Tak terasa, Zahra dan teman-temannya yang lain sudah 2 minggu ada di sekolah barunya. Ia juga sudah mulai mengenal karakter teman-teman sekelasnya, mulai dari si pembuat rusuh, si ratu gosip, si pinter, dan lain-lain. Kalau tanya kebiasaan Zahra sendiri, ia adalah tukang telat.
"Selamat pagi anak-anak" Sapa Bu Arina dengan sumringah pada pagi ini dan siap mengajar matematika di kelas Zahra.
"Pagiiii buu" Jawab murid sekelas serempak.
"Minggu lalu ibu beri penugasan di buku kalian halaman 70-72 kan? Sekarang kumpulkan di meja" Ujar Bu Arina.
"Hah? Ada tugas apaan woi?" Tanya Raga yang kebingungan karena menurutnya hari ini tidak ada tugas apapun.
"Matematika b**o. Lo kagak ngerjain apa?" Tanya Reihan menjitak kepala Raga.
"Aduhh, sakit pea. Gue gak tau ada tugas apaan, gila dah" Raga mengacak rambutnya frustasi.
"Lo kenapa gak tanya gue, Ga. Kan gue bisa kasih contekan sama lo kalo lo belum ngerjain tugas Bu Arina" Sahut Karin di meja seberang. Karin adalah teman Raga sejak SD, bahkan mereka adalah tetangga. Jadi Karin sudah mengenal Raga sejak kecil.
"Gue kagak tau kalo ada tugas. Kalo tau juga gue udah cari contekan" Balas Raga malas.
"Karena semua sudah mengumpulkan tugas, maka saya akan koreksi dulu jawaban kalian. Jangan ramai" Ujar Bu Arina lalu berjalan menuju mejanya dan mulai membuka buku tulis siswanya.
"Raga Pratama Setiawan dan Azzahra Paramita Rafardhana, mana tugas kalian? Mengapa disini tidak ada buku kalian" Bu Arina bangkit dari duduknya dan mulai mengabsen siapa yang tidak mengumpulkan tugas.
"Zahra belum dat..."
"Selamat pagi bu" Ujar cewek yang tiba-tiba datang didepan kelas dengan nafas yang terengah-engah seperti usai lomba marathon.
"Zahra, kenapa kamu baru sampai di sekolah?" Tanya Bu Arina kemudian beralih melihat jam tangannya. "Ini sudah 40 menit lebih bel berbunyi dan kamu baru datang?" Tanyanya lagi.
"Ma...af bu.. Tadi ada masalah di jalan. Mobil saya mogok bu, makanya saya lari dari bengkel kesini. Jadi te..lat deh" Jelas Zahra yang masih mengatur nafasnya yang tersengal-sengal.
"Zahra, kamu saya hitung terlambat dan tidak mengerjakan tugas, sama seperti Raga, sebagai gantinya kalian berdua saya hukum" Ujar Bu Arina dengan tegas.
"Hah? Ibu nggak kasian sama saya? Saya baru sampai loh bu. Saya juga udah ngerjakan tugas kok" Ujar Zahra mencoba untuk negosiasi dengan gurunya itu.
"Tidak, Zahra. Kamu tetap saya hukum dengan Raga. Kalian berdua silahkan berdiri di depan tiang bendera dan hormat sampai jam pelajaran saya selesai" Perintah Bu Arina. Jika sudah seperti itu maka tak berani ada yang membantah bu Arina, mengingat guru itu adalah salah satu guru yang paling ditakuti murid satu sekolah ini.
Dengan langkah gontai, Zahra mengikuti perintah gurunya, begitu pula Raga. Ia segera bangkit dan keluar menuju tiang bendera. Menurut Zahra hari ini adalah hari tersial dalam hidupnya. Karena kakaknya yang meninggalkannya maka ia terpaksa untuk bawa mobil sendiri, ternyata mobilnya mogok ditengah jalan dan sesampainya di sekolah, ia dihukum oleh Bu Arina. Parahnya lagi, ia dihukum bersama orang yang sangat ia benci. Sungguh lengkap sudah penderitaannya hari ini.
Selama menjalani hukuman, tak ada yang memulai pembicaraan baik dari Raga maupun Zahra. Mereka sama-sama memilih bungkam. Kepala Zahra mulai berkunang-kunang karena berada dibawah terik matahari, mengingat hari ini ia juga belum sempat sarapan, tenaga yang ia miliki sudah terkuras karena harus berlari dari bengkel menuju sekolahnya yang berjarak lumayan jauh itu.
