Bab 12

1050 Kata
Rombongan tim basket SMA Harapan Bangsa telah sampai di Jakarta sekitar pukul 12.00 siang. Pak Dani menghimbau anak didiknya itu agar segera pulang dan beristirahat agar tubuh mereka kembali fit dan besok bisa masuk sekolah kembali. Sebenarnya Raga ingin menemui Zahra terlebih dahulu, tetapi niatnya ia urungkan karena himbauan dari Pak Dani. Jika sudah dibilangi seperti itu, maka Raga akan patuh dan tak mengelaknya. Raga akan segera pulang dan beristirahat di rumahnya. Hari ini, Zahra dimintai tolong Bu Arina untuk menginput data murid di kelasnya untuk di masukkan ke dalam buku rapot. Zahra pun dengan senang hati membantunya. Ketika sampai di data punya Raga, Zahra membacanya. Tanggal lahir Raga jatuh tepat pada tanggal 11 Desember, dan sekarang sudah tanggal 1 Desember yang artinya 10 hari lagi, Raga akan merayakan ulang tahunnya tepat 17 tahun. Zahra berpikir sejenak, apakah ia akan memberi surprise untuk Raga atau sekedar memberikan kado dan ucapan saja. "Ah ngapain gue pikirin coba. Gue kan terima dia juga gara-gara terpaksa karena kalah main di timezone" Pikirnya lagi. Tetapi hati kecilnya bertolak belakang dengan apa yang diucapkannya. Rasanya, ia ingin memberi sebuah kejutan untuk Raga di ulang tahunnya yang ke 17 ini. "Gue tanya Nadien aja deh nanti" Pikirnya lagi. Kemudian melanjutkan kembali tugasnya. Setelah menyelesaikan tugasnya, Zahra berpamitan kepada Bu Arina untuk kembali ke kelas. "Nadiennn" Ujar Zahra saat ia sudah duduk di sebelah Nadien. "Apaan?" Tanya Nadien yang masih memainkan ponselnya. "Gue mau tanya" Ujar Zahra. Ia mengetuk dagunya. "To the point bisa gak?" Ujar Nadien. Zahra terkekeh. "Ampunn deh" Ujar Zahra ia menyatukan kedua telapak tangannya layaknya orang yang meminta maaf. "Gue tuh tadi gak sengaja lihat tanggal lahir Raga. Dia tuh lahir tanggal 11 Desember" Ujar Zahra. "Terus? Gue harus bilang wow gitu?" Balas Nadien, ia memutar bola matanya malas. "Ihh, Nadien. Gue tuh belum selesai tau ngomongnya" Ujar Zahra mengerucutkan bibirnya. "Yaudah lanjutin" Ujar Nadien. "Gue ngasih surprise gitu gak ya ke dia? Atau gue kasih ucapan sama kado aja?" Tanya Nadien meminta saran. "Gue tau sebenarnya lo udah kepikiran milih opsi pertama" Tebak Nadien yang 100% bener. Karena sebenarnya Zahra ingin memberi surprise kepada Raga. Zahra memamerkan deretan giginya. "Lo paham banget sih sama gue" Zahra menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Nadien menoleh ke arah Zahra. "Kalo lo emang berniat, yaudah lakuin" Usul Nadien, lalu ia kembali fokus memainkan ponselnya. ***** Zahra merebahkan tubuhnya di kasur kesayangannya itu. Ia menatap langit-langit kamarnya , ia masih berpikir bagaimana cara memberi surprise kepada Raga. Kemudian, ia mengambil ponselnya, lalu ia mengetikkan sesuatu disana. CIWI-CIWI CANTIK Azzahra Paramita : Ada yang free besok malem? Rania Amanda : Gue free. Kenapa? Nadien Olivia : Gue ada urusan sama nyokap. Natasya Adinda : Gue juga ada urusan, Ra. Kenapa emang? Azzahra Paramita : Gue mau minta tolong Nadien Olivia : Apaan? Natasya Adinda : ^2 Rania Amanda : ^3 Azzahra Paramita : Gue minta tolong ke yang besok free aja. Gue pc ya, Ran. Rania Amanda : Read by 3. ***** Malam ini, Zahra dan Rania bertemu dengan seseorang di Cafe Pelangi. Zahra mengajak Rania ikut ke cafe ini karena hanya Rania yang bisa diantara yang lainnya. Zahra dan Rania mencari seseorang, ketika mata Zahra menemukannya. "Haii, udah lama nunggu ya?" Sapa Zahra lalu ia dan Rania duduk disana. "Oh enggak kok. Gue juga barusan datang" Balas Ardan. Zahra mengajak Ardan untuk bertemu guna membahas rencananya tentang surprise ulang tahun Raga. "Kok lo sendiri? Katanya lo mau ajak Fikri?" Tanya Zahra celingukan. "Fikri ada urusan bentar sama nyokapnya. Jadi dia agak nelat gitu" Ujar Ardan, kemudian Zahra hanya mengangguk. "Eh, Dan, Ra, gue ke toilet dulu bentar ya" Izin Rania kepada Zahra dan Ardan. "Oh iya, yaudah sana" Balas Zahra. Zahra dan Ardan mulai membahas tentang rencana yang akan dilakukannya tepat pada tanggal 11 Desember itu. Zahra merancang sebaik mungkin, agar surprise yang ia berikan akan terkenang selamanya bagi Raga. Ia ingin ulang tahun Raga yang ke 17 adalah ulang tahun yang paling berkesan dalam hidupnya. Apalagi itu karenanya. ***** Raga mencoba menelfon Zahra. Ia merasa sangat rindu berbincang dengan gadis itu. Akhir-akhir ini perasaannya sangat aneh kepada Zahra. Seperti ingin selalu berdekatan dengan Zahra. Sebenarnya, Raga juga bingung ada apa dengan dirinya. Mengapa dia bisa berubah secepat itu, padahal sebelum ini, ia dan Zahra selalu seperti tom n jerry, selalu berantem dan susah sekali jika harus akur. Tetapi ia tak menyangka, ia berpacaran dengan gadis seperti Zahra, membuat hidupnya yang abu-abu menjadi lebih berwarna. Zahra selalu memberikan cinta dan kebahagiaan untuknya. Sudah dari jam 8 malam Raga mencoba menelfon Zahra tetapi ponselnya tidak aktif. Ia juga sudah mengirimkan beberapa pesan singkat kepada gadis itu tetapi tetap saja tak ada jawaban. Raga khawatir kepada keadaan gadis itu. Selalu saja ia dibuat frustasi karena memikirkan Zahra yang suka ilang-ilangan. "Dia kemana lagi sih. Heran gue cepet banget ngilangnya" Raga ngedumel pada dirinya sendiri. Ia masih mencoba untuk menelfon Zahra. Ia mondar-mandir di kamarnya seperti setrika. "Zahraaaa, aktifin hp nya dong. Nyebelin banget sih" Raga masih ngedumel karena di hp nya tak ada nada sambung sama sekali. Ia yakin bahwa ponsel Zahra mati. Raga melempar kasar ponselnya diatas kasur. Ia mengacak rambutnya. Ia sangat kesal dengan Zahra yang selalu tidak aktif saat ia mencoba menghubunginya. Raga merebahkan tubuhnya di kasur dan menatap langit-langit kamar dengan tangan sebagai bantalannya. Raga membayangkan wajah Zahra yang selalu tersenyum, ia menyukai senyuman Zahra. Bagi Raga, Zahra sekarang adalah dunianya. Zahra adalah sumber kebahagiaannya. Ponsel Raga berbunyi, dengan tergesa-gesa Raga melihat nama yang tertera kemudian ia tersenyum. Akhirnya gadis itu menelfonnya kembali. "Hallo, Ga? Ada apa?" Tanya Zahra di seberang sana. "Kamu kemana aja sih? Suka banget ngilang kaya setan" Omel Raga. "Enak aja gue dibilang setan. Eh tunggu, sejak kapan lo ngomong sama gue pake aku kamu?" Tanya Zahra. Raga menutup mulutnya. Ia baru sadar jika tadi dia ngobrol dengan aku-kamu. "Sejak sekarang. Dan aku juga mau kamu ngomong kaya gitu. Kita kan udah pacaran, biar romantis gitu" Ujar Raga. Zahra bergidik ngeri. "Idih, jijik tau gak? Gue gak mau. Lagian gue pacaran sama lo juga terpaksa" Ujar Zahra. "Eitss gak boleh ngomong terpaksa okey? Kamu gak inget apa perjanjian tempo hari?" Ujar Raga. Zahra menepuk jidatnya, ia hampir lupa jika ia sudah berjanji menerima Raga sebagai pacarnya dengan lapang d**a. "Iya sorry deh" Ujar Zahra. "Ngomongnya jangan pake aku-kamu deh, Ga. Gue gak nyaman nih" Protes Zahra. "Yauda iyadeh terserah lo aja. Jadi lo habis darimana sampe hp lo, lo matiin?" Tanya Raga. Zahra berpikir , ia harus mencari alasan yang pas agar Raga tidak curiga dengan rencananya. "Gue habis main sama temen-temen gue. Biasa, kalo lagi main tuh hp dimatiin biar nggak ganggu" Alibi Zahra. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN