Urvilla sudah sampai di rumah kontrakannya, dia merasa sangat beruntung karena hari ini dia tidak perlu bersusah payah untuk mengganti bajunya karena kebasahan. Dia hanya merasa ada yang aneh dengan semua orang di restoran itu, Apa mereka menghindariku?Apa memang biasanya mereka begitu?Entahlah! Urvilla berfikir sambil mengotak-atik pesan di handphonenya.
Tiba-tiba saja Urvilla penasaran dengan restoran dimana sekarang dia bekerja, dia menulis alamat restoran tersebut di halaman pencarian. Setelah mendapatkan hasilnya, Urvilla mengernyitkan dahinya, dia mencoba mencocokkan dengan alamat yang ada di surat panggilan kerjanya.
“Tidak mungkin, ini alamat yang sama, tapi bentuk restorannya berbeda. Apa ini gambar restoran yang dulu?” pikir Urvilla.
Entah mengapa dia ingin memeriksa emailnya setahun yang lalu, dia ingin memastikan jika dia benar-benar mengirimkan surat lamaran ke restoran itu. Setelah beberapa menit mencari, Kenapa tidak ada?apa aku mengirimnya lewat kurir?mungkin aku lupa, sudahlah, aku sudah bersyukur bisa mendapatkan pekerjaan ini. Urvilla mengurungkan niatnya untuk mengetahui lebih jauh tentang restoran itu, akhirnya Urvilla menuju ke kamar mandi, dia terlalu berkeringat hari ini, dia memutuskan untuk mandi.
***
Beberapa bulan telah berlalu, Oase mulai bertugas untuk mengganti musimnya lagi, Aku berharap kali ini tidak ada yang mengacaukan musimku! Salju pertama pun turun. Oase memandang musimnya dengan tersenyum, dia memutuskan untuk berkeliling dan melihat semua orang menyambut musim dingin dengan bahagia.
Natal akan segera tiba, anak-anak dan orang dewasa akan bermain di tengah salju. Entah mengapa aku menyukai pemandangan itu, ungkap Oase mulai berjalan di pinggiran kota. Tubuhnya berhenti di atas jembatan, dia memandang sungai sudah berwarna putih. Tiba-tiba dewa Cinta datang dan menepuk pundaknya.
“Bagaimana musimnya?Tidak ada yang berubah, bukan?”tanya Namo memandang wajah Oase yang sedikit berseri.
“Ya ... semuanya masih berjalan normal. Aku berharap tidak ada yang akan mengacaukan musimku, kali ini!Karena jika musim dingin ini berubah, aku yakin semua dewa pasti akan menghakimiku!Jika kamu juga menyalahkan aku saat itu terjadi, aku akan membunuhmu!” Oase menoleh ke arah Namo dengan mata yang berubah menjadi biru.
“Ah, kau suka sekali bercanda. Bagaimana bisa di tempat umum kamu memperlihatkan mata birumu itu?Baiklah, aku tidak akan menyalahkanmu saat hal itu terjadi,” Namo mencoba mengelus punggung Oase, agar mata birunya menghilang.
“Aku serius dengan ucapanku!” Mata biru Oase pun menghilang.
“Kamu sangat mengerikan, Oase. Iya, aku juga serius!” Komentar Namo yang sebenarnya sedikit takut.
Di sisi lain Urvilla yang sudah ada di restoran itu selama tiga bulan, membuat semua dewa yang bekerja disana kebingungan. Selama itu tidak ada sama sekali tanda-tanda keistimewaan dari Urvilla, karena semenjak bekerja di restoran Urvilla tidak merasakan sedih, kesal dan marah sama sekali.
Diam-diam para dewa ingin mengikuti Urvilla saat kembali ke rumah, mereka sangat penasaran dengan Urvilla dari awal mereka bertemu, hanya saja Galen menghentikannya.
“Biar aku saja yang mencari tahu!” Galen membuat dewa yang lainnya bengong.
