Menjalani Takdir

1295 Kata
Galen kembali ke rumah sakit, dia sudah membeli satu setel baju ganti dan dalaman untuk Urvilla lengkap dengan jaket musim dingin. Urvilla yang masih duduk di tempat yang sama akhirnya menoleh, ketika Galen datang. “Gantilah bajumu dengan ini!” Galen memberikan satu kantong plastik hitam kepada Urvilla. Urvilla menerima kantong plastik itu, setelah melihat isinya dia mulai merasa tidak enak, “Terimakasih banyak, kamu keluar hanya untuk membelikanku ini, Galen?” tanya Urvilla. “Ya ... aku rasa musim dingin akan membuatmu masuk angin jika kamu masih memakai pakaian basah itu. Gantilah di kamar mandi!Aku akan menunggu anak kecil itu disini.” “Baiklah, tunggu sebentar!” Urvilla bergegas menuju kamar mandi yang terletak tidak jauh dari tempat duduknya tadi. Kamar mandi dalam keadaan sepi, Urvilla masuk ke salah satu kamar mandi. Dia mulai mengeluarkan pakaian dari satu kantong hitamnya, cukup terkejut ketika Galen membelikan setelan pakaian dalam yang pas dengan ukurannya. Apa dia sangat memahami wanita?Dia tidak melihat ukuranku dadaku, kan? Urvilla melihat ke arah dadanya sendiri. Setelah bercengkrama dengan dirinya sendiri Urvilla menanggalkan semua pakaiannya lalu segera mengganti dengan pakaian barunya. Sepuluh menit kemudian, Urvilla keluar dari kamar mandi. Dia sudah merasa lebih hangat sekarang. Urvilla berjalan ke tempat duduknya yang tadi, “Apa sudah ada kabar dari dokter?” tanya Urvilla sambil memasukkan pakaian basahnya yang sudah di masukkan ke dalam kanton hitam ke dalam tasnya. “Belum,” Galen menggelengkan kepala. Hanya memakai pakaian seperti ini saja, dia kelihatan sangat menarik. Galen diam-diam mencuri pandang melihat ke arah Urvilla yang sudah memakai baju yang dia belikan. “Ternyata, pakaian ini cocok untukmu.” Komentar Galen, membuat Urvilla spontan melihat penampilannya sendiri. “Kamu pintar memilih ukuran terimakasih, bagaimana kamu tahu ukuran tubuhku?” Urvilla penasaran. “Aku hanya mencoba menebak dan sedikit memperkirakan ukuran bajumu, maaf jika dalamannya tidak pas, aku menyerahkan hal itu kepada karyawan toko. Aku bilang sesuaikan saja dengan bajunya!” penjelasan Galen membuat Urvilla mengerti. “Ah, tidak apa, kamu sudah membelikan aku baju, aku sangat bersyukur, kebetulan semuanya pas sesuai ukuranku. Karyawan toko itu sepertinya sangat paham dengan ukuran wanita,” Tiba-tiba pintu IGD terbuka, dokter keluar dari sana, Urvilla dan Galen spontan berdiri untuk menemui dokter. “Apa kalian wali dari anak ini?” tanya dokter itu. “Iya, kami walinya,” tanpa berfikir Urvilla langsung menjawab, Galen hanya tersenyum menuruti Urvilla di sampingnya. “Untung kalian segera membawanya kemari, tadi dia dalam keadaan kritis, terlambat sedikit saja, mungkin nyawanya tidak tertolong lagi. Dia akan segera dibawa ke ruang rawat khusus anak, kalian bisa urus administrasinya. Aku rasa dia akan lama tinggal disini karena sekarang dia mengalami koma,” jelas dokter itu. “Terimakasih dok,” jawab mereka berdua. “Baiklah, aku ada pasien lain, aku tinggal dulu.” Dokter itu berlalu begitu saja. Urvilla dan Galen menganggukkan kepalanya. “Kita harus bagaimana sekarang?kita harus menemukan keluarganya, kasian sekali anak kecil itu.” keluh Urvilla. “Setelah dari Administrasi, kita akan pikirkan caranya mencari keluarganya, aku rasa rumahnya tidak jauh dari kejadian tadi. Kita coba memeriksanya,” Galen memberi saran. Urvilla mengangguk, dia dan Galen menuju ke ruang administrasi. “Aduh, maafkan aku, aku hanya punya uang segini,” Urvilla mengeluarkan uang dua lembar dari dalam dompetnya. “Biar aku saja,” Galen mengeluarkan kartu birunya. Pembayaran Administrasinya pun lunas. Anak kecil itu sudah berada di ruang rawat, Galen dan Urvilla menuju ke ruang rawat untuk melihat kondisi anak kecil yang koma setelah menyelesaikan administrasinya. *** Oase sudah sampai ke ruangan Anke di restoran, Anke terlihat sedang bersantai diruangannya sambil menyesap rokok di mulutnya. Setelah Oase datang. “Ternyata kamu datang lebih cepat dari dugaanku,” ucap Anke sambil melepas rokok yang ada di mulutnya. “Kamu pasti sudah tahu takdirku, kan, Anke?Bisa-bisanya takdirku tidak jelas dan masih kosong di beberapa lembar terakhir?” Oase yang tanpa basa-basi itu langsung mengucapkan tujuannya. “Takdirmu