"Ternyata cewek kaya lo bisa telat dan berujung dihukum juga. Gue kira cowok doang yang bakal kena hukum" Raga memulai pembicaraan. Zahra hanya meliriknya sekilas.
Merasa tak digubris, Raga mulai geram dengan cewek yang ada di sebelahnya ini. "Gue ngomong sama lo b**o. Selain gak punya mata, ternyata lo gak punya telinga juga ya" Ujar Raga sarkas, kini pandangan yang awalnya ke tiang bendera, berpindah ke Zahra.
Zahra meliriknya lagi. "Omongan lo gak perlu dijawab" Ujarnya lalu kembali fokus melihat tiang bendera dengan tangan hormat untuk melanjutkan hukumannya. Mata Zahra mulai buram, pandangannya sudah kabur semua, kepalanya pusing, ia sudah tak kuat lagi. Zahra pingsan.
*****
Fikri yang awalnya duduk sebangku dengan Ardan memilih berpindah di bangku sebelah Reihan yang merupakan bangku Raga. Bukannya ia tak mau bersebelahan dengan Ardan tetapi ia hanya ingin maju satu meja agar lebih bisa memperhatikan Bu Arina.
"Lo kok ninggalin gue sih" Bisik Ardan yang ada di belakang meja Fikri.
"Kenapa? Takut lo?" Fikri terkekeh.
Ardan beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke bangku milik Zahra. Kini, ia duduk bersebelahan dengan Nadien.
"Ngapain lo disini?" Tanya Nadien jutek.
"Aelah, bentaran doang sampai Bu Arina kelar. Gue sendirian di belakang. Males" Ujar Ardan yang masih sibuk menulis catatan yang ditulis oleh Bu Arina di papan tulis. Nadien hanya menghela napasnya pelan.
"Ini tadi gimana caranya, Nad? Gue ketinggalan" Tanya Ardan.
"Oh ini tuh dicari turunan pertamanya dulu. Terus hasil turunan nya itu diturunin lagi biar dapet turunan keduanya" Nadien menjelaskan kepada Ardan dengan menuliskan di buku Ardan. Ardan tidak fokus, tiba-tiba pandangannya teralihkan oleh pesona Nadien. Jika dilihat dari dekat, Nadien cantik juga ternyata, Batinnya.
"Ardannn, lo ngerti apa kagak?" Teriak Nadien membuyarkan lamunan Ardan.
"Hah? Gimana Nad?" Ujar Ardan gelagapan dan kembali memperhatikan buku tulisnya yang sudah ditulisi oleh Nadien.
"Bodo ah. Gak ada siaran ulang. Lo pahami sendiri" Balas Nadien cemberut dan kembali menuliskan catatannya yang belum selesai.
"Lo kalo ngambek makin cantik"
Blushhh. Pipi Nadien memerah dengan perkataan Ardan. Ia akui Ardan memang memiliki muka yang diatas standar, tapi ia belum ingin jatuh cinta, ia masih trauma dengan masa lalunya yang membuat ia takut untuk jatuh cinta kembali.
"Dasar playboy" Balas Nadien. Ia berusaha keras menyembunyikan malunya agar tidak termakan omongan buaya-buaya darat seperti lelaki yang ada di sebelahnya ini.
"Gue gak playboy. Cuma banyak temen cewek aja" Ujar Ardan enteng. Nadien hanya melirik ke arah Ardan sebentar dan memutar bola matanya malas.
*****
Raga segera membopong Zahra menuju ke UKS. Awalnya Raga terkejut karena Zahra tiba-tiba tergeletak di sebelahnya. Ia berusaha menepuk pipi Zahra tetapi tidak ada respon apapun.
Dari kejauhan terlihat sosok siswa yang memperhatikan kejadian itu. Ia menggeram. "Dasar cewek murahan" Batinnya.
Ia tak pernah suka jika Raga berdekatan dengan siapapun selain dirinya. Baginya, ia harus menjadi prioritas utama Raga. Ia memang menyukai Raga.
Jika ia tak bisa memiliki Raga, maka siapapun tak boleh dekat dengan Raga. Bila ada yang berani dekat dengan Raga bahkan sampai menjadi pacarnya, ia takkan tinggal diam. Ia akan memusnahkan siapapun yang merebut perhatian Raga darinya.
