“Kita bertemu lagi, wanita cantik!” ungkap pria itu sambil menyodorkan pisau mendekat ke arah Urvilla. Urvilla tidak menjawab, mencoba untuk tetap tenang, hingga pria itu memojokkannya ke dinding dan menekan sedikit pisau itu ke perutnya. “Tubuhmu sangat bagus untuk aku nikmati, sebelum aku membunuhmu!” Pria itu mulai membelai wajah Urvilla dengan spontan kepala Urvilla menoleh untuk menghindar. “Jangan kurang ajar padaku, pak tua!” gertakan Urvilla membuat pria itu tertawa dengan sangat gila. “Hahahaha ... kau menyebutku pak tua?Apa wajahku sudah seperti kakek-kakek?Baiklah, aku tidak akan menyentuhmu ataupun membunuhmu, yang harus kamu lakukan adalah menyerahkan Nala padaku!Jangan ikut campur lagi dengan urusanku!” ucapan itu membuat Urvilla tersenyum menyeringai, dia belum emosi dia

