Kenyataan

1223 Kata
Nina menghentikan tangan Urvilla untuk menepuk pipinya. "Ini adalah takdirmu, kamu harus siap menghadapinya!" kata Nina meyakinkan Urvilla sekali lagi. "Tapi, bagaimana caranya aku bisa percaya dengan semua ini?Tunggu!Apa Galen juga seorang dewa?" Nina mengangguk, "Dia adalah Dewa ketenangan," jawab Nina yang sudah menghadap ke arah Danau. "Dewa ketenangan?" "Iya, Karena pribadinya yang tenang dan dia adalah dewa paling pendiam, setiap orang yang berada di dekatnya akan selalu merasa nyaman, karena dia selalu memberikan ketenangan." jelas Nina. "Pantas saja, aku sangat nyaman ketika ada di sampingnya. Tunggu! Jika semua yang ada di restoran adalah Dewa, kenapa Anke mempekerjakan aku sebagai karyawannya?Aku kan bukan dewa," Urvilla menyetujui ucapan Nina, dia juga semakin penasaran dengan semua kenyataan yang ada di hadapannya saat ini. "Lihatlah ke depan, aku akan menunjukkan sesuatu!" tiba-tiba ada sebuah layar seperti kaca ada di depan Urvilla. Urvilla mendapati bayangannya disana, dengan mata berwarna hijau dengan pakaian khas dewi. "Apa maksudnya semua ini?" tanya Urvilla bingung melihat dirinya sendiri. "Bukankah kamu bingung ketika melihat matamu berwarna hijau? Itu karena kamu adalah manusia setengah dewi." penjelasan Nina masih belum bisa dicerna dengan baik oleh Urvilla. "Jadi mata hijauku itu benar-benar mataku?Karena sejak dulu aku tidak pernah melihat mataku berubah menjadi hijau?" tanya Urvilla semakin penasaran. "Yang memancing jati dirimu keluar adalah Oase, pria yang menciummu tadi. Aku tidak tahu pasti, bagaimana caranya dia melakukan itu, yang aku pahami kalian berdua memiliki satu benang takdir. Saranku, jalani saja takdirmu mulai sekarang!" Satu benang takdir dengan pria itu? Yang benar saja, Urvilla masih tidak habis pikir dengan semua kenyataan ini. Nina meraih telapak tangan Urvilla lalu menangkupkan di kedua tangannya, "Semakin lama, kamu akan semakin memahami semuanya. Pelan-pelan saja!Aku akan selalu bersamamu."  Urvilla saling memandang dengan Nina. *** Anke, Namo dan Oase sudah ada di ruangan yang sama. "Bukankah kamu sudah bertemu dengan Urvilla. Aku sudah mempercepat waktunya, kenapa wajahmu masih kesal?" tanya Anke sambil menyalahkan rokok di tangannya. "Kenapa harus wanita itu? Dia sangat menjengkelkan, bagaimana bisa aku mencintainya? Apa kamu tidak bisa mengubah takdirku dengan wanita lain yang lebih masuk akal?sepertinya akan susah mengendalikan musim jika berkaitan dengan wanita itu." keluh Oase masih sangat kesal, sambil mengibaskan pakaiannya yang masih basah karena jus jeruk. Anke mengacungkan jari telunjuknya ke arah Oase dan bajunya tiba-tiba berganti. "Baiklah terimakasih," ucap Oase melihat bajunya baru sekarang. "Sayangnya, aku tidak bisa merubah takdirmu. Melihat langkah awalmu tadi sepertinya sudah cukup bagus, tidak terpikirkan olehku kamu bisa mencium bibir wanita seperti itu. Manis sekali, masih banyak langkah seribu yang bisa kamu lakukan untuk menahklukan hati wanita, Oase. Jadi tenanglah!" komentar Anke membuat Namo terkikih mengingat apa yang di lakukan Oase tadi. "Aku juga setuju, kamu bisa mengandalkan aku untuk hal ini. Kamu hanya tinggal menjalaninya saja!" sahut Namo. "Aku tidak habis pikir kenapa harus mencintainya untuk membuat musimku tidak berubah lagi, kenapa tidak menbunuhnya atau menghukumnya, bukankah itu lebih mudah?"Ucapan Oase kali ini membuat Anke dan Namo menggelengkan kepalanya. "Dia sangat cerewet, kamu tahu Namo apa yang harus kamu lakukan sekarang? Sepertinya restoran juga akan libur hari ini, karena kejadian tadi," Anke memberi isyarat kepada Namo untuk melakukan sesuatu. "Iya, aku tahu. Hal yang mendesak bisa membuatnya belajar untuk menerima takdir." Namo tiba-tiba membuat Oase menghilang. "Sepertinya aku tahu yang ada di dalam pikiranmu, Mo." Anke seperti membaca sesuatu. "Mereka harus terbiasa walaupun akan ada sedikit pertengkaran disana!"Namo tersenyum. "Tidak apa, itu sangat bagus untuknya!" Anke tersenyum. Oase tiba-tiba berada di sebuah kamar tidur, "Dimana aku?Dasar Namo, dia berani-beraninya mengirim aku ke sesuatu tempat tanpa persetujuanku," Setelah matanya berkeliling, dia menemukan sebuah foto yang ada di sebelah tempat tidur. "Ini?" mata Oase membola dengan sempurna sekarang. "Jangan bilang ...." Oase keluar dari kamar, dia melihat ke arah dapur, kemudian ke arah ruang tengah, Oase menemukan banyak foto Urvilla terpajang disana. "Gawat! Aku berada di rumah wanita itu. Sekarang aku harus bagaimana?" Oase mondar-mandir kebingungan. Kemudian dia berjalan menuju ke pintu keluar, menggerakkan ganggang pintu, tapi pintu dalam keadaan terkunci. Oase menggunakan kekuatannya, tiba-tiba ada cahaya biru, membuat tangan Oase seperti tersengat Listrik. "Sial! Ini pasti ulahnya, Namo!" teriakan itu mengagetkan Namo yang masih berada di ruangan Anke. "Aduh telingaku! Sepertinya dia akan membunuhku besok," Namo mengelus pelan kedua telinganya yang terasa berdenging dengan sangat keras karena Oase berteriak. "Aku akan membantumu tenang saja!Kurasa yang kamu lakukan sekarang akan benar-benar berhasil!" Anke tersenyum melihat Namo, sambil menyesap rokok di tangannya. "Ya, aku tahu tugasku jarang sekali gagal. Tapi aku berurusan dengan dewa temperamental, oh Dewa selamatkan aku!" Namo menangkupkan kedua tangannya di d**a, tingkah Namo membuat Anke tersenyum geli. *** Setelah pembicaraan Urvilla dan Nina selesai. Nina mengantar Urvilla sampai ke depan rumahnya dengan teleportasi, Urvilla kembali terkejut, "Apa dewa selalu melakukan hal seperti ini untuk berpindah tempat?" tanya Urvilla yang heran sudah ada di depan rumah kontrakannya. Nina menganggukkan kepala, "Beristirahatlah! Hari ini restoran libur," "Bagaimana kamu tahu jika hari ini libur?Apa kalian juga menggunakan komunikasi jarak jauh?"Urvilla mengernyitkan dahinya. "Tidak, Kami punya handphone dan ada aplikasi chat khusus grub karyawan yang bekerja di restoran. Aku tahu dari sini," Nina tersenyum memperlihatkan handphone ditangannya. "Astaga! aku pikir kalian selalu menggunakan hal-hal magic." komentar Urvilla. "Hehehhe, Dewa juga bisa mengikuti perkembangan zaman, nanti aku akan mengundangmu masuk ke dalam grub. Baiklah aku harus pergi, sampai jumpa!" Nina akhirnya berpamitan sambil melambaikan tanganya. "Baiklah sampai jumpa!" Urvilla ikut melambaikan tangamya. Nina pun menghilang. Banyak kejadian aneh yang membuat kepalaku sedikit pusing, benar kata Nina aku harus beristirahat! Batin Urvilla sambil membuka kunci pintunya. Di dalam rumah Oase sangat berdebar setelah melihat Urvilla sudah ada di luar bersama dengan Nina. Dia mencari tempat bersembunyi yang pas agar tidak terlihat oleh Urvilla dan Oase sudah memilih di bawah tempat tidur Urvilla. Dia benar-benar tidak memiliki perabotan besar , cuma tempat ini yang cukup untukku bersembunyi. Keluh Oase yang sudah berdiam diri di bawah tempat tidur Urvilla. Urvilla akhirnya masuk ke dalam rumah, dia meletakkan tasnya dan melepas sepatunya. Meregangkan ototnya perlahan lalu masuk ke dalam kamar mandi.  "Sepertinya akan lebih menyegarkan jika aku mandi." Mendengar Urvilla masuk ke kamar mandi membuat Oase bernafas lega, "Setidaknya wanita itu memberi jeda untukku bernafas." Sepuluh menit berlalu, Urvilla sudah selesai mandi, dia mencari baju ganti di kamar mandi tapi ternyata baju gantinya habis, dia lupa mengisi rak di dalam kamar mandinya. "Astaga! Aku lupa mengisi raknya," dengan hanya berbalut handuk tanpa mengenakan apapun, Urvilla keluar dari kamar mandi baru kemudian masuk ke dalam kamarnya. Urvilla duduk di meja Rias tepat berada di sebelah kanan tempat tidur, dari sana Oase melihat dengan jelas, bagaimana Urvilla duduk hanya berbalut handuk yang tidak menutupi semua tubuhnya. Setengah paha putihnya dan bagian dadanya jelas terlihat, Oase menelan salivanya ketika menoleh dan melihat pemandangan yang membuatnya sedikit tegang. Astaga! Kenapa wanita itu menyiksaku sekarang? batin Oase memalingkan wajahnya ke atas, hingga melihat rumah laba-laba yang bersarang disana. Urvilla masih asik memakai skincare dan melepas handuk yang ada di kepalanya, dia menyalakan hairdryer lalu mulai mengeringkan rambutnya, saat Urvilla mengibas-ngibaskan rambutnya. Oase tidak bisa menahan lebih lama lagi untuk menghindar dari pemandangan itu. Dia kembali melihat ke arah Urvilla, sudah berulang kali menelan salivanya yang terus berkumpul di mulutnya, jantungnya berdebar tidak beraturan, hingga sisir Urvilla tiba-tiba terjatuh, yang membuat Urvilla harus merunduk kebawah untuk mengambil sisir itu. Mata Oase terbelalak, karena jika Urvilla menoleh sedikit saja, dia pasti akan ketahuan. Jangan menoleh! Aku mohon jangan menoleh! Sahut Oase dalam hati.                      
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN