajunya dengan pakaian formal, setelah siap Urvilla keluar dari rumah kontrakannya untuk menghadiri panggilan kerja di restoran itu. Urvilla mulai berjalan, dia akhirnya sampai di ujung jalan, kembali melihat alamat restoran ayam panggang yang ada di dalam surat panggilannya itu.
“Ah, ini dia!” Akhirnya Urvilla berhenti di sudut jalan yang tidak terlalu jauh dari rumah kontrakannya.
“Wah, aku semakin menghemat waktu dan uang, jika aku benar-benar di terima di tempat ini. restoran ini tidak terlalu jauh dari rumah.” Urvilla menaiki tangga dan mencoba masuk ke dalam restoran.
Restoran ini bergaya klasik, desain interiornya cukup mewah, lampu-lampu yang terpasang pun terlihat sangat elegan. Di dalam restoran itu terlihat cukup ramai, banyak pengunjung datang dan pergi, bahkan banyak karyawan terlihat sibuk mengantarkan makanan kesana kemari. Yang membuat Urvilla heran adalah karyawan yang ada disana semua berpenampilan sangat menarik, pelayan wanita yang bekerja semuanya memiliki tinggi yang ideal, mereka mengenakan rok mini dengan celemek pelayan yang sangat menggemaskan, selain itu untuk penampilan para pelayan prianya, mereka semua berkemeja hitam dengan celana berwarna sedikit abu-abu, ada celemek juga yang terpasang di pinggang hingga lututnya, wajah mereka semua sangat tampan, tubuh mereka juga kekar, menurut Urvilla tinggi mereka mungkin sekitar seratus delapan puluhan. Urvilla langsung melihat pakaiannya sendiri dan membandingkannya dengan pelayan wanita yang lain di restoran itu.
Apa penampilan ini akan baik-baik saja? pikir Urvilla.
Seorang pelayan pria bernama Galen itu terus mengamati Urvilla yang sepertinya sedang kebingungan, pelayan yang terkenal tenang dan tampan seperti arti dari namanya itu berjalan mendekati Urvilla.
“Maaf nona, apa ada yang bisa saya bantu?” pertanyaan itu benar-benar membuat Urvilla menoleh dengan sempurna, Urvilla langsung terpesona pada pandangan pertama. Matanya fokus ke arah mata Galen yang warna pupilnya berwarna biru seperti keturunan Eropa.
Astaga!Apa dia seorang pangeran dari negeri dongeng? tanya Urvilla dalam hati, tanpa sadar Urvilla melamun.
Galen sudah terbiasa mendapatkan reaksi dari banyak wanita yang bengong setelah melihatnya pertama kali, Galen tersenyum memanggil Urvilla sekali lagi.
“Nona?”
Urvilla masih melamun dan belum menjawabnya.
“Nona?Apa ada yang bisa saya bantu?” Galen menggoyangkan telapak tangannya ke depan wajah Urvilla.
Spontan hal itu membuat Urvilla sadar, dia mulai salah tingkah, “Ah, maaf, saya ingin bertemu dengan manager restoran.” Wajah Urvilla memerah, dia sangat malu karena ketahuan tidak berkedip memandang seorang pria. Apa yang kamu lakukan Urvilla, kamu terlihat sangat norak ketika melihat pria tampan di hadapanmu? Keluhnya dalam hati.
Galen hanya tersenyum, Apa dia adalah karyawan baru yang mendapatkan panggilan kerja di tempat ini?Dia cantik dan cukup manis, komentar Galen dalam hati.
“Oh, aku akan mengantarmu ke ruangannya, Ikutlah denganku!” perintah Galen dengan cukup ramah.
Sepertinya aku akan mencoba betah selama mungkin untuk bekerja disini, tapi jika aku benar-benar di terima disini. Urvilla mengikuti Galen yang sudah berjalan duluan di hadapannya.
