Bab 8

1367 Kata
Zahra mengakui kekalahannya, ia menerima apapun yang Raga mau. Kini, Zahra telah resmi berpacaran dengan Raga. Mulai sekarang, Raga mau setiap harinya, ia selalu menjemput dan mengantarkan pulang Zahra, kecuali jika ia ada halangan harus pulang mendadak atau latihan basket atau hal lain yang membuatnya tidak bisa mengantarkan Zahra. Zahra sebenarnya tidak setuju dengan kemauan Raga yang menurutnya terlalu berlebihan, tetapi Raga selalu bilang jika Zahra tak menurut, berarti Zahra tak menerima kekalahannya dengan lapang d**a. Padahal sebenarnya sih emang tidak lapang d**a, tapi mau bagaimana lagi. 4 COGAN!!!! Raga Pratama : Gue berhasil. Zahra jadi pacar gue sekarang. Fikri Nugraha : Hahahaaluuu Reihan Adiputra : Serius lo?? Ardan Rizaldi : Gak percaya kalo gak ada bukti! Raga Pratama : Gue buktiin besok. Hari ini, Raga sudah bersiap untuk menjemput Zahra. Mereka akan berangkat sekolah bersama. Raga hanya ingin membuktikan kepada ketiga temannya bahwa Raga adalah cowok yang gentle, ia menerima kekalahannya di game ToD beberapa minggu yang lalu. Raga sudah bilang di grup chat mereka tetapi tak ada yang percaya. Hari ini, Raga akan membuktikannya sendiri agar mereka semua percaya. Sesampainya mereka di sekolah, Raga merangkul Zahra. Zahra sebenarnya sangat risih dengan perlakuan Raga. Sudah berkali-kali tangan Zahra menepis tangan Raga untuk dipindahkan dari bahunya tetapi lagi-lagi Raga masih meletakkan kembali tangannya di bahu Zahra. Zahra hanya bisa menghela napas kasar. "Guyss, minta perhatiannya sebentar" Ujar Raga dengan suara sedikit keras agar terdengar dalam ruang kelasnya. Teman-teman sekelas Raga dan Zahra menoleh dan terkejut dengan apa yang mereka lihat. Zahra datang bersama Raga dengan posisi tangan Raga dibahu Zahra.  "Mulai hari ini, Zahra adalah pacar gue. Ya kan, Ra?" Ujar Raga menoleh ke arah Zahra. Zahra hanya tersenyum kikuk. Ia sangat malu. Mengapa Raga harus mengenalkannya di depan semua orang sih, pikirnya. "Cieeeeee cieee" "Pwwiittt" "PJ woi PJ"  Begitulah sorakan dari teman-teman sekelas mereka yang menggoda Zahra dan Raga. Kini, Zahra segera duduk ditempatnya. Ia malas jika harus lama-lama berdekatan dengan Raga. "Lo kok bisa jadian sama Raga?" Tanya Nadien terkejut. "Iya, gimana ceritanya?" Kini Tasya yang bertanya. "Lo kok gak cerita kalo suka sama Raga?" Sekarang giliran Rania yang bertanya. Zahra merasa pusing. Dia menjadi bahan pembicaraan di kelas sekarang karena ulah Raga. Ia ingin mengumpati Raga sekarang juga tetapi tak bisa ia lakukan karena tak lama guru yang akan mengajar fisika di kelasnya sudah masuk. Zahra hanya bisa menarik napasnya dalam-dalam agar lebih rileks dan melupakan kejadian yang barusan terjadi. Jam istirahat pun tiba. Teman-teman Zahra masih mendesak Zahra untuk menjawab pertanyaan mereka tentang klarifikasi Raga tadi pagi. Padahal, Zahra tak berniat sama sekali untuk menjawabnya. Ia malas jika sudah membahas tentang Raga. Seperti tidak ada topik yang lebih menarik saja, begitu pikirnya. "Ra, lo kok diem aja sih. Jawab dong. Kita tuh penasaran tau gimana bisa lo sama Raga jadian" Ujar Nadien yang masih terus mendesak Zahra. "Bener tuh, lo ngomong dong, Ra" Tasya ikut membantu Nadien mendesak Zahra. "Tau nih, lo kapan deketnya aja kita gak tau, tiba-tiba udah jadian aja. Lo anggep kita temen kagak?" Tanya Rania. "Please guys, sekali aja gak usah bahas Raga. Gue pusing tau gak" Balas Zahra memegang kepalanya. Bakso yang ada dihadapannya pun masih utuh karena sama sekali tak disentuh oleh Zahra. Zahra benar-benar tidak nafsu untuk makan hari ini. Apalagi teman-temannya masih saja membahas masalah Raga yang membuat Zahra makin pusing. ***** "Rin, lo mau diem aja si Zahra jadian ama Raga?" Tanya seorang gadis bernama Disty saat sedang di kantin.  "Iya, lo gak berniat kasih dia pelajaran gitu?" Kini seorang gadis yang berada di sebelah Disty pun ikut bicara, ia bernama  Alina.  "Diem lo berdua. Sekarang gue juga masih mikir gimana caranya. Dan gue juga gak akan diem aja karena Zahra seenaknya ngerebut Raga dari gue" Ucap Karin yang masih memperhatikan Zahra yang sedang duduk bersama teman-temannya. "Nanti pulang sekolah, lo berdua ikut gue" Ujar Karin lagi. ***** "Gimana, udah pada percaya?" Tanya Raga lalu ia kembali menyesap es cokelatnya. "Percaya gue. Gila emang lo, Ga. Hebat banget" Ujar Fikri kagum. "Lo pake pelet apaan sampe si Zahra luluh sama lo?" Tanya Reihan. "Emang keliatan gue main dukun gitu?" Tanya Raga tak terima dengan ucapan Reihan. "Yaa kali aja ucapan Rei tuh bener" Ujar Ardan. "Aneh aja tau. Tiba-tiba lo bisa jadian secepet itu sama Zahra. Belum sampe sebulan loh kita main ToD itu" Ujar Ardan keheranan. "Nah bener banget tuh. Makanya gue mikir lo pake dukun" Balas Reihan menatap Raga.  "Pokoknya gue udah jalani dare gue dan gue gak kalah ya dari kalian" Ujar Raga. "Iya deh. Gue akuin" Balas Reihan. Raga hanya tersenyum puas. "Eh tapi, jangan gara-gara ini dare doang lo jadi sakitin tuh cewek, Ga. Kasian tau. Dia gak tau apa-apa" Ucap Ardan. "Nah bener banget tuh. Lo jangan jadi fakboy" Tambah Reihan. "Iya bener tuh, Ga. Awas aja lo ya sampe sakitin Zahra. Gue gak segen-segen ngerebut Zahra dari lo" Ujar Fikri. Ketiga temannya melongo karena ucapan Fikri barusan. "Gue salah ngomong yak?" Tanya Fikri menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "EMANGNYA ZAHRA MAU SAMA LO?" Teriak mereka bertiga serempak dan membuat Fikri menutup kedua telinganya. "Belum dicoba ya gak akan tau bray" Ujar Fikri dengan percaya dirinya. "Eh, Ga, kita nanti ada latian basket. Kan minggu depan kita ada tournament di Bandung. Lo ikut kan?" Tanya Reihan mengalihkan pembicaraan. "Liat ntar deh. Gue udah janji sama Zahra mau nemenin dia ke toko buku" Ujar Raga. "Iye tau dah yang barusan jadian, baru bucin