“Tunggu!Kamu tidak sedang mengambil kesempatan, kan?Kamu Dewa yang paling pendiam, urusan seperti ini, biasanya kamu malas untuk ikut campur, kenapa sekarang kamu menawaran diri?”Riko merasa ada yang aneh dengan Galen.
“Aku tidak tahu alasannya, hanya saja, sepertinya aku bisa menemukan informasi yang kalian cari.” Galen yang selalu bersikap tenang itu membuat dewa lain mengernyitkan dahinya. Tanpa menunggu persetujuan dewa lain, Galen memakai mantel dan juga syalnya, lalu keluar dari restoran untuk membuntuti Urvilla.
“Ada apa dengan Galen?Apa kamu sepemikiran denganku?”Riko bertanya kepada Tungga.
“Iya, dia sedikit aneh.” Jawab Tungga.
Mereka berdua melihat Galen berjalan jauh lalu menghilang dari pandangan mereka, tiba-tiba saja saat berbalik, Anke berada di depan mereka.
“Astaga!” mereka berdua serentak terkejut.
“Kalian serius sekali?” tanya Anke.
“Ya Tuhan, kau datang seperti hantu. Aku dan Tungga sedang melihat Galen, sikapnya agak aneh hari ini. Dia menawarkan diri untuk mencari tahu tentang ... ” komentar Riko terputus ketika dia hampir keceplosan dengan rencananya untuk mengikuti Urvilla.
Anke tersenyum, “Urvilla?” sahutnya.
“Hehehehe ...” Riko tersenyum nyengir.
“Kalian ini memang tidak pernah sabar, dia tidak aneh, kurasa takdir itu sudah berjalan.” Anke langsung berbalik meninggalkan mereka.
Tungga dan Riko bengong mendengar apa yang sudah di katakan Anke, “Takdir sudah berjalan?” mereka mengucapkan dengan serentak.
Mata Riko tiba-tiba terbelalak, “Apa pemikiranmu sama denganku?” tanya Riko kepada Tungga.
“Kurasa iya, aku masih tidak percaya. Kita tidak bisa menyimpulkan terlalu cepat,” Tungga melipat tangannya kembali melihat keluar restoran.
Galen sampai di depan rumah Urvilla, dia benar-benar mengikutinya tapi tidak untuk sekedar melihat, Galen dengan berani mendekati Urvilla.
“Urvilla!” panggil Galen mencegah Urvilla untuk membuka pintu rumahnya.
Dia, pria bermata biru itu kan?Dia memanggilku?Di restoran saja, dia sangat pendiam, bagaimana bisa dia berbicara padaku sekarang? Urvilla sedikit heran tapi dia memutuskan untuk menjawab panggilannya.
“Hai,” Urvilla hanya bisa menyapanya begitu karena dia belum mengetahui namanya. Selama tiga bulan, sesama karyawan jarang bertegur sapa, bahkan tidak ada waktu untuk saling berkenalan sejak pertama kali berjumpa dengan mereka karena restoran itu sangat sibuk dengan pengunjung yang tidak berhenti berdatangan.
Galen yang bertubuh tinggi itu berjalan mendekati Urvilla dengan langkah perlahan, “Apa kamu bisa mengantarku ke supermarket?” pertanyaan Galen membuat Urvilla mengernyitkan dahi.
Apa dia sedang mengajakku pergi?Dengan tiba-tiba? Setelah sedikit berfikir Urvilla tersenyum, dia mengiyakan pertanyaan Galen dengan menganggukkan kepalanya. “Tentu,”
Urvilla kembali memasukkan kunci ke dalam tas, mereka akhirnya berjalan bersama. Hening sesaat ketika mereka berjalan di tengah salju yang sedang turun.
“Sepertinya kita belum berkenalan secara langsung, namaku Galen.” Galen mencoba membuka pembicaraan.
“Galen? nama yang bagus. Aku yakin kamu sudah tahu siapa namaku?” jawab Urvilla dengan pertanyaan.
“Ya, kamu benar. Aku sudah tahu namamu, Apa kita bisa berteman setelah ini?” Galen seolah membuka ruang untuk lebih dekat dengan Urvilla.
“Ya, tentu. Kita sudah menjadi teman kerja, walaupun kita tidak pernah saling menyapa, karena terlalu sibuk dengan pekerjaan di restoran.” ucapan Urvilla kali ini memang masuk akal.
“Apa kamu menikmati pekerjaanmu?”Galen mulai sesekali menoleh.
“Kurasa aku menikmati pekerjaanku, tidak banyak bicara sepertinya sangat membantu, karena aku bisa mengatasi kelemahanku, aku tidak mau kehilangan pekerjaan lagi!” mendengar ucapan Urvilla, membuat Galen semakin penasaran.
“Apa kelemahanmu bisa mengacaukan pekerjaan?” Galen mencoba mencari tahu.
“Bukan hanya pekerjaan tapi kehidupan juga,” jawaban Urvilla semakin membuat Galen ingin tahu lebih jauh.
Mereka sampai di Supermarket, Galen yang hanya beralasan, tetap membeli sesuatu di supermarket. Mereka berdua berkeliling, Galen mulai memilih beberapa barang lalu memasukkannya ke troly, Urvilla juga memasukkan sedikit makanan lalu memasukkannya ke dalam troly. Mereka berdua menuju ke kasir, Galen membayar semuanya.
“Jangan membuatku berhutang padamu!” ucap Urvilla ingin mencegah Galen.
“Aku tidak akan menganggap ini hutang, anggap saja ini hadiah untukmu.” Ucap Galen setelah berhasil memberikan uangnya kepada petugas kasir.
Mereka keluar dari supermarket setelah selesai berbelanja, mereka menggunakan jalan lain untuk kembali, baru beberapa langkah mereka berjalan. Tiba-tiba di jalanan yang sangat sepi itu mereka melihat seorang pria sedang memukuli seorang anak kecil dengan batang kayu hingga terduduk di pinggir jalan dengan berlumuran darah, pria itu seperti sedang waspada melihat kesekeliling tidak akan memperhatikan aksinya. Tanpa berfikir panjang Urvilla berlari mendekati pria itu, membuat Galen berteriak, "Jangan Urvilla!" lalu dia mengikutinya. Urvilla sangat emosi, dia mendorong pria itu hingga tersungkur ke tanah.
Galen terkejut saat melihat musimnya, salju tiba-tiba berhenti, petir menyambar sangat kencang, “Apa yang terjadi?” Galen bingung.
Pria itu masih bisa berdiri, “Jangan ikut campur dengan urusanku!” Pria itu melayangkan tinju ke arah Urvilla, Urvilla berhasil menangkisnya. Kali ini Urvilla benar-benar menghajar pria itu, petir sekali lagi menyambar dan hujan pun turun. Pria yang di hajar langsung lari terbirit-b***t, Galen hanya bisa bengong, dia tidak hanya heran dengan keberanian Urvilla tapi dia juga heran dengan musimnya.
Tidak mungkin, musim salju akan berubah menjadi musim hujan dalam waktu secepat ini, apakah ini? bahyak pertanyaan berkecambuk di pikiran Galen.
“Dasar pria tidak punya perasaan!Memangnya urusanmu adalah membunuh anak kecil? pria itu sudah gila dia sudah membuatnya pingsan tapi masih memukulinya,” Urvilla langsung menggendong anak kecil itu ke dalam pelukannya ditengah hujan yang deras karena emosi Urvilla belum mereda.
Urvilla lupa jika kali ini ada yang melihatnya, dia menyadari musimnya berubah, Aku yakin ada banyak pertanyaan dikepalanya. Batin Urvilla
“Galen apa kamu bisa menyetop taksi, kita harus membawanya kerumah sakit!” ucapan Urvilla membuat Galen tersadar dari lamunannya.
“Ya, aku akan menyetop taksinya!” Galen langsung turun ke jalan.
Galen masih ragu dengan kesimpulannya, dia menunggu saat yang tepat untuk memastikan apa yang dilihatnya saat ini.