memang sedikit aneh, aku pun bingung, aku tidak tahu akhir dari takdirmu akan seperti apa?” ucap Anke menyenderkan tubuhnya di sandaran kursi. “Lalu?Aku benar-benar harus mencintai wanita itu?Baru musimku tidak akan berubah lagi?” Oase mengernyitkan dahinya cukup bingung dengan kenyataan ini. “Salah satu caranya, hanya menjalani takdirmu. Kamu sudah tahu kan, akan bertemu dengannya seminggu lagi?” “Ya ... walaupun itu sebenarnya terlalu lama. Aku masih tidak paham apa hubungannya wanita itu dengan musimku yang berubah, terus aku harus mencintainya, jika dia manusia aku pasti akan lenyap. Sedangkan di buku tidak di jelaskan wanita itu manusia atau dewi. Apa takdir memang ingin membunuhku?” Keluh Oase menggaruk-nggaruk kepalanya yang tidak gatal karena terlalu pusing. “Aku tidak bisa mengubah takdirmu, karena itu kehendak langit, tapi aku bisa mempercepat waktunya jika kamu mau. Saranku jalani saja takdirmu itu, kamu pasti akan menemukan jawabannya. Jujur aku penasaran dengan akhirnya,”Anke membuat Oase sedikit berfikir. Oase menghela nafas, karena tidak menemukan jalan keluar lagi, “Baiklah aku akan menjalani takdirku, aku setuju jika itu di percepat!” Anke tersenyum, tiba-tiba Namo datang juga ke ruangan Anke. “Kamu bisa-bisanya meninggalkanku, Oase! Hai Anke,” sapa Namo dengan senyum khasnya. “Kebetulan yang bagus, Dewa cinta ada disini. Kalian berdua besok datanglah ke restoran ini, lewat pintu depan, aku yakin Namo akan sangat membantumu kali ini.” ucap Anke. Namo menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sebenarnya apa yang akan aku lakukan?Apa tugasku? Namo masih tidak mengerti. “Kamu sudah mempercepat takdir?” Oase memastikan. “Sudah,” Anke menjawab dengan singkat. “Baiklah, terimakasih.” Oase dan Namo akhirnya memutuskan kembali ke rumah Dewa. “Waktunya telah tiba, sepertinya natal tahun ini akan sangat berbeda dengan tahun kemarin. Tapi, aku suka kisah cinta yang manis,” Anke menyesap rokoknya lagi sambil mengepulkan asap ke udara sesekali. *** Galen dan Urvilla sudah menjenguk anak kecil itu dari kaca karena dia masih koma, mereka hanya bisa melihatnya dari kaca. “Malangnya nasib anak itu,” Urvilla mengelus kaca yang ada di hadapannya. “Aku yakin dia kuat, dia bisa bertahan saja itu sudah bagus.” Sahut Galen. “Benar juga ucapanmu,” “Sebaiknya kita pulang, besok seusai bekerja kita akan mencari informasi tentang keberadaan orang tuanya!Aku takut kamu kelelahan jika sekarang kita mencari orang tuanya,” Galen memberi saran. “Baiklah, kamu benar." Galen dan Urvilla akhirnya pulang, Galen mengantar Urvilla sampai ke depan pintu rumahnya. “Terimakasih bajunya, Galen.” “Sama-sama, sampai jumpa besok Urvilla. Beristirahatlah!” Galen melambaikan tangan sebelum pergi meninggalkan Urvilla. Urvilla membalas lambaian tangan Galen lalu berbalik dan membuka pintu rumah kontrakannya. Galen juga kembali ke rumah dewa, semua para dewa dan dewi tinggal disana, ada sebagian yang tinggal juga di restoran. Sepanjang perjalanan Galen tersenyum membayangkan kebersamaannya dengan Urvilla hari ini, “Aku rasa aku tahu kenapa Anke memilihnya, dia memang spesial, tapi aku masih belum mengerti, dia ini manusia atau dewi?” Ketika berbicara sendiri, tiba-tiba saja Anke berjalan disampingnya. “Astaga!Anke?” Galen terlihat sangat terkejut tapi masih berjalan santai. “Kamu membicarakanku, makanya aku datang.” Jawab Anke yang masij stay cool di sampingnya. “Pasti ada yang ingin kamu bicarakan,” Galen sepertinya bisa menebak. “Tepat sekali, aku yakin kamu sudah tahu apa yang spesial dari Urvilla.” Anke berhasil menebak karena dialah Dewa Takdir. “Ya ... aku tahu.” “Jangan beritahukan kepada siapapun!Karena besok adalah waktunya mereka melihat kenyataan. Kamu ada dalam takdirnya, jangan bertanya lebih jauh!Aku yakin sampai akhir kamu akan baik-baik saja.” Mendengar penjelasan Anke membuat Galen berhenti melangkah lalu menoleh ke arah Anke, dia masih diam dan tidak menjawab apapun. Anke juga ikut berhenti, Anke menepuk pundak Galen, “Kamu ditakdirkan menjadi orang baik, Galen. Aku yakin kamu mengerti ucapanku, ayo kita pulang ke rumah dewa!” Setelah Anke menepuk pundak Galen, mereka melakukan teleportasi untuk sampai ke rumah Dewa.          
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN