Bhhb
Udara masih terasa dingin dan salju masih turun seperti biasanya, Urvilla sudah berada di restoran pagi itu. Dia sangat bersemangat membersihkan ruangan restoran.
Semua karyawan mulai berdatangan satu persatu. Ada beberapa dari mereka sudah mulai menyapa Urvilla.
"Hai Urvilla," satu pelayan bernama Nina masuk ke dalam restoran.
"Wah kamu rajin sekali," sahut yang lainnya lagi sambil masuk ke dalam restoran
Restoran pagi itu mulai siap di buka, Oase sudah tidak sabar, dia datang sangat pagi tanpa Namo.
"Kenapa Anke menyuruhku lewat pintu depan?" Oase terlihat malas untuk masuk melalui pintu depan.
Oase pergi ke area bar, tanpa sadar Urvilla dan Oase berpapasan, setelah berpapasan Oase merasa ada yang aneh, lalu spontan dia menoleh ke arah Urvilla.
Aku merasakan ada hawa berbeda di wanita itu, dia juga tampak asing di restoran ini, apa dia baru? Batin Oase dalam hati, dia memutuskan untuk kembali menoleh ke meja bar dan memesan kopi.
"Nin, aku pesan kopinya satu!" ucap Oase yang memang sudah mengenal beberapa karyawan disana termasuk Nina seorang bartender wanita yang juga merupakan dewi.
"Oh, kak Oase. Tumben sekali mampir kesini?Apa ada urusan dengan Anke?" Nina yang baru saja menoleh langsung membuatkan pesanan Oase.
"Aku disuruh kesini lewat pintu depan oleh Anke. Tapi aku tidak tahu apa maksudnya, aku juga sedang menunggu Namo." jawab Oase melihat kecekatan Nina saat meracik minuman.
"Oh begitu, Ini, kak kopinya!" Nina meletakkan cangkir kopi di hadapan Oase.
"Terimakasih," Oase yang tergugah selera saat mencium aroma kopi langsung menyesapnya perlahan.
"Wah, kamu hebat meracik kopi ini, sangat enak." puji Oase.
"Ahh, terimakasih, kak. Itu resep baru, aku baru saja membuatnya kemarin, syukurlah jika kak Oase suka." jelas Nina sedikit bangga dengan hasil racikannya.
Tiba-tiba Namo muncul dan menepuk pundak Oase yang sedang menikmati minumannya.
"Darr!" Namo mencoba mengagetkan Oase, Oase yang terkejut malah menjatuhkan bibirnya ke minuman kopinya yang masih panas.
Oase mengangkat bibirnya, dia langsung mengambil tisu yang ada di sebelah kanannya, "Apa kamu tidak bisa melihat, aku sedang minum? Panas!" Oase mengusap bibirnya dengan tisu berharap rasa terbakar itu mereda.
"Ahh, maaf, maaf aku tidak melihat." Namo mendadak panik, dia mengambilkan tisu lagi untuk Oase.
"Kamu ini ... iya aku maafkan." rasa terbakar itu mulai sedikit menghilang.
"Hei, ceritakan padaku! Apa yang dibicarakan dewa pembaca kemarin? Apa dia sudah membacakan takdirmu?Apa kamu sudah tahu orang yang mengacaukan musimmu?" beberapa pertanyaan mulai menghujani Oase.
"Astaga banyak sekali pertanyaanmu?" Oase kembali menyesap kopinya.
"Karena tugasku berkaitan denganmu. Aku bingung, tugasku apa? Kemarin Anke mengatakan jika aku akan sangat membantumu hari ini, aku melakukan apa? Makanya ceritakan padaku, sekarang!"
"Baiklah, aku akan menceritakan kepadamu!Walaupun sebenarnya aku malas membahasnya!" Oase mulai clingak-clinguk melihat ke segala arah, berharap tidak akan ada satu orang pun yang mendengarkan ucapannya.
Oase menceritakan semuanya dari pertemuannya dengan dewa pembaca maupun dengan Anke.
