"Woii broo!!" sapa Ardan yang tiba-tiba datang ke rumah Raga dan masuk tanpa seizin yang punya. Ardan sudah menganggap rumah Raga adalah rumahnya juga, jadi ia tak perlu susah payah mengetuk dan salam untuk bisa masuk ke rumah Raga.
"Ngapain lo kesini?" Tanya Raga bingung, karena seingatnya ia tak ada janji dengan Ardan.
"Maen doang. Bosen gue dirumah mulu. Itu itu mulu yang gue lihat" Ujar Reihan kemudian ia membaringkan tubuhnya di kasur milik Raga. Raga yang sedang duduk di sofa kamarnya pun beranjak dan ikut duduk di kasurnya.
"Ga, lo pernah jatuh cinta gak?" Tanya Ardan yang menoleh ke Raga, Raga yang sibuk memainkan ponselnya pun menoleh kearah Ardan.
"Hmm" Raga hanya membalas dengan deheman singkat.
"Ck kebiasaan deh lo. Gue tanya serius nih. Gue tuh mau curhat" Ujar Ardan.
"Jadi lo ke rumah gue cuma buat tanya itu?" Tanya Raga. Ardan menelan ludahnya, Raga selalu begini, padahal kan ia bermaksud baik ingin menjalin silahturahmi antar teman, tetapi balasan Raga sangat tidak manusiawi.
"Ayolah, Ga, jangan cuek terus napa. Lo kenapa sih sebenernya? Lo bisa ceirta sama gue. Gue kan sahabat lo" Kini Ardan mengubah posisinya yang semula berbaring menjadi duduk. Ia serius ingin tau sebenernya ada apa dengan sahabatnya yang satu ini, moodnya cepat sekali berubah. Terkadang ia sangat ceria, tetapi tiba-tiba ia juga menjadi sedih dan irit bicara seperti sekarang ini.
"Gue gak papa" Jawab Raga singkat.
"Apa gunanya punya sahabat sih kalo lo pendem sendiri? Lo gak nganggep gue sahabat?" Tanya Ardan.
"Gak semua bisa diceritain, Dan. Gue perlu waktu" Ujar Raga menunduk. Ardan pun menyerah, benar kata Raga. Tidak semua masalah bisa dibagikan kepada orang lain sekalipun orang tersebut adalah orang terdekatnya.
"Halloooo broo wasappp mamenn" Teriak Fikri yang tiba-tiba datang bersama Reihan. Raga menoleh kepada Ardan seolah meminta penjelasan, Ardan hanya membalas dengan memamerkan gigibya dan dua jarinya membentuk huruf v.
Ardan lah yang mengundang Fikri dan Reihan untuk datang ke rumah Raga. Hanya ingin melepas penat saja, jika ia mengajak Raga ke cafe, sudah jelas Raga menolak, jadi ia putuskan untuk berkumpul di rumah Raga saja.
Fikri yang melihat adanya camilan di meja Raga segera mengambilnya dan melahapnya, diikuti pula dengan Ardan dan Reihan. Raga hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan teman-temannya itu. Rumah Raga sudah seperti rumah sendiri bagi mereka, datang tanpa diundang, tiba-tiba mereka seenaknya saja menghabiskan camilan Raga.
"Eh, main ToD yok, seru kali yak" Celetuk Fikri yang masih sibuk mengunyah camilan yang ada di depannya.
"Wah boleh tuh. Ayok lah" Balas Ardan.
"Gue gak ikut. Kalian aja" Ujar Raga.
"Yahh, Ga, masa lo gak ikut. Ayolah sekali-sekali doang kita kaya gini. Biar seru" Kini Reihan ikut menimpali dan membujuk Raga.
"Gue gak mau" Raga masih kekeuh dengan keputusannya.
"Gaa, ayolah. Lo kan temen kita juga, biar seru gitu. Kita jadi punya kenangan main bareng" Ujar Ardan terkekeh.
"Bener banget tuh abang Ardan" Balas Fikri.
"Abang abang, lo kira gue abang lo" Ardan menoyor kepala Fikri.
"Oke" Sahut Raga singkat. Ia malas berdebat dengan teman-temannya. Jika ia masih tetap tidak ikut, maka teman-temannya akan terus berisik dan menganggu ketenangannya itu.
"Oke sekarang kita putar nih botol ya" Reihan memutar botolnya dan ternyata berhenti di Ardan.
"Milih apa lu, Dan?" Tanya Fikri.
"T aja gue" Balas Ardan.
"Siapa cewek yang lo suka sekarang?" Tanya Reihan.
"Mampus gue. Masa iya gue bilang sama kutu kupret ini" Batin Ardan.
"Ayo jawab, Dan" Ujar Fikri mendesak Ardan.
"Bisa ganti D kagak?" Tanya Ardan mencoba negosiasi. Ia benar-benar tak ingin menjawabnya.
"Gak bisa" Ucap Reihan.
Ardan menghela napasnya. Sepertinya memang ini bukan nasib baiknya. Akhirnya ia pun mengaku siapa yang sedang ia sukai saat ini.
"Hwaaaa? Beneran lo suka sama tuh cewek? Dia kan jutek dan galak bangett" Ujar Fikri yang heboh.
"Cinta gak pandang sifat" Kini Raga mengeluarkan suaranya. Fikri, Ardan, dan Reihan pun menoleh ke arah Raga seolah kaget dengan apa yang Raga ucapkan.
"Tumben lo bijak?" Sahut Reihan. Raga hanya mengendikkan bahunya.
"Oke kita lanjut puter nih ya" Ardan mulai memutar botolnya lagi. Kini ujung botol menunjuk ke arah Raga.
"Nah giliran lo, Ga. Truth or Dare?" Tanya Ardan.
Raga menghela napasnya. Ia benci permainan ini. Kenapa harus ia yang kena. "Dare" Jawabnya singkat.
"Lo harus jadian sama Zahra. Gimanapun caranya" Ucap Ardan.
"Wah ide bagus tuh" Sahut Reihan.
"Bener banget. Gue setuju. Lo pinter banget, Dan" Sahut Fikri yang ikut-ikutan.
"Gak" Jawab Raga singkat.
"Gak bisa gitu dong, Ga. Lo harus terima karena lo udah kalah di ToD ini" Ucap Reihan.
"Kenapa harus Zahra?" Tanya Raga.
"Karena lo sama Zahra tuh kaya tom n jerry tau gak? Berantem mulu, tapi kadang-kadang so sweet. Kan mending lo jadian gitu" Balas Ardan.
"Kalau gue gak mau?" Tanya Raga.
"LO HARUS MAU" Ucap mereka bertiga dengan serempak yang membuat Raga menutup kedua telinganya.
*****
Pagi-pagi sekali Zahra sudah sampai di sekolah karena hari ini adalah jadwalnya untuk piket. Ia segera meletakkan tas di bangkunya dan mengambil sapu.
Tak lama kemudian, Raga datang dan tanpa merasa bersalah ia menginjak sampah yang sudah dibereskan oleh Zahra sehingga sampah-sampah itu menjadi berantakan lagi.
"Lo gimana sih? Gak lihat gue lagi piket? Ini tuh udah gue beresin malah lo berantakin lagi" Omel Zahra, ia kembali menyapu lantai yang kembali kotor karena ulah Raga.
"Ya udah mana sapunya? Biar gue yang beresin," Raga merebut sapu yang ada ditangan Zahra.
"Gak usah. Gue bisa sendiri" Ujar Zahra yang tetap mempertahankan sapu yang ada ditangannya.
"Biar gue aja sini" Raga masih memaksa Zahra untuk memberikan sapunya. Alhasil perang untuk memperebutkan sapu pun dimulai.
"Cuitttt cuittt..... Masih pagi nih, udah berebut ajaa. So sweet amatt sihh" Ucap Fikri dengan nada alaynya, ia baru saja sampai bersama Reihan. Reihan hanya terkekeh karena ucapan Fikri itu.
"Jangan lupa dare lo" Bisik Reihan tepat di telinga Raga. Reihan langsung pergi menuju ke bangkunya dan membuat Raga mematung ditempat. Raga sangat bingung apa yang harus ia lakukan sekarang.
"Ngapain lo masih berdiri disitu? Minggir gue mau beresin lagi" Omel Zahra kepada Raga. Raga akhirnya pergi dan segera menuju ke bangkunya.
*****
"Radit, tunggu" Ucap seorang cewek yang masih terdiam di depan rumahnya.
"Apalagi sih, Chin? Gue udah males sama akal busuk lo itu. Gue selama ini udah tertekan sama lo karena ini. Lo hanya manfaatin semuanya dengan uang yang lo punya itu" Ujar Radit kesal dengan gadis dihadapannya yang bernama Chintya itu.
"Dit, gue tuh sayang sama lo. Gue gak mau lo jadi milik orang lain. Gue hanya berusaha buat lo jadi sayang juga sama gue" Ucap Chintya, matanya sudah berkaca-kaca. Ia ingin menangis sekarang juga.
"Cara lo salah, Chin. Gak semuanya bisa lo bayar dengan uang apalagi masalah perasaan. Sorry, gue gak bisa lagi jadi pacar jadi-jadian lo ini" Ucap Radit, ia segera masuk ke dalam mobilnya dan melajukannya meninggalkan rumah Chintya.
"Lihat aja lo, Dit. Lo bakal nyesel karena ninggalin gue" Batin Chintya.
******
"Lo pulang bareng gue" Raga menghampiri bangku Zahra dan berniat untuk mengajaknya pulang bersama. Sebenarnya itu juga suruhan teman-temannya, biar bisa makin dekat dengan Zahra dan menjadikan gadis itu sebagai pacar,katanya.
"Hah? Lo waras?" Tanya Zahra yang menempelkan tangannya di kening Raga. Raga terdiam, ia membeku seketika atas perlakuan Zahra itu.
"Pantesan panas. Ternyata sakit lo. Udah gue duluan bye" Ucap Zahra yang beranjak keluar dari bangkunya.
Raga segera menahan lengan Zahra. "Bareng gue. Untuk hari ini aja" Ucap Raga melembut.
Ponsel Zahra tiba-tiba berbunyi dan ternyata itu adalah telfon dari kakaknya, Radit.
"Haloo kak"
"....."
"Hah? Lo balik duluan? Kok mendadak sih, terus gue gimana dong"
"....."
"Ahhh lo nyebelin banget sih" Zahra menutup telfonnya. Radit mengabari bahwa ia ada urusan mendadak, jadi ia tak bisa pulang bareng Zahra karena harus pergi ke suatu tempat terlebih dahulu.
"Kakak lo gak bisa kan? Bareng gue aja, yuk" Raga masih mengajaknya, kali ini ia langsung menarik lengan Zahra. Zahra yang awalnya tak mau pun mengikuti saja karena ini sudah sore, angkutan pun pasti susah untuk mencarinya. Jadi lebih baik ia terima tawaran Raga.
Ketika sudah masuk di dalam mobil, Raga tidak segera menjalankannya. Ia memilih untuk melamun terlebih dahulu yang membuat Zahra keheranan. Apakah dia kesambet? Batin Zahra.
"Ayo pulang" Ajak Zahra.
"Mulai hari ini, lo jadi pacar gue" Ujar Raga to the point. Jika bukan karena hukuman dari teman-temannya, ia juga tak akan mau melakukan itu.
"Hah? Lo beneran sakit ya? Lo gila? Gue kan nggak mau!"
******