Galen sudah berhenti di depan pintu, “Ini ruangannya!Aku harus kembali bekerja, semoga kamu berhasil!” ucap Galen yang secara tidak langsung memberi Urvilla semangat.
“Terimakasih,” ucap Urvilla sambil tersenyum.
Galen hanya mengangguk lalu meninggalkannya disana.
Sekarang waktunya berjuang, semoga aku berhasil! Ucapnya dalam hati.
“Thok, thok, thok,” Urvilla melakukan etika sebelum masuk ke ruangan itu.
Ada suara dari dalam yang menjawab, “Masuk!”
Urvilla langsung membuka pintunya, tampak seorang pria berkemeja hitam dan berkaca mata itu duduk masih menghadap ke arah komputer di hadapannya. Pria itu terlihat masih muda, saat pria itu menoleh dan menatap Urvilla. Jantung Urvilla langsung berdebar tidak karuan.
Apa restoran ini memiliki standart yang tinggi?Kenapa semua orang disini punya paras diatas rata-rata? Urvilla sedikit heran dan masih terpaku disana.
“Apa kamu akan terus berdiri disitu?” tanya manager restoran itu yang bernama Anke.
Urvilla tersadar dari lamunannya, “Ah iya pak, “ Urvilla langsung berjalan menghampiri meja pria itu.
“Duduklah!” perintahnya.
Urvilla langsung menuruti perintah dari manager restoran itu.
“Kamu bisa memanggilku Anke, aku tidak suka dituakan, semua pelayan disini biasa memanggilku begitu. Aku sebenarnya tidak perlu melakukan interview, aku sudah tahu pengalaman kerjamu sebelum bekerja di tempat ini, yang harus kamu lakukan sekarang adalah mengganti penampilanmu, lalu bekerjalah mulai hari ini!” pria itu benar-benar membuat Urvilla mengernyitkan dahinya.
Apa itu artinya aku di terima?tanpa menjawab satu pertanyaan pun? Tanya Urvilla dalam hati.
“Apa itu berarti saya diterima bekerja disini?”Urvilla mencoba memastikan sekali lagi.
“Ya, kamu diterima. Silahkan mulai bekerja! di belakang ruangan ini ada loker, disana kamu bisa mendapatkan kostum pelayan. Berdandanlah seperti yang lain!” pria itu kembali melihat ke layar komputernya.
“Terimakasih, Anke.” Urvilla membungkukkan badan lalu keluar dari ruangan itu.
Setelah Urvilla keluar, pria bernama Anke itu tersenyum, “Akhirnya, aku menemukannya!”
Suasana hati Urvilla menjadi sangat bagus hari ini, dengan semangat memakai kostum pelayan yang tersedia disana. Urvilla adalah wanita yang memiliki tinggi yang ideal, tubuhnya ramping, kulitnya putih bahkan parasnya pun cantik. Hanya saja dia tidak pernah menyadari hal itu, hari ini Urvilla memilih kostum berwarna pink, rambutnya di ikat seperti ekor kuda lalu memakai bando dengan warna yang senada, Urvilla pergi ke depan meja rias yang tersedia disana.
“Wah ... lengkap sekali, apa ini memang disediakan untuk karyawan?” tiba-tiba Urvilla membaca tulisan di dinding.
“Semua yang ada di meja rias, milik semua karyawan yang bekerja di restoran ini. Kalian bebas memakainya!”
Setelah membaca tulisan itu, Urvilla menggeleng-nggelengkan kepalanya, “Restoran ini benar-benar memfasilitasi karyawannya dengan baik,” komentar Urvilla sambil mengambil beberapa alat make up yang di pilihnya untuk merias diri.
Urvilla memiliki beberapa keterampilan yang lengkap, selain menguasai ilmu bela diri, dia juga sangat pandai memasak, berdandan dan pandai berjualan. Semua itu dia dapatkan saat belajar di panti asuhan, ibu panti memang membekali anak-anak mereka dengan keterampilan, sehingga walaupun mereka kebanyakan tidak merasakan bangku kuliah, ibu panti berharap mereka masih bisa bekerja.
Urvilla selasai berdandan, dia mengenakan kostum pelayan supermini, melihatnya di kaca, dia tidak pernah memuji dirinya sendiri, yang dia pikirkan adalah dia sudah mengenakan kostum yang pantas seperti pelayan yang lainnya.
Urvilla keluar sudah membawa nampan, para pria dan wanita yang menjadi pelayan langsung menatap Urvilla dengan tatapan menyelidik, Urvilla sedikit heran, restoran yang begitu ramai sekarang menjadi sepi pengunjung.
Apa restoran ini akan tutup?Ku kira restoran ini akan sampai malam? Urvilla melihat jam di tangannya.
Tiba-tiba ada suara langkah kaki dari belakang Urvilla, membuat Urvilla menoleh lalu bergeser agar tidak menutupi jalan. Ternyata Anke yang datang.
“Kalian memang selalu patuh!Silahkan duduk, kecuali kamu Urvilla!” Anke mempersilahkan duduk untuk semua pelayan tapi tidak dengan Urvilla.
Semua pelayan langsung duduk di kursi yang tersedia, termasuk bagian kasir dan koki yang memasak di dapur.
“Kalian sudah tahu aku memerlukan satu orang pelayan lagi, dia sudah datang, namanya adalah Urvilla.”
Setelah Anke memperkenalkan Urvilla, mereka semua bertepuk tangan.
Sekelompok pelayan pria termasuk Galen disana mulai bergunjing.
“Dia wanita yang sangat cantik dan seksi sekali, rumornya dia bukan seorang Dewi tapi dia manusia. Apa Anke sudah gila mempekerjakan manusia di restoran dewa?” Komentar Riko yang matanya tertuju pada paha mulus milik Urvilla.
“Ko, angkat wajahmu!Jika dia manusia, sudah pasti para dewa disini terancam,” komentar Tungga sembari memperingkatkan mata Riko yang sedikit nakal.
“Aku yakin ada yang spesial dari dari wanita ini, Anke tidak mungkin akan memperkerjakannya disini jika wanita ini hanya manusia biasa.” Galen mulai menganalisa.
“Bisa jadi, ucapanmu benar, Ga.” Riko ikut menyetujuinya.
Kali ini berbeda dengan pendapat para Dewi, mereka seperti mencium bau persaingan disana.
“Entah mengapa firasatku sedikit aneh melihat wanita ini.” ucap Auris.
“Aku juga sama, sebenarnya dia dewi apa?” tanya Vata masih melihat dengan intens Urvilla dari ujung rambut sampai ujung kaki.
“Aku mendengar rumor, dia adalah manusia, bukan dewi.” Tiba-tiba Sanya menyahut.
“Apa!?Bukankah dia bisa mengancam?” Auris terkejut mendengar apa yang di katakan Sanya barusan.
“Entahlah, kurasa ada yang spesial dari wanita ini. Anke tidak mungkin memilih sembarang orang untuk bekerja di restoran Dewa. Dia adalah Dewa takdir, dia tahu takdir manusia dan takdir dewa, pasti dia punya tujuan meletakkan wanita itu di restoran ini.” Jawab Sanya.
“Betul juga ucapanmu,” Auris akhirnya berfikiran yang sama.
“Mulai hari ini Urvilla akan menjadi pelayan di restoran ini, aku harap kalian bisa bekerja sama! Untuk senior disini, nanti malam aku akan mengadakan rapat, aku harap kalian tidak pergi dari tempat ini. Sekarang silahkan restoran kembali di buka, kalian bisa kembali bekerja!” Anke kembali masuk ke ruangannya.
Mereka semua langsung bubar dan mulai membuka restoran itu lagi, Urvilla kagum dengan semua yang bekerja disini, selain mereka tampan dan cantik, mereka sangat disiplin, gerakan mereka juga sangat cepat.
Sepertinya aku masih harus banyak belajar! Urvilla mulai membantu para pelayan untuk membersihkan meja dan membawa piring kotor ke dapur.
Para Dewa yang bekerja masih enggan untuk dekat dengan Urvilla karena mereka masih belum tahu apakah Urvilla ini manusia atau dewi, mereka memutuskan jaga jarak dengan Urvilla sampai Anke menjelaskan kepada mereka tentang semua ini.
Restoran tutup sekitar pukul sembilan malam, Urvilla cukup pegal dengan banyak pekerjaan yang datang menghampirinya. Restoran itu tidak pernah memberikan jeda untuknya bekerja, bahkan dia tidak ada waktu untuk mengobrol dengan pelayan yang lain. Urvilla benar-benar menikmati pekerjaannya kali ini, karena dia mampu terhindar dari hujan dan kebasahan yang selalu menghampirinya, tidak ada pelanggan satu pun yang membuatnya kesal.
Malam itu hanya dia yang berada di loker karena yang lainnya masih ada rapat dengan Anke. Urvilla mengganti kostum itu dengan pakaiannya sendiri, dia sudah bersiap untuk meninggalkan restoran itu.
Entah mengapa dia seperti terasing karena saat dia pulang, tidak ada sama sekali karyawan disana yang menghiraukannya. Urvilla akhirnya keluar dari restoran itu.
Semua dewa dan dewi yang bekerja disana tiba-tiba menghela nafas lega, banyak pertanyaan di benak mereka tentang Urvilla. Setelah melihat Urvilla pergi, Anke keluar dengan senyuman penuh arti, dia langsung duduk di kursi tengah.
“Anke, apa kau sudah gila?” tanya Riko langsung duduk menghadap ke arah Anke.
“Kau ini membuat jantung kami tidak berhenti berdebar,” komentar Tungga.
“Sebenarnya siapa wanita itu?Dia dewa atau manusia?”Auris sedikit tidak sabar.
“Iya, Jelaskan pada kami!” akhirnya semua menyudutkan Anke.
“Duduklah!Kalian tidak perlu sengotot itu untuk meminta penjelasanku. Tujuanku mengumpulkan kalian memang untuk hal ini.” mendengar ucapan Anke semuanya langsung duduk di kursi kosong yang ada di restoran itu.
“Wanita itu adalah manusia, tapi dia bukan manusia biasa, aku tidak bisa menjelaskannya. Kalian akan segera mengetahuinya, takdir yang tertulis tidak begitu jelas, tapi sebuah pertemuan akan terjadi disini. Wanita itu tidak akan membahayakan kalian disini, kalian boleh berteman dengannya, akan ada salah satu dari kalian jatuh hati kepadanya!Tapi dia bukan takdirnya,” penjelasan Anke membuat para dewa saling menatap, dalam pikiran mereka penuh dengan pertanyaan.
"Berarti salah satu dari kami akan lenyap?" komentar Riko penasaran.
Anke menaikan kedua bahunya, "Entahlah!"
Semua dewa dan dewi mendadak bingung, siapa diantara mereka yang akan jatuh hati kepada wanita itu.
"Aku rasa para dewi akan aman, karena tidak mungkin yang akan menaruh hati pada wanita itu wanita kan?itu pasti dari kalangan para dewa," ucap Sanya.
Para Dewi setuju dengan apa yang di katakan Sanya, spontan mereka berbalik menatap para dewa yang ada di belakang mereka, dengan mata para dewi yang sebenarnya.
"Firasatku tidak enak, kenapa para dewi mengeluarkan mata asli mereka?" tanya Riko yang tiba-tiba menepuk pundak Tungga.
"Aku rasa ada beberapa dari mereka merasa tersaingi karena kehadiran wanita itu." penjelasan Tungga membuat Riko mengangguk setuju.
"Kurasa juga begitu," ucap Riko.