Setelah kepergiaan Sanya dari restoran itu, Oase dan Tungga secara bersamaan menepuk pundak Riko yang masih berdiri sambil membawa bekal makanannya. “Kamu sangat hebat,” puji Oase sambil menggeleng-nggelengkan kepalanya. “Aku juga sangat salut padamu!” tambah Tungga sambil perlahan mendekat ke telinga Riko. “Kamu harus bertanggung jawab dengan yang kamu ucapkan barusan!” bisik Tungga, namun eskpresi Riko terlihat biasa saja, “Kamu harus melakukannya hari ini, jangan menundanya Tungga, kesempatan emas tidak akan datang dua kali.”Riko menjawab juga dengan berbisik. “Sialan, memangnya dia akan menerimanya?” Tungga mencubit geram pundak Riko, “Aww!dia pasti menerima, kalau menolak potong leherku!Kamu mau aku beri saran?” “Hiss, kamu ini seperti cenayang! Apa?” gumam Tungga masih tidak per

