Titik Terang

1609 Kata
Galen berhasil menyetop taksi, Urvilla dan dirinya masuk bersama dengan anak kecil yang sudah bersimbah darah. Galen terus melihat ke arah Urvilla yang basah kuyup melebihi dirinya, hujan sudah berubah menjadi gerimis tidak sederas tadi. Sepanjang perjalanan Galen melihat salju putih menghilang dari jalanan akibat hujan yang datang. Urvilla masih belum berniat bercerita dengan Galen hatinya masih khawatir dengan anak kecil yang mulutnya berdarah dan kepalanya terluka. “Aku berharap dia selamat!Dia masih belum memiliki dosa, aku berharap Tuhan melindunginya!” ucap Urvilla membuat Galen terus memperhatikannya. Beberapa menit kemudian Galen dan Urvilla sampai di halaman Rumah sakit, mereka langsung keluar dari taksi setelah membayar ongkosnya. Urvilla berlari dengan sangat cepat, mencari bantuan siapapun yang bisa membantunya. “Suster!Suster tolong anak ini!Dia sekarat,”ucap Urvilla yang terus melihat darah bercucuran di pelukkannya bahkan sekarang sudah merembes ke baju basahnya. Suster itu langsung menyediakan tempat tidur, lalu meletakkan anak kecil itu diatasnya, dokter dan suster mulai berdatangan lalu membawanya ke Instalasi Gawat darurat. Urvilla dan Galen akhirnya menunggu di ruang tunggu, Urvilla mulai kedinginan, dia mengambil obat pendorong hormon bahagianya untuk bisa menghentikan kebasahan yang terus keluar dari bajunya, dia lupa membawa baju ganti di dalam tasnya. Galen masih terus memperhatikan Urvilla, “Apa kamu baik-baik saja?Apa yang baru saja kamu telan?” Galen terlihat penasaran. “Obat pendorong hormon bahagia,”ucap Urvilla mulai menyandarkan tubuhnya. “Kenapa kamu menelan obat itu?” tanya Galen sekali lagi. Urvilla menghela nafas, “Ini adalah kelemahan yang kubilang tadi, setiap aku marah, aku emosi atau sedih, maka petir akan datang kemudian hujan turun, walaupun aku di bawah atap air akan terus keluar dari tubuhku, hingga membuatku basah seperti terguyur hujan deras. Aku harus meminum obat ini ketika aku sulit mengendalikan rasa sedih dan emosiku, agar hujannya berhenti dan aku tidak lagi mengeluarkan air di dalam tubuhku. Bodohnya aku, hari ini aku lupa membawa baju ganti. Sekarang kamu pasti menganggapku orang aneh?” Urvilla menoleh ke arah Galen yang mulai mengerti dengan perubahan musimnya. “Jadi begitu, aku tidak menganggapmu orang aneh, aku melihatmu menarik dari awal kita bertemu di restoran itu.” Ucapan Galen membuat Urvilla tersenyum. “Kamu hanya mencoba menghiburku, kan? kelemahanku ini beberapa kali membuatku kehilangan pekerjaan, karena aku selalu membasahi lantai restoran tempat sebelumnya aku bekerja, mereka melihatku aneh dan terus merundungku hingga akhirnya boss mengeluarkan aku. Astaga! kenapa aku jadi menceritakan semua padamu?”Urvilla tersadar jika dia sudah menceritakan sesuatu yang terlalu jauh tentang dirinya sendiri. “Kamu bisa menceritakan keluh kesahmu mulai hari ini padaku, aku adalah temanmu sekarang di restoran, maupun ketika kamu berada diluar restoran.” Kali ini Galen benar-benar membuka peluang untuk dekat dengan Urvilla. Urvilla tersenyum, “Terimakasih, kamu terlihat baik sekali.” Urvilla sedikit menggigil. “Tunggu!Aku akan keluar sebentar!” ucap Galen yang langsung pergi meninggalkan Urvilla tanpa menunggu Urvilla menjawabnya. Urvilla bingung, dia mau pergi kemana? Pikirnya. “Udaranya sangat dingin, hujan sudah berhenti dan salju kembali turun. Aku lupa membawa baju ganti, ini adalah keteledoranku. Jika besok aku mendekam di rumah sakit, sepertinya itu sudah menjadi resiko,” Urvilla menggerutu pelan sambil sedikit mengibaskan bajunya yang basah. *** Oase yang masih berada di atas jembatan bersama Namo sang dewa cinta mulai kesal, matanya kembali biru, walaupun hujannya sudah