Namo tiba-tiba terkejut, "Apa?Kamu harus men--" Namo tiba-tiba berbicara dengan suara sedikit keras membuat Oase langsung membekap mulutnya sebelum kalimatnya selesai.
"Hah, kamu ini, kenapa berbicara keras sekali?" semua orang spontan menoleh ke arah mereka berdua tapi Oase mampu meredam pikiran mereka lalu kembali berbalik.
Namo memukul tangan Oase agar dia melepas bekapannya, Akhirnya Oase melepasnya, "Hah, maaf, maaf, habis aku syok mendengarnya. Takdirmu memang sedikit aneh, Bagaimana bisa mencintai wanita bisa menghentikan perubahan musim yang kacau ini?Semua ini tidak masuk akal."
"Kamu tahu kan sekarang, bagaimana bingungnya aku?Anke telah mempercepat waktunya, lalu tiba-tiba menyuruh kita berdua ke restoran ini melalui pintu depan, sebenarnya apa yang dia rencanakan?" Oase masih belum mengerti.
"Tunggu!Aku mulai mengerti tugasku apa," Namo membalikkan badan untuk melihat kesekeliling.
"Memang apa yang akan kamu lakukan?" Oase masih menghadap meja bar sambil menghabiskan kopi di hadapannya.
"Setidaknya, jika kamu ingin tahu siapa wanita itu, seorang manusia atau dewi, kamu harus menemuinya. Apa wanita itu ada di tempat ini, ya?" Namo mencoba menganalisa.
Namo adalah dewa Cinta yang bertugas menyatukan setiap hati manusia dan hati setiap dewa, dia tahu dimana benang terulur dengan pasangan sejati mereka, tugasnya adalah membuat kisah cinta menjadi berwarna, bahkan dia bisa membuat sebuah pertengkaran, kesalahpahaman yang berujung pada kisah cinta yang romantis. Namo tidak hanya menyatukan hati manusia dengan pasangan mereka tapi dia juga menyatukan ikatan hati antara orang tua dan anaknya, ya tugasnya adalah membuat cinta itu tumbuh sesuai takdir mereka.
Mendengar ucapan Namo, Oase baru sadar, "Oh iya, pantas saja Anke bilang begitu, ini kan memang tugasmu. Apakah itu berarti kamu tahu, dimana wanita itu?" Oase mulai kepo melihat Namo sedang serius menganalisa setiap orang yang duduk di sana.
"Kurasa aku tahu, tapi aku tidak bisa memberitahukan kepadamu. Yang bisa aku lakukan adalah mendekatkanmu dengan caraku! Berikan tanganmu!"
Perintah Namo tiba-tiba membuat Oase menuruti apa yang Namo perintahkan tanpa bertanya sama sekali, setelah tangannya sudah ada di genggaman Namo, dengan kasar Namo menariknya, kebetulan sekali Urvilla sedang lewat membawa nampan berisi minuman, melihat ada orang dihadapannya Oase terkejut tapi dia tidak bisa mengendalikan tubuhnya dari kursi, hingga membuat Oase terjatuh dan menimpa tubuh Urvilla di hadapannnya.
"Pyar!" Suara gelas yang pecah membuat semua orang menoleh.
Namo tersenyum, sepertinya berhasil. ungkapnya.
Mendengar suara gelas yang terjatuh membuat semua orang mulai berkumpul melihat kejadian di dekat bar.
Mata Oase bertemu dengan Urvilla, jantung mereka sama-sama berdebar karena sekarang Oase ada di atas Urvilla namun sayangnya, keadaan tidak seromantis di drama korea, Urvilla menyadari apa yang di pegang pria dihadapannya saat ini, dia melihat ke arah dadanya. Oase pun sadar, ada benda kenyal yang menyapa tangannya. Oase hanya melotot sesaat lalu, Urvilla berteriak.
"Arrggghhhh!!!" Urvilla yang berteriak membuat Oase ikut berteriak, "Arrgghhhh!!" Oase membanting tubuhnya ke samping dan Urvilla langsung bangun menyilangkan kedua tangannya ke d**a.
Oase ikut berdebar melihat kedua tangannya dengan wajah bingung, semua dewa berkumpul melihat kejadian itu. Urvilla dan Oase kembali saling menatap setelah keduanya duduk, Urvilla mulai emosi, dia menatap Oase dengan perasaan kesal, mencoba mengendalikan dirinya tapi tidak bisa, tiba-tiba langit berubah menjadi mendung dan petir menyambar. Oase bingung melihat musimnya.
Musimnya berubah? ucap Oase sembari melihat ke arah luar jendela dari posisi yang sama.
waktu itu Namo dan semua dewa pun terkejut dengan apa yang terjadi, mereka sekarang fokus melihat musimnya, tapi mata Urvilla tidak berpindah menatap Oase yang membuat dirinya merasa di lecehkan. Oase yang sadar di perhatikan kembali melihat mata Urvilla, Tiba-tiba saja ...
"Plak!"
ketika tamparan itu mendarat di pipi kiri Oase, semua dewa kembali menatap ke arah mereka berdua. lalu tiba-tiba saja hujan turun. Oase memegangi pipinya yang memerah, dia bingung harus marah atau bagaimana karena dia sedikit jengkel karena musimnya berganti tanpa perintahnya tapi wanita di hadapannya saat ini seperti sedang meminta pertanggung jawabannya karena memang dirinya sadar melakukan kesalahan.
"Dasar pria m***m!Kamu tidak minta maaf malah menatap keluar?Apa kamu terbiasa melecehkan wanita?Aiss tubuhku kembali basah, kau ini benar-benar menjengkelkan!"Urvilla mencoba berdiri setelah menggerutu karena kesal.
Sekarang semua orang di tempat itu menatap ke arah Urvilla termasuk Oase yang ikut berdiri, karena Urvilla terlihat basah kuyup padahal dia berada di bawah atap. Anke keluar dari ruangannya, dia mengisyaratkan untuk restoran ditutup dan memerintahkan semua pelanggan untuk keluar.
Bagaimana bisa dia basah seperti kehujanan?Tapi dia berada di bawah atap? Oase mulai menganalisa, Apa jangan-jangan wanita ini adalah wanita yang bernama Urvilla?Apa mungkin ini adalah alasannya, kenapa wanita ini berhubungan dengan musimku yang berubah? Oase langsung menatap ke arah Namo seperti meminta penjelasan. Namo paham dengan tatapan Oase, dia hanya menganggukan kepalanya.
Para Dewa dan Dewi mulai bergunjing, mereka mulai menyadari keistimewaan dari Urvilla.
"Aku mulai paham kenapa dia bukan manusia biasa," ucap Riko yang akhirnya sadar.
"Ya, aku jadi paham sekarang," Sahut Tungga.
Wah ... sepertinya pria ini tidak punya rasa bersalah! Urvilla masih terlihat kesal ketika Oase malah mematung melihatnya. Tiba-tiba Galen melepaskan jaketnya lalu mendekat ke arah Urvilla, dia memakaikan jaket itu dari belakang Urvilla membuat semua orang disana semakin heran, Urvilla yang tampak terkejut menoleh ke arah Galen.
Dia menjagaku lagi, batin Urvilla.
Galen yang masih meletakkan tangannya di kedua pundak Urvilla, mulai mendekatkan kepalanya kearah telinga Urvilla, "Aku tahu kamu pasti akan sakit, jika kembali basah seperti ini."
"Terimakasih, Ayo kita pergi dari sini!Sepertinya pria ini sudah biasa melecehkan wanita, dia tidak punya rasa bersalah sama sekali!" Urvilla dan Galen berjalan meninggalkan Oase yang masih bengong disana.
Tiba-tiba Oase tersadar, "Berhenti!" Ucap Oase masih berada di tempat yang sama. Dia sepertinya memahami sesuatu.