Oase melepas pelukannya, dia terus memandang Urvilla yang pucat dan terlihat sangat lemah. Telapak tangan kanannya yang besar menangkup pipi Urvilla sambil menggerakkan ibu jarinya, untuk sekedar memberinya sentuhan yang mengalirkan perasaannya selama ini. Urvilla menatap mata Oase dengan masih berkaca-kaca, ada rasa takut untuk disakiti, takut kehilangan tapi dia tidak bisa membohongi perasaannya sendiri. Tangan kanan Urvilla mulai terangkat pelan menangkup wajah Oase yang sangat dekat dihadapannya, seperti ada rasa rindu yang tidak tertahankan disana walaupun seberkas rasa sakit itu masih selalu menghantui Urvilla, dia mengusap air mata yang menetes dan masih tersisa di pipi Oase. Apa dia menangis?tanya Urvilla dalam hati. “Oase!” Urvilla memanggil namanya dengan suara parau. “Ya,” t