mereda dan saljunya kembali turun. Emosinya masih belum mereda. “Tenanglah Oase, seperti yang aku bilang. Ini saatnya kamu bertindak!jangan marah!itu sangat berbahaya, carilah solusi, aku yakin pasti ada jawabannya.” Namo memberikan saran sambil terus mengelus punggung Oase agar emosinya mereda. “Aku ingin kembali ke rumah dewa!” Oase langsung beranjak dari tempatnya lalu pergi dari atas jembatan itu, Namo yang ditinggalkan begitu saja akhirnya mengikuti Oase. Dewa terbiasa dengan teleportase, sehingga tidak membutuhkan waktu lama untuk berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Oase dan Namo sampai di ruang pertama rumah dewa, sepertinya semua dewa sudah tahu jika Oase akan datang. “Bagus, kamu datang sesuai perkiraan.” Ucap dewa bumi. “Kamu benar-benar sudah gila, mengubah musim sesuka hati apa maksudmu?” Dam sebagai dewa mimpi ikut kesal. “Kamu mematahkan harapan banyak orang, mereka baru saja menikmati salju pertama, lalu tiba-tiba turun hujan. Jangan mengacaukan tugasku, Oase!” Biner sebagai dewa Harapan mengucapkan kekecewaannya untuk memperingatkan Oase. Dewa lainnya mulai terdengar mengoceh, mata biru Oase masih belum menghilang, kali ini dia benar-benar sedang kesal. Musimnya kacau, dia kena marah semua dewa, Oase mulai mengepalkan tangan tanpa bicara sama sekali. Namo yang ada di belakang Oase mulai memberi isyarat kepada semua dewa untuk berhenti memojokkan Oase, tapi mereka semua tidak paham. Oase melihat guci yang ada di samping kanan, dia menatapnya lalu tiba-tiba guci itu pecah, "Pyar!" Semua Dewa yang sedang riuh membicarakan Oase langsung diam, kemudian suasana berubah menjadi hening. Nah kan, dia marah! Batin Namo yang gagal menghentikan para dewa untuk menekan Oase. Oase tersenyum jahat, dia langsung menuju ke lantai dua dan meninggalkan para dewa yang baru saja menghakiminya. Namo mencoba meluruskan segalanya yang terjadi. “Kalian ini tidak bisa diam!Dia sedang kacau karena musimnya di kacaukan oleh orang lain, tapi dia tidak tahu siapa yang melakukannya, itu bukan kesalahannya!Kenapa kalian tidak mengerti isyaratku?” “Bagaimana bisa bukan dia pelakunya?Hanya dia dewa yang bisa mengendalikan musim, jangan bercanda Namo!” komentar Dam. “Dia pernah tidak bisa menghentikan hujannya dan aku melihatnya sendiri. Jadi tunggu semua ini mendapatkan titik terang," sepertinya ucapan Namo tidak di gubris bahkan terkesan diabaikan, semua dewa yang berkumpul, masih bergemuruh dan sepakat akan melayangkan protes kepada dewa ketua, supaya Oase di hukum. Dengan tiba-tiba ada suara yang datang mengagetkan mereka semua. "Kata Namo benar, kalian harus bersabar sampai ada titik terang. Karena kemungkinan perubahan musim akan terus terjadi tanpa prediksi. Itu kehendak langit bukan kesalahan Oase." penjelasan dewa ketua membuat mereka berhenti bergunjing. "Terimakasih Dewa ketua, akhirnya mereka mau mendengarkanku," keluh Namo sambil Menghela nafas lega. "Ada tugas yang harus kamu kerjakan pergilah ke tempat dewa pembaca, kamu akan mengetahui tugasmu disana!Biar mereka aku yang mengurusnya!" perintah Dewa Ketua. "Baik Dewa ketua," Namo langsung menuruti perintah Dewa ketua, "Tumben sekali dewa ketua, mengingatkan tugasku?Oh, mungkin moodnya lagi baik."Namo masih melangkahkan kakinya menuju ruang Dewa Pembaca. Oase telah sampai lebih dulu ke tempat dewa pembaca, mata birunya masih belum hilang, tanpa mengetuk pintu, Oase langsung membuka pintunya. Dewa Pembaca yang masih berada di mejanya sedikit terkejut melihat siapa yang datang. "Apa kamu tidak bisa mengetuk pintu sebelum masuk keruanganku?"Dewa pembaca menutup buku yang baru saja di bacanya. Oase sudah berada di depan meja dewa pembaca sekarang. "Aku sedang kesal, tidak ada waktu untuk