Ciara masuk ke dalam kamar rawat Kiano dan mendapati papanya sedang melahap sarapannya. Kiano terlihat lebih segar dan sudah tidak ada selang infus yang melekat di tangannya. “Ke mana mas Al?” tanya Ciara segera menghampiri Kiano, lalu duduk di sudut ranjang. “Ke kantin, sarapan.” Kiano menunjuk sebuah koper yang berisi pakaian kotornya. “Kita nunggu dia dulu, baru pulang.” Ciara menghela berat. Menatap wajah tua Kiano yang tampak sedikit kurus dan terdiam sesaat. “Apa … Papa sudah pertimbangkan permintaanku kemarin?” tanya Ciara hati-hati. Kiano tidak jadi menyuapkan makanan ke mulutnya. Ia meletakkan sendok di piring, lalu menatap lekat pada Ciara. “Maaf, tapi Papa sudah nggak bisa apa-apa,” ucap Kiano setelah memikirkan lagi permintaan putrinya, “gugatan sudah masuk ke Pengadilan

