Hari ini adalah hari dimana Raga dan teman-temannya yang telah bertanding kembali masuk ke sekolah. Kepala sekolah meminta Pak Dani memanggil semua anggota tim basket karena ia akan mengumumkan berita gembira untuk seluruh warga SMA Harapan Bangsa.
Seluruh siswa SMA Harapan Bangsa dikumpulkan di lapangan seperti pada saat tim basket akan berangkat ke Bandung untuk bertanding.
"Hari ini saya akan mengumumkan berita bahagia untuk seluruh warga SMA Harapan Bangsa. Tim basket kita yang kemarin bertanding di Bandung berhasil meraih juara 1 tingkat nasional" Ujar Pak Andi selaku kepala sekolah.
Semua yang ada di lapangan bertepuk tangan riuh dan bersorak gembira.
Pak Andi, Pak Dani serta anggota tim basket mengangkat piala kemenangannya.
Suasana kembali ramai karena semuanya besorak dan bertepuk tangan.
Setelah itu, siswa-siswi dibubarkan dan dihimbau untuk kembali ke kelas masing-masing karena kegiatan belajar mengajar akan dimulai.
Tetapi banyak yang belum kembali ke kelas, melainkan mereka memberi selamat kepada anggota tim basket, tak sedikit juga yang meminta foto bersama.
"Zahraaa" Teriak Fikri saat melihat Zahra dan teman-temannya berjalan menuju ke kelas.
"Iya, Fik?" Tanya Zahra.
"Raga mau foto sama lo tuh" Ujar Fikri menggoda Raga. Fikri tau betul sebenarnya Raga ingin berfoto dengan Zahra tetapi ia malu untuk meminta sendiri kepada Zahra.
"Apaan sih lo" Ucap Raga menoyor kepala Fikri.
"Dia kalo lagi malu sukanya menganiaya orang, Ra. Lo hati-hati aja nih" Ujar Ardan ikut mengompori Zahra.
"Diem lo semua" Ujar Raga yang kesal dengan kelakuan teman-temannya. Fikri, Ardan, dan Reihan terkekeh melihat kelakuan Raga.
"Lo mau kan, Ra kalo foto sama Raga?" Tanya Reihan.
"Rei, lo apaan sih malah ikut-ikutan duo s***p ini" Ujar Raga semakin kesal.
"Tapi emang lo pengen kan? Udah gak usah bohong, mata lo tuh yang nunjukin kejujurannya" Ujar Reihan. Raga terdiam, karena yang diucapkan Reihan memang benar.
"Raga-nya yang gak mau, Rei. Yaudah gue balik ke kelas ya" Balas Zahra.
Zahra melangkahkan kakinya untuk menuju kelasnya tetapi lengannya ditahan.
Zahra menoleh dan melihat Raga menahan lengannya. "Ayo foto dulu sama gue"
"Cieeee, akhirnya dia mau ngajak duluan guysss" Ujar Fikri menggoda Raga yang masih malu-malu jika berhadapan dengan Zahra.
"Pwuitttttt" Ardan bersiul untuk menggoda Raga.
Zahra yang ada di situasi itu makin kikuk. Ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Sama seperti, Raga, sebenarnya Zahra mau foto bersama cowok itu tetapi ia malu untuk mengungkapkannya.
"Yaudah sini hape lo. Gue fotoin. Kurang baik apa coba gue" Ujar Fikri.
"Nih" Raga memberikan ponselnya kepada Fikri.
Raga dan Zahra bersiap untuk foto. Kedua tangan Raga memegangi piala yang memang amat besar dan harus kedua tangannya yang memegang. Mereka berpose senyum, kemudian kedua jari tangan Zahra yang telunjuk dan jari tengah membentuk huruf v.
"Bentar deh. Kayanya kok datar banget sih ekspresi muka lo berdua" Ujar Ardan.
Zahra dan Raga bingung dengan maksud Ardan.
"Apaan sih, Dan?" Tanya Reihan.
Ardan segera menghampiri Zahra dan Raga. Kemudian ia mengatur posisi Zahra dan Raga.
Piala yang semua ada di kedua tangan Raga menjadi hanya satu tangan dan satunya dipegangi oleh Zahra. Kemudian, tangan kiri Raga diletakkan di pinggang Zahra.
"Perfectt" Kata Ardan saat melihat pose yang telah ia atur.
Tanpa menunggu aba-aba, Fikri menjepret Zahra dan Raga dalam beberapa kali jepretan.
Zahra yang secara tidak sengaja telah dipeluk oleh Raga pun menjadi semakin deg-degan. Ia semakin malu, tetapi ia berusaha biasa saja dan tetap tersenyum dalam foto itu.
*****
"Bu Arina, bisa tolong panggilkan Zahra kesini?" Tanya Bu Dina, selaku guru BK di SMA Harapan Bangsa.
"Azzahra Paramita, Bu?" Tanya Bu Arina memastikan.
"Iya" Jawab Bu Dina.
"Baik, saya panggilkan sekarang" Ujar Bu Arina. Bu Arina segera memasuki ruang kelasnya untuk mencari Zahra.
"Azzahra, bisa ikut ibu sebentar?" Tanya Bu Arina saat sudah sampai di kelas dan melihat Zahra sedang berbincang dan tertawa bersama teman-temannya.
Nadien, Tasya, dan Rania menoleh karena panggilan Bu Arina yang tiba-tiba.
"Lo kenapa, Ra?" Tanya Nadien khawatir dan takut jika ada masalah yang terjadi dengan temannya itu.
Bukan hanya Nadien, Tasya dan Rania yang terkejut tetapi juga Raga, Fikri, dan Reihan.
"Gapapa. Gue ikut Bu Arina dulu ya" Ujar Zahra menenangkan teman-temannya. Lalu, Zahra segera mengikuti Bu Arina dari belakang. Saat Bu Arina membuka ruang BK, ia terkejut, mengapa Bu Arina memanggilnya untuk ke ruang BK. Seingat Zahra, ia tak melakukan kesalahan apa-apa tetapi mengapa ia dipanggil.
"Ayo masuk, Zahra" Ajak Bu Arina yang melihat Zahra masih terdiam di tempatnya.
"Nggak apa-apa, kamu nggak salah kok. Ayo masuk dulu" Ujar Bu Arina tersenyum menenangkan Zahra yang panik karena ia dibawa ke ruang BK. Seumur hidupnya ia tak pernah membuat masalah dan berujung di ruang BK. Masuk ke ruangan itu saja dia tak mau, ini malah dipanggil.
"Ii..iya bu" Ujar Zahra melangkahkan kakinya masuk ke ruangan itu.
Saat masuk ke ruangan itu, ia terkejut karena ada Karin disana dan juga wanita yang duduk disebelahnya. Zahra menduga itu adalah mamanya Karin.
"Kamu yang namanya Azzahra?" Tanya Bu Dina.
"Iya, Bu, saya Azzahra" Ucap Zahra mengangguk sopan.
Bu Dina pun mengangguk. "Silahkan kamu duduk disini" Ujarnya.
Zahra duduk di sofa yang telah ada di ruang itu, Bu Arina juga masih setia menemani Zahra.
"Ini ada apa sebenarnya?" Batin Zahra.
"Zahra, apa benar beberapa hari yang lalu kamu diculik?" Tanya Bu Dina.
Zahra terkejut, mengapa guru BK sampai tau. Padahal ia hanya bercerita kepada teman-temannya saja dan tak mungkin jika temannya melaporkan tentang kejadian itu. Zahra hanya tak mau jika masalah itu jadi makin panjang dan rumit, toh Zahra juga sudah tidak apa-apa.
"Iiiii....iya, Bu" Jawab Zahra terbata-bata.
"Kamu sudah tau siapa yang melakukan itu sama kamu?" Tanya Bu Dina lagi.
Zahra menggeleng pelan. "Saya nggak tau, bu" Jawabnya.
"Karin, silahkan kamu bicara semua yang terjadi antara kamu dan Zahra" Ujar Bu Dian menoleh ke arah Karin yang sedari tadi menunduk dan memainkan jarinya.
Karin menoleh sebentar ke arah Bundanya. Bundanya hanya mengangguk dan tersenyum untuk memberi kekuatan kepada putrinya itu.
"Ra, aaa..kuu mau minta ma..af sama kamu" Ujar Karin terbata-bata, matanya berkaca-kaca. Zahra hanya menatap Karin dan menunggunya untuk pernyataan lanjutan dari Karin.
"Sebenarnya, aku yang udah culik kamu waktu itu" Ujar Karin. Ia kembali menunduk.
Zahra terkejut, ia menutup mulutnya. Zahra sungguh tak menyangka ternyata teman sekelasnya sendiri lah yang berani melakukan hal kriminal itu kepadanya.
"Aku ngelakuin itu karena aku benci sama kamu, Zahra. Kamu bisa ngerebut semua perhatian Raga, sedangkan aku? Aku yang dari kecil bareng sama Raga. Aku yang dari TK-SMA ini satu sekolah sama Raga, bahkan aku juga satu kelas sama Raga, tapi Raga nggak pernah sedikitpun melirik ke arahku. Tapi semenjak kehadiranmu, Raga kelihatan bahagia, dia selalu senyum, padahal dia dulu adalah orang yang sangat tertutup. Aku benci karena kamu berhasil ngerubah Raga menjadi lebih baik, sedangkan aku yang daridulu sama dia, aku gak bisa buat dia bahagia seperti dia bahagia sama kamu" Ujar Karin, ia mulai terisak ketika menceritakannya.
"Aku sadar aku salah karena udah nekat ngelakuin penculikan ini. Tapi aku cuma pengen kamu jauhin Raga. Sebelumnya juga aku udah peringatin kamu buat jauhin Raga, tapi kamu malah nantangin aku. Asal kamu tau aja, aku bukan orang yang suka ditantang, makanya aku berani berbuat nekat" Jelas Karin lagi. Zahra hanya diam mendengar penjelasan Karin.
"Aku minta maaf sama kamu, Ra. Aku udah gak mau di penjara lagi dan aku masih pengen sekolah disini bareng sama Raga" Ujar Karin.
"Jadi, ketika kamu diselamatkan oleh seseorang dan ternyata ia membawa polisi, Karin di rehabilitasi selama beberapa hari ini hingga dia tak bisa masuk ke sekolah. Saat disana, saya mencoba menasehati anak saya agar anak saya bisa sadar dan saya mencoba untuk negosiasi dengan polisi agar anak saya di bebaskan karena ia masih ingin meneruskan sekolahnya. Polisi memperbolehkan Karin untuk bebas dengan syarat, Karin tak boleh melakukan hal kriminal lagi. Tetapi untuk pihak sekolah sendiri, mereka akan mengambil keputusan setelah mendengar pernyataan dari kamu Zahra. Tante minta tolong, maafkan anak tante. Tante bisa menjamin dia tak akan berani berulah macam-macam lagi" Ujar wanita yang merupakan ibunda dari Karin.
"Bagaimana Zahra? Sebagai pihak yang dirugikan, apakah kamu masih bisa memaafkan perbuatan Karin?" Tanya Bu Dina.
"Saya sudah memaafkan Karin. Mungkin saat itu memang Karin sedang khilaf. Manusia tak ada yang tak berbuat dosa, Bu. Saya tau bagaimana rasanya ketika teman dekat kita direbut oleh orang lain. Tapi Karin, saya sama sekali tidak ada niat buat ngerebut Raga. Raga masih bisa berteman dengan siapa aja. Asal kamu mau merubah sifatmu, Raga pasti mau berteman dengan kamu juga" Ujar Zahra menatap Karin.
"Saya mau Karin tetap ada di sekolah ini bu" Putus Zahra.
Bu Dina terkejut. Begitupula dengan Karin. "Apa kamu yakin?" Tanya Bu Dina. Zahra hanya mengangguk pelan.
"Baik, jika pihak yang dirugikan masih menginginkan Karin berada disini, saya tidak akan mengeluarkan Karin, melainkan Karin harus di skors terlebih dahulu selama satu minggu ke depan. Saya harap Karin bisa merenungi kesalahannya dan tak mengulanginya lagi. Kamu ngerti Karin?" Ujar Bu Dina.
"Mengerti, Bu. Terimakasih karena saya tidak dikeluarkan dari sekolah ini. Saya janji, saya tak akan berbuat aneh-aneh lagi" Ujar Karin.
"Ra, makasih karena masih bisa maafin aku dan ngasih kesempatan kedua" Ujar Karin yang beralih menatap Zahra.
Zahra tersenyum kepadanya.
Setelah masalah selesai, Zahra diperbolehkan untuk keluar ruang BK dan kembali ke kelasnya.
"Jadi beberapa hari yang lalu kamu diculik?"
*****