mengetuk pintu. Aku butuh bantuanmu Dewa Pembaca!" sepertinya Oase tidak sabar untuk menemukan solusi dari masalahnya. "Hilangkan dulu mata birumu itu! Jika kamu sampai mengacak-acak lemari buku karena mata birumu itu, kamu akan langsung dikirim ke mercusuar dan akan mendekam selamanya disana!" "Baiklah," Oase menghilangkan mata birunya, "Sudah ku hilangkan, bantu aku mencari tahu siapa yang mengacaukan musimku hari-hari ini!" "Aku harus membaca buku takdirmu, apa kamu tidak keberatan?aku tahu dewa sangat membenci hal itu, karena mereka jadi khawatir dengan tugas-tugas mereka nanti, apa kamu akan baik-baik saja?" Dewa pembaca memastikan. "Jika hanya itu caranya, lakukan saja! Aku tidak mungkin membiarkan musimku di kacaukan lagi, itu juga akan membuatku di kirim ke mercusuar, jika terjadi kesalahan lagi." jelas Oase. "Baiklah kalau begitu, aku akan mencari buku takdirmu dulu!" Dewa pembaca menaiki tangga yang tidak menapaki lantai, dia seolah terbang untuk mencari buku takdir Oase. Dewa Pembaca akhirnya menemukannya, dia menuruni tangga lalu kembali ke kursinya. Setelah membuka beberapa halaman buku, Dewa pembaca bingung, Kenapa tidak ada kelanjutannya? Kenapa bagian setelah ini kosong? Bukankah takdir yang tertulis pasti sampai akhir hayat? Apa dewa takdir lupa menulisnya atau belum selesai?Aku tidak percaya Oase memiliki takdir seperti ini?Pikir dewa pembaca penuh dengan pertanyaan dikepalanya. "Kenapa diam? Cepat bacakan!" Oase mulai tidak sabar. Dewa pembaca menghela nafas, dia memutuskan untuk membaca sedikit hal penting sesuai dengan keperluan Dewa Oase. "Jika kamu ingin tugasmu tidak kacau lagi maka kamu harus menemui wanita ini, dia bernama Urvilla, kamu harus mencintainya, kamu akan bertemu dengannya seminggu dari sekarang, hanya dengan cara itu maka tugasmu akan berjalan dengan lancar." ucap Dewa pembaca. "Menemui wanita bernama Urvilla?Harus mencintainya?Apa hubungannya, perubahan musim dengan wanita itu?Jangan bercanda!" Oase masih tidak percaya dengan apa yang di bacakan dewa Pembaca. "Kamu pasti tahu, dewa tidak boleh berbohong, jika dewa melakukan kebohongan kamu tahu kan resikonya?Di kurung di mercusuar. Aku jelas tidak mau kesana, aku hanya bisa memberitahukan hal ini padamu, selebihnya kamu harus menjalani takdirmu, untuk menemukan jawabannya!" jawab Dewa pembaca meyakinkan Oase. "Apa dia manusia?Jika dia manusia bukankah aku akan lenyap jika mencintainya?" Oase mulai khawatir. "Aku tidak tahu, buku takdirmu agak aneh, dia tidak menjelaskan secara rinci, siapa Urvilla dan Urvilla manusia atau dewi, disini akhir ceritanya pun tidak ada, buku ini masih kosong di bagian belakang!" Dewa pembaca mencoba membolak-mbalikkan buku itu sekali lagi. "Astaga!Masalah ini benar-benar membuat kepalaku pusing!Tidak ada cara lain, aku harus menemui Dewa Takdir, aku tidak habis pikir, buku takdir saja tidak ada kejelasan!" komentar Oase sedikit geram, Oase langsung pergi ke tempat dewa takdir di restoran itu dengan teleportasi tanpa berpamitan dengan Dewa Pembaca. Beberapa detik kemudian, Namo datang ke ruangan Dewa Pembaca.  "loh, dimana Oase?" Namo ,melihat kesegala arah tapi tidak menemukan Oase disana. "Dia ke tempat dewa takdir," Dewa pembaca sedang mencari tahu tentang buku takdir Oase yang kosong. "Astaga! Dia meninggalkanku. Dewa ketua bilang, ada tugas disini!Apa kamu tahu tugasku apa?"  "Tugasmu mengikuti Oase ke tempat Dewa Takdir, disana kamu akan tahu tugasmu apa?"Dewa pembaca tidak menoleh sedikit pun untuk melihat Namo, dia masih serius membaca takdir dewa Oase. Namo sedikit bingung,"Baiklah, Dewa terimakasih." akhirnya Namo pergi untuk menyusul Oase menggunakan teleportasi       Vgg
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN