Karin menunggu Raga didepan rumah Raga. Malam ini ia ingin mengajak Raga untuk jalan-jalan, kebetulan hari ini adalah malam minggu. Raga masih belum datang juga, padahal ini sudah mau pukul 6.
Mobil Raga mulai terlihat, Karin tersenyum melihatnya. Saat Raga telah memarkirkan mobilnya, ia segera masuk ke dalam rumah dan melihat Karin disana.
"Ngapain lo?" Tanya Raga ketus.
"Jalan-jalan yuk, Ga. Ini kan malam minggu. Masa kamu mau dirumah terus gitu" Bujuk Karin dengan nada manjanya.
"Gue gak bisa" Balas Raga, ia segera meninggalkan Karin dan berjalan menuju dapur karena ia haus, ingin mengambil minuman dingin.
Karin membuntuti Raga. Ia menggandeng lengan Raga dan masih terus berusaha untuk membujuknya. "Ayolah, Ga. Sekali doang gitu kita jalan"
"Gak" Raga melepaskan tangan Karin yang masih melingkar di lengannya. Setelah minum, ia berjalan lagi untuk menuju kamarnya. Tetapi lagi-lagi, Karin memegang lengannya.
Raga menghela napas kasar. "Mau lo apa sih?" Ujar Raga dengan nada tinggi.
"Jalan-jalan sama kamu" Balas Karin dengan wajah yang diimut-imutkan.
"Oke" Putus Raga secepatnya yang membuat wajah Karin menjadi sumringah. Senyuman bahagia terpancar disana. "Lepasin tangan gue dan lo pulang sekarang" Ujar Raga melirik tangan Karin yang masih setia melingkar di lengannya.
Karin melepaskan tangannya, ia segera berjalan keluar rumah Raga dan menuju rumahnya. Ia bahagia malam ini, karena akhirnya Raga mau ia ajak kencan. Ia langsung menuju kamarnya dan membuka lemarinya. Karin harus menjadi cantik malam ini, Batinnya.
"Halooowww para jomblo-jomblo ku. Kasian banget pada gak punya cewek, jadi malming nya sama temennya doang" Fikri terkekeh. Saat ini ia berada di rumah Raga, tentu saja bersama dengan Ardan dan Reihan.
"Lo juga jomblo, babi. Makanya lo ikut kesini" Sahut Reihan yang dibenarkan oleh Ardan. Sedangkan, Raga masih sibuk dengan gadgetnya. Ketiga temannya itu datang tiba-tiba tanpa ada janji sebelumnya. Begitulah kebiasaan mereka jika sudah di rumah Raga.
"Eh, gimana dare lo, Ga? Sukses kagak?" Tanya Reihan.
"Eh iya gimana gimana? Penasaran nih gue" Sahut Ardan.
"Dia gamau" Balas Raga singkat.
"Gue bodoamat ya, mau dia mau atau kagak, lo harus tetep jadi pacar dia" Ucap Reihan yang diangguki oleh Ardan dan Fikri.
"Eh ini kan malam minggu, mending lo ajak di ngedate, yaaa sambil pdkt gitu" Saran Fikri.
"Bener tuh kata Fikri. Tumben otak lo berfungsi" Ujar Reihan yang kini meletakkan tangannya di pundak Fikri.
"Gini-gini gue pinter aslinya" Jawab Fikri percaya diri.
"Gini-gini gii pintir islinyi" Sahut Ardan dengan muka mengesalkan. Fikri menjitak kepalanya.
Reihan hanya menggelengkan kepala melihat tingkah kedua temannya yang selalu absurd itu. "Gimana, Ga" Tanyanya kepada Raga yang seperti memikirkan sesuatu.
"Karin ngajak gue jalan malam ini"
"Hahhhh?" Ardan dan Fikri terkejut dengan pernyataan Raga. Untuk Reihan, dia hanya menampilkan ekspresi yang biasa saja karena Reihan tau gimana Karin dengan Raga.
"Tumben lo mau" Ujar Reihan.
"Terpaksa" Raga memutar bola matanya malas.
"Kok lo bisa jalan sama Karin? Lo lagi deket sama Karin?" Tanya Ardan yang masih tidak percaya kenyataan itu.
"Iya kok bisa sih, Ga? Padahal nih, kalo cantik ya jelas cantikan Zahra dong" Ujar Fikri yang disetujui oleh Ardan.
"Karin tetangga gue" Balas Raga.
"Hahhhhh?" Teriak Ardan dan Fikri bebarengan lagi. Mereka sama-sama terkejut.
"Berisik banget lo berdua" Reihan menatap keduanya tajam membuat mereka menjadi diam dan tak mengeluarkan suara lagi.
"Gue gak pengen jalan sama Karin. Gue harus gimana" Tanya Raga kepada teman-temannya.
"Kita ikut aja, Ga. Gimana?" Usul Fikri.
"Maksud lo?" Tanya Raga yang masih tak paham dengan apa yang diucapkan Fikri. Fikri hanya tersenyum penuh arti.
*****
"Liv, gue masih cinta sama lo. Gue masih sayang sama lo, Liv" Kata-kata itu masih terngiang di kepala Nadien. Sore tadi, ia ditemui oleh seseorang yang membuat hatinya hancur di masa lalu. Ia masih tak habis pikir, kenapa cowok itu berani sekali mendatanginya lagi setelah apa yang sudah ia perbuat.
"Gak, gak. Gue gak boleh terpancing lagi" Ucap Nadien pada dirinya sendiri. Ia menggelengkan kepalanya, dan menutupi kedua telinganya.
Ponsel Nadien berbunyi menandakan ada panggilan masuk disana. Nadien membacanya sekilas dan tak berniat menjawab, ternyata itu dari cowok tadi.
Nadien mendiamkan ponsel itu hingga akhirnya tak ada panggilan masuk lagi. Ternyata kini ada pesan masuk disana. Nadien membacanya..
Orang Gila
Angkat Oliviaa...
Plisss
Nadien tak menggubris dan membiarkannya. Lagi-lagi ponselnya masih berbunyi.
"Apa sih maunya nih cowok" Geram Nadien. Akhirnya ia pun mengangkat panggilan lelaki tersebut.
"Lo gak usah telfon-telfon gue lagi atau gue blokir nomer lo" Ancam Nadien.
"Nadienn, plis dengerin penjelasan gue dulu" Jawab orang diseberang sana.
Nadien segera menutup telfon dari cowok itu dan memblokir nomornya. Ia sudah lelah dengan drama dari cowok itu. Apa dia tidak puas sudah menyakiti Nadien seperti itu.
Ponsel Nadien kembali berbunyi. Ia sungguh geram. Tanpa membaca namanya, ia langsung mengangkatnya...
"Lo udah gue blokir kenapa masih bisa telfon gue? Mau apa lagi sih lo?" Ucap Nadien kesal.
"Nad, ini gue. Lo kenapa" Jawab orang ditelpon. Nadien terkejut, kenapa yang muncul suara perempuan? Ia segera membaca namanya. Ternyata itu dari Zahra. Nadien menepuk jidatnya. Ia sangat ceroboh.
"Eh sorry, Ra. Ada apa?" Tanya Nadien dengan nada melembut. Ia merutuki dirinya sendiri karena ceroboh tidak membaca terlebih dahulu siapa yang menelponnya.
"Keluar yuk, jalan gitu. Bosen nih gue" Ujar Zahra.
"Kasiann amat lo. Dasar jomblo" Nadien terkekeh.
"Kaya lo gak jomblo aja" Zahra mencibirnya.
"Yaudah ayok dah. Ajak si Rania sama Tasya juga biar rame" Ujar Nadien.
"Boleh deh. Gue telfon Tasya. Lo telfon Rania ya" Ujar Zahra.
"Okey deh. Kita ketemuan di Cafe Pelangi ya. Sampein ke Tasya." Ujar Nadien lalu menutup telfonnya.
Hatinya lelah dan butuh direfresh terlebih dahulu. Ia butuh hangout bersama teman-temannya. Kebetulan juga ini kan malam minggu. Jadi tak ada salahnya jika ia ingin nongkrong.
*****
Zahra, Nadien, Tasya, dan Rania telah sampai di Cafe Pelangi. Mereka berempat langsung masuk dan segera mencari tempat duduk. Mereka duduk di dekat pintu masuk. Zahra dan Rania duduk berdampingan, mereka duduk menghadap pintu masuk cafe, sementara Nadien dan Tasya mereka membelakangi pintu cafe dan bisa melihat orang-orang yang sedang berbincang-bincang di cafe itu. Mata Tasya jatuh pada seseorang yang duduk tak jauh dari tempatnya.
"Eh, itu Raga bukan sih?" Tanya Tasya menyipitkan matanya.
"Mana?" Tanya Nadien. "Eh iyaa itu Raga. Sama siapa dia?" Lanjutnya.
Zahra dan Rania yang awalnya membelakangi tempat yang Tasya maksud-pun menoleh. Zahra menyipitkan matanya untuk melihat lebih jelas. Dan benar itu memang Raga. Tetapi siapa cewek itu?
"Itu Karin bukan sih?" Tanya Tasya memastikan. "Karin yang temen sekelas kita itu" Jelasnya lagi.
"Eh iya bener itu Karin" Sahut Nadien.
"Mereka pacarann?" Tanya Rania. Nadien dan Tasya hanya mengendikkan bahu tanda tak tahu apa-apa. Sementara Zahra, ia masih berfikir, jika itu adalah pacar Raga, mengapa Raga tadi menembak Zahra?
"Lo kenapa, Ra?" Tanya Nadien yang melihat respon Zahra hanya diam saja.
"Oh enggak kok. Gapapa. Yauda kita pesen yuk" Zahra segera membuka daftar menu yang ada di mejanya untuk mengalihkan obrolan teman-temannya itu.
Sementara di lain tempat, Fikri, Reihan dan Ardan masih menunggu kabar dari Raga.
4 COGAN!!!!
Raga Pratama : Ada Zahra disini.
Fikri Nugraha : Hah?
Reihan Adiputra : Mampus dah. Pasti dia ngira lo beneran ada hubungan sama Karin.
Fikri Nugraha : ^2
Ardan Rizaldi : ^3
Raga Pratama : Cepet kesini.
Fikri Nugraha : Otw
Ardan Rizaldi : ^2
Reihan Adiputra : ^3
Tak lama kemudian, Fikri, Ardan dan Reihan pun datang. Mereka memang sudah bersiap-siap di dekat Cafe Pelangi karena mereka tak ingin terlambat jika Raga membutuhkan bantuan.
"Eh selamat malam para gadis-gadis cantik nan maniss" Sapa Fikri kepada Zahra dan kawan-kawannya.
"Lo lagi, lo lagi. Kenapa sih dimana-mana itu harus ketemu lo? Muak gue liatnya" Ucap Tasya ketus.
"Aduh marah-marah aja neng. Cepet tua loh" Fikri mencoba menggoda Tasya.
"Ngapain kalian disini?" Tanya Rania.
"Lah emang kenapa? Ini kan tempat umum. Siapa pun boleh dateng dong" Balas Reihan.
"Terserah lo deh" Rania memutar bolanya malas dan kembali menyesap minuman Matcha favoritnya.
"Kita duluan ya, mau nyamperin Raga" Ujar Ardan lalu menarik kedua tangan teman-temannya.
"Babayyy ciwi ciwi cantik" Fikri melambaikan tangannya kepada keempat cewek itu.
"Oh ternyata mereka gak cuma berdua. Gue kira si Karin sama Raga tuh kencan" Ujar Rania.
"Lah, emang kenapa kalo mereka kencan, Ran?" Tanya Tasya.
"Ya gapapa sih. Yauda makan lagi yok" Balas Karin kemudian ia mengambil kentang goreng dan mencolek saus sambal di hadapannya .
******
Karin diantarkan pulang oleh Raga dengan perasaan yang amat sangat kesal. Bagaimana tidak, ternyata Raga malah mengundang teman-temannya dan merusak kencan pertamanya bersama Raga.
Fikri dan Ardan menghabiskan semua makanan yang ia pesan, padahal ia ingin Raga yang menghabiskan. Saat Karin ingin memulai obrolan dengan Raga, pasti ada saja yang memotong ucapannya.
Karin marah, ia kesal dengan teman-teman Raga. Perhatian Raga menjadi berpindah setelah teman-temannya datang.
"Lihat aja lo, Ga. Gue pasti bisa taklukin lo" Ucap Karin sambil memegang pigora yang berisi fotonya bersama Raga semasa SD.
*****
081356786*** : Selamat malam nona Zahra
Azzahra Paramita : Siapa?
081356786*** : Pacar kamu.
Zahra terkejut. Siapa yang mengirimkan pesan malam-malam begini. Ini sudah hampir pukul 12 malam, masih ada aja orang iseng yang nengirimkannya pesan. Zahra memang tidak bisa tidur, jadi ia memutuskan untuk memainkan ponselnya.
Azzahra Paramita : Gue jomblo
081356786*** : Gue Raga.
Zahra terkejut. Ia mengubah posisinya yang awalnya berbaring menjadi duduk. Zahra pikir ini hanyalah orang iseng tetapi ternyata ini Raga, atau memang orang iseng yang berpura-pura jadi Raga?
Tiba-tiba ponsel Zahra berbunyi, ternyata yang menelpon adalah nomer yang mengirimkannya ia pesan. Ia mencoba mengangkatnya untuk memastikan apakah itu benar Raga atau bukan.
"Hallo, kenapa lo read doang pesan dari gue?" Ucap orang diseberang sana. Tak salah lagi, ini memang suara Raga. Meskipun Zahra dan Raga jarang mengobrol, tetapi ia tau betul bahwa itu suara Raga.
"Jadi, lo beneran Raga?" Tanya Zahra.
"Lo kira gue bohong gitu. Gak guna" Ucap Raga.
"Mau apasih lo telfon gue?" Zahra mendengus sebal. Ia sebenarnya tak ingin berhubungan dengan cowok ini, tetapi mengapa selalu ada saja yang membuatnya harus berhubungan dengan cowok supee nyebelin ini.
"Besok senin berangkat sekolah gue jemput dan gak ada penolakan." Ucap Raga. "Inget, jangan berangkat duluan atau lo akan tau akibatnya" Ancam Raga.
"Lo gilaaa?"
Tuttt...tutt.... Sambungan telfon terputus. Zahra mencak-mencak. Ia sangat kesal dengan orang yang bernama Raga itu. Raga sukanya memaksa, padahal Zahra saja belum sempat menjawab apapun, tetapi ia seenaknya saja memutuskan sambungan sepihak.
Zahra pun kembali tidur dan segera memejamkan matanya. Berbicara sebentar dengan Raga membuatnya lelah.
Baru saja memejamkan mata, ponsel Zahra kembali berbunyi. Zahra melihatnya dan ternyata masih nomor yang sama. Ia tak berniat untuk mengangkatnya.
Tak lama kemudian, notifikasi pesan masuk berbunyi.
081356786*** : jawab atau gue cium lo!
Membacanya saja sudah membuat Zahra merinding. Bisa-bisanya tuh cowok berpikiran seperti itu. Ponsel Zahra berdering dan Zahra segera mengangkatnya, ia takut jika ancaman cowok itu benar terjadi jika ia tak mengangkat telfonnya.
"Nah gitu dong diangkat" Ujar Raga ketika Zahra menerima panggilannya.
"Apa lagi sih lo" Tanya Zahra ketus.
"Ternyata cewek kaya lo takut juga ya kalo mau gue cium" Raga terkekeh. Zahra makin sebal dengannya.
"Lo bilang ada apa atau gue tutup sekarang juga" Ancam Zahra.
"Iya iya. Galak amat sih, nanti suka beneran lo sama gue" Raga terkekeh lagi. Hobinya sekarang adalah menggoda Zahra, jadi jika Zahra marah itu menjadi kebahagiaan sendiri baginya.
"Save nomer gue jangan lupa. Dah lo tidur sana" Ujar Raga. Zahra segera menutup telfonnya karena menurutnya tak penting untuk dijawab lagi.
Lebih baik Zahra segera tidur dan kembali merefresh otaknya yang hampir pecah karena berhadapan dengan manusia aneh seperti Raga.
*****
Pagi-pagi sekali Zahra sudah terbangun dari tidurnya. Ia segera mandi dan sarapan. Setelah itu ia akan berangkat ke sekolah. Zahra hanya tak ingin jika Raga beneran menjemputnya di rumah.
"Loh, Ra, udah mau berangkat? Masih jam setengah 6 loh ini" Ujar Anjani, Mama Zahra yang melirik jam dinding. Anjani sedang menyiapkan makanan untuk Eza dan Radit.
"Iya, Ma. Zahra belum ngerjakan PR, jadi harus berangkat pagi terus ngerjakan deh" Alibi Zahra kepada mamanya.
"Yaudah ya, Ma, Pa, Zahra mau berangkat dulu. Byee" Ucap Zahra yang mencium tangan kedua orang tuanya dan segera berlari keluar rumah.
Zahra melihat di depan rumahnya ada mobil yang tak asing baginya.
"Mau kabur lo?" Ujar si pemilik mobil, siapa lagi kalau bukan Raga. Zahra terkejut, padahal ini masih pagi sekali dan Raga benar-benar menjemputnya.
"Lo ngapain sih sepagi ini udah di rumah gue" Zahra melipat kedua tangannya dan menatap tajam ke arah Raga.
"Gue kemarin bilang kalau gue jemput lo. Gak denger?" Balas Raga.
"Gue bisa berangkat sendiri" Ujar Zahra dan segera berjalan menjauhi mobil Raga.
Raga segera mengejarnya dan menahan lengan Zahra.
"Lo berangkat sendiri atau gue cium saat di kelas nanti?" Ucap Raga. Zahra mengendikkan bahunya.
"Lo jadi cowok m***m banget sih" Omel Zahra lalu ia memukul lengan Raga tapi itu semua tak ada rasanya untuk Raga, karena lengannya lebih besar dari tangan Zahra.
"Gue cuma kasih lo pilihan. Cepetan pilih" Desak Raga.
Tanpa menjawab pertanyaan Raga, Zahra segera masuk ke mobil Raga yang berarti ia memilih opsi pertama. Raga tersenyum penuh kemenangan.
Sesampainya di sekolah, banyak pasang mata yang melihat ke arah Zahra dan Raga yang baru keluar dari mobil. Mereka menatapnya dengan penuh tanda tanya, karena baru kali ini Raga datang bersama cewek.
"Wetsss gercep amat bwanggg" Ujar Fikri menggoda Raga dan Zahra.
"Gercep apaan, Fik?" Tanya Ardan.
"Gerak cepet b**o" Balas Fikri yang diangguki oleh Ardan.
"Raga, aku tadi itu nungguin kamu tau di depan rumah, terus kata Bi Ani, kamu udah berangkat. Ternyata kamu berangkat sama cewek ini" Karin melirik Zahra dengan tatapan tak suka nya.
"Kenapa lo? Cemburu?" Tanya Reihan.
Karin sama sekali tak berniat menjawab pertanyaan Reihan. "Nanti aku pulangnya bareng kamu ya, Ga" Ucap Karin dengan nada manjanya.
"Gue berangkat sama Zahra, jadi pulangnya gue juga sama Zahra" Balas Raga.
Ardan dan Fikri tertawa terbahak-bahak oleh jawaban yang Raga berikan.
"Udah ditolak, masih aja ngarepin" Ujar Ardan kemudian ia kembali tertawa.
Karin yang merasa dipojokkan oleh teman-teman Raga pun merasa kesal dan segera pergi menjauh dari sana.
******