Hati yang bertaut menyatu dalam keheningan yang bahagia di ruangan itu, bukan tanpa alasan, mereka bersatu karena takdir yang mungkin terasa aneh, tapi mampu mengenalkan mereka pada satu titik kedewasaan untuk mengenal cinta dan saling memahami. Oase melepaskan kecupan di kening Urvilla, dia tersenyum menunjukan lesung pipit yang membuat ketampanannya terpancar begitu nyata. Belaian tangan kanan Oase menyingkap sehelai rambut Urvilla yang ada di sebatas pelipis, setuhan itu membuat Urvilla hampir tidak berkedip, dia terus membayangkan bagaimana pertama kali mereka bertemu, bagaimana mereka bertengkar hingga selalu terjadi banyak hal yang tidak terduga. "Apa kamu akan terus melihatku seperti itu?" Oase membuyarkan pandangan mata Urvilla. Urvilla tersadar, "Ah, maaf, aku--" "Aku tidak ke