******
Bel istirahat pun berbunyi. Para siswa berhamburan keluar kelas, ada yang menuju kantin, ada yang hanya keluar keluar untuk melepas penat karena pelajaran, bahkan ada juga yang masih menetap di kelas.
"Eh Zahra gimana ya? Harusnya kan ia udah selesai hukumannya" Celetuk Nadien kepada kedua temannya, Rania dan Tasya yang duduk tepat dibelakang bangku Nadien dan Zahra.
"Oh iya.. Samperin yuk di lapangan upacara. Kan Bu Arina tadi ngehukumnya di depan tiang bendera." Balas Tasya.
"Ya udah yuk" Mereka bertiga segera berjalan menuju lapangan upacara. Sesampainya disana, ia tak melihat ada Zahra maupun Raga.
"Lah kok gak ada siapa-siapa sih. Kemana Zahra?" Tanya Tasya bingung.
"Dia dihukum bareng Raga kan? Raga nya juga gak ada nih. Gimana dong?" Sahut Rania.
"Kita ke kantin aja deh. Siapa tau mereka udah duluan kesana" Ajak Nadien kemudian diangguki oleh Tasya dan Rania.
"Itu di meja pojok yang biasanya ditempati oleh Raga and the geng, gak ada Raga. Cuma temen-temennya aja. Terus Raga sama Zahra kemana?" Ujar Tasya menunjuk meja yang ia maksud.
"Iya juga ya, kemana mereka" Sahut Nadien.
"Samperin mereka aja yok, siapa tau mereka ngerti dimana Raga dan Zahra" Usul Rania.
"Bener juga tuh. Yauda yok" Ajak Nadien kemudian menggandeng pergelangan tangan kedua temannya untuk menuju meja Ardan, Fikri, dan Reihan.
"Lo kok cuma bertiga, Raga mana?" Tanya Rania to the point.
"Ngapain lo cari Raga? Pengen ketemu ya? Kangen yaa? Cwitt cwittt" Balas Fikri terkekeh. Rania terdiam, ia malu jika sudah digoda seperti itu.
"Apaan sih lo, gue tuh mau cari Zahra. Kita cari di tempat hukumannya gak ada. Disini juga gak ada, kalo ada Raga pasti kan dia tau dimana Zahra" Ujar Rania mencoba mengontrol malunya. Ia berusaha biasa saja didepan cowok-cowok itu.
"Raga di UKS. Zahra pingsan. Jadi dia masih disana" Ujar Reihan. Tasya, Rania dan juga Nadien terkejut, ternyata Zahra pingsan dan sekarang berada di UKS. Mereka segera menghampiri Zahra dan tidak jadi makan di kantin.
******
Zahra membuka matanya. Ia memperhatikan sekitar. Kesadarannya mulai terkumpul. Ia tergeletak di kasur UKS. Ia baru ingat saat menjalankan hukuman tadi, ia pingsan. Tetapi siapa yang membawanya kesini?
Zahra kembali menutup matanya karena ia merasa masih sangat pusing, ia ingin mengistirahatkan sebentar badannya. Tiba-tiba ia merasa ada yang datang dan menghampirinya.
"Belum bangun juga ni cewek gila" Ujar seseorang yang datang. Zahra mulai membuka matanya dan melihat Raga disana.
"Oh udah bangun. Bagus deh. Nih lo makan dulu dan jangan nyusahin gue lagi" Ujar Raga kemudian berjalan menjauhi kasur Zahra. Zahra menahan lengan Raga.
"Lo yang bawa gue kesini?" tanya Zahra dan dibalas deheman oleh Raga.
"Makasih" Ucapnya pelan. Lagi-lagi hanya dibalas deheman oleh Raga.
"Irit banget sih kalo ngomong!" omel Zahra dalam hati.
"Gak ada yang mau disampein lagi kan? Gue mau cabut" Ujar Raga. Zahra hanya menggeleng pelan.
Setelah melihat respon Zahra, Raga pergi meninggalkan Zahra sendiri di UKS dan ia segera menuju ke kantin, karena sedari tadi perutnya sudah berdemo minta diisi.
"Ternyata cowok kaya dia, punya sisi baik juga," batin Zahra, lalu ia mengulas senyum tipis di bibirnya.
*****