Urvilla dan Galen berhenti, secara bersamaan Urvilla dan Galen menoleh, Oase mendekati Urvilla, aku harus memastikan sesuatu, sekarang! ucap Oase dalam hati sembari melangkahkan kakinya dengan sangat cepat, dia meraih belakang kepala Urvilla dan langsung mencium bibirnya.
"Cup" mata Oase terpejam.
Urvilla sangat terkejut, diluar prediksinya, ciuman pertamanya di ambil oleh orang yang baru saja bertemu dengannya. Para Dewa tercengang, mulut mereka tiba-tiba menganga tanpa alasan, tepat saat itu Sanya, Vata dan Auris bergabung dan melihat kejadiannya. Mereka ikut tercengang.
Wanita itu?Oase? Sanya tampak emosi melihat kejadian hari ini, dia sudah mengepalkan tangan.
Galen merasakan sesuatu yang aneh di dalam dadanya, Kenapa rasanya sangat sakit melihat mereka? tanya Galen dalam hati.
Namo memperhatikan orang-orang di sekitar yang berkaitan dengan Oase hari ini, Sepertinya akan ada kisah cinta yang rumit disini. Aku baru tahu Oase tipe pria yang romantis. Namo tersenyum geli. Tiba - tiba saja Anke sudah ada di samping Namo,
"Kamu pantas mendapatkan gelar Dewa Cinta, kerjamu sangat bagus!" puji Anke yang tersenyum melihat pemandangan yang indah itu.
"Astaga!Anke?Kau mengejutkanku," Namo memegang dadanya, setelah mendengar suara Anke disampingnya.
"Terus awasi kisah cinta mereka ya!Aku benar-benar penasaran akhir cerita mereka," ucap Anke.
"Baiklah, aku pastikan mereka akan menjalani kehidupan romantis." Namo mengatakan dengan penuh keyakinan.
Urvilla yang terkejut dengan ciuman dadakan Oase semakin emosi, dia mendorong Oase.
"Apa yang kamu lakukan?" Bentak Urvilla sembari mengusap kasar bibirnya yang baru saja di cium oleh Oase.
Pria ini benar-benar kurang ajar, bisa-bisanya dia mengambil ciuman pertamaku, dia ini sangat menjengkelkan! batin Urvilla terlihat geram.
Petir menyambar semakin keras, hujan pun turus semakin deras
Oase yang terdorong, membuka matanya, terlihat mata birunya memandang Urvilla. Urvilla sangat terkejut ketika melihat Oase bermata biru sekarang. Tiba-tiba saja Urvilla memperlihatkan mata berwarna hijaunya. Membuat semua dewa terkejut sekali lagi.
"Lihat! Matanya berwarna hijau," banyak dewa membicarakan mata Urvilla.
Akhirnya aku tahu siapa pengacau musimku, mata berwarna hijau berarti dia adalah manusia setengah dewi. gumam Oase sambil terus memandang kilau mata Urvilla.
"Aku ada urusan yang harus ku selesaikan denganmu!" Oase masih memandang Urvilla dengan mata birunya, tandanya dia kesal.
"Astaga, dasar pria gila! kita baru saja bertemu, tiba-tiba kamu bilang punya urusan denganku, apa itu masuk akal?" mata hijau Urvilla masih belum menghilang.
"Tidak usah banyak bicara, Ikut saja denganku!Kita selesaikan urusan kita di luar!" Oase tiba-tiba menarik tangan Urvilla dengan paksa untuk ikut dengannya.
"Kau ini pemaksaan sekali, aku tidak mau. Lepaskan!" Urvilla masih menahan diri untuk tidak di tarik dengan paksa, mata Urvila melihat ke arah segelas jus jeruk di atas meja, Urvilla menariknya dari atas meja, melihat Oase yang terus menariknya. Spontan langsung mengguyur jus jeruk tepat di wajah Oase.
"Byur!"
Namo dan Anke langsung terkikih, begitu juga dengan dewa lain, ini kejadian pertama, ada seorang dewa di lempar jus. Para Dewi mulai menaikkan alis.
"Wanita itu berani-beraninya menyiram Oase dengan jus, memangnya dia siapa?" Auris mulai berkomentar tidak terima.
"b******k wanita itu, dia mendapatkan ciuman Oase dan sekarang malah melemparnya dengan jus jeruk, dia benar-benar memberi sinyal persaingan." tiba-tiba mata Sanya berubah menjadi merah.
Vata di sampingnya mengelus pelan punggung Sanya yang sedang terbakar api cemburu, "Tenanglah Sanya, dia hanya manusia setengah dewi. Dia bisa ditahklukkan tanpa tenaga yang berlebih." komentar Vata sedikit masuk akal membuat Sanya menghilangkan mata merahnya.
"Tapi dia juga menarik hati Galen, kalian tahu betapa aku menyukai dewa pendiam bermata biru itu?" Yuka juga terlihat geram, dia menampilkan mata berwarna merah kehitaman.
"Hiss, wanita itu memang tidak bisa di biarkan!Setelah ini kita beri dia pelajaran," ucap Auris.
Oase tersenyum sinis tidak percaya dengan yang dialaminya saat ini. "Kau berani mengguyur dewa musim?" Oase semakin marah. Mata birunya menajam.
"Dewa Musim?hahahaha" Urvilla langsung tertawa terpingkal-pingkal. membuat seiisi restoran itu terdiam. "Aku tidak percaya orang m***m sepertimu menyebut dirimu dewa," Urvilla memang belum menyadari ada darah dewi di tubuhnya.
"Kau?" Oase menahan amarahnya, dia tidak mau masuk ke mercusuar lagi.
"Karena kamu aku jadi basah dan kedinginan, aku benar-benar membenci situasi ini!" Urvilla langsung pergi meninggalkan Oase disana.
Galen tidak mengikuti Urvilla, entah mengapa dia masih bertanya-tanya tentang situasi di depan matanya. Sepertinya ada yang aneh dengan mereka berdua?
Urvilla sampai di ruang ganti, dia mengganti pakaiannya dengan pakaian kering, masih menggunakan kostum pelayan. Urvilla segera meminum obat pendorong hormon bahagianya. Dia menatap ke kaca, melihat bibirnya yang sedikit bengkak karena ulah Oase.
"Bagaimana caranya aku bisa meredakan amarahku jika aku mengingat pria itu, aku menjadi sangat emosi?" tiba-tiba saja dia melihat sendiri mata berwarna hijau itu muncul dihadapannya saat ini.
Urvilla terkejut, dia sedikit mundur, "Aku bermata hijau?Mata apa ini?Aku merasa selama hidupku tidak pernah memakai lensa kontak?" saat amarahnya sedikit mereda mata hijau itu menghilang. Urvilla semakin bingung melihat keadaannya saat ini.
Disisi lain Oase masih dengan mata birunya terlihat kesal, "Arrgghh, wanita itu!Aku benar-benar ingin membunuhnya!" Dua meja dan satu kursi akhirnya patah begitu saja di depan matanya.
Namo langsung mendekati Oase, "Tenanglah Oase!Dia hanya wanita, dia hanya terkejut karena tadi kamu--"
"Apa?Ini semua gara-gara kamu, Mo. Kenapa kamu mempertemukanku dengannya dengan cara seperti itu?" Oase memutus kalimat Namo, dia melihat Namo jadi tambah kesal.
"Maafkan aku, aku akan bertanggung jawab!" ucap Namo merasa bersalah.
Anke tersenyum memandang Oase, "Kalian berdua ikutlah keruanganku!" Anke langsung menghilang dan menuju ke ruangannya.
Oase dan Namo akhirnya menyusul.
***
Di ruang ganti
Nina tiba-tiba saja muncul untuk menemui Urvilla, "Apa kamu baik-baik saja?"tanya Nina mendekati Urvilla yang masih syok melihat matanya yang berubah hijau tadi.
"Ya, aku baik-baik saja." jawab Urvilla sedikit berbohong.
"Sepertinya raut wajahmu tidak berkata begitu, Pegang tanganku!Aku harus memberitahukan banyak hal padamu!"
Urvilla menuruti ucapan Nina, tanpa sadar Nina membawanya ke sebuah taman kecil di dekat danau.
Urvilla semakin bingung, dia melihat ke kanan dan kekiri, "Se-sebenarnya, kamu ini siapa?" Urvilla sedikit takut.
"Kamu tidak perlu takut, aku adalah dewa pelindung manusia. Aku tidak akan jahat padamu, aku akan menjadi temanmu sekarang. Duduklah!" Nina duduk diatas rerumputan sambil memandang danau di depannya.
Mendengar hal itu Urvilla masih bingung, dia mencoba mencerna dengan akal sehatnya. Aku tidak percaya dengan semua yang ku lihat di depanku saat ini, apa ini mimpi? tanya Urvilla dalam hati.
"Aku tahu kamu bingung dan merasa aneh dengan semua yang kamu lihat saat ini, aku perlu memberitahumu, kami semua yang ada di restoran itu adalah dewa. Manusia hanya mereka yang datang untuk berkunjung ke restoran kami," mendengar penjelasan Nina, Urvilla semakin bengong, dia menepuk pipi kanan dan pipi kirinya berulang kali.