“Aku tau ini nggak akan mudah, tapi, ini adalah bagian dari hidup yang harus kamu jalani.” Farhan hanya diam mendengar ucapan Altaf. Menatap kosong dengan banyak hal yang menumpuk di kepala. Perasaan kecewa, marah, dan iba saling bertabrakan tanpa arah. Sebentar lagi, proses hukum Briana akan dimulai, dan bayangan itu saja sudah cukup membuat d**a Farhan terasa sesak. Ia tidak tahu, harus membenci atau kasihan pada wanita yang telah ia panggil “Mama” sejak kecil itu. “Kadang, yang bisa kita lakukan cuma menerima dan belajar dari semuanya,” lanjut Altaf pelan, “kamu nggak harus kuat setiap waktu, tapi kamu harus berani menghadapi kenyataan yang ada. Tapi ingat satu hal, aku, papa, dan Ciara akan selalu ada buat kamu.” “Apa … aku boleh homeschooling aja,” ujar Farhan akhirnya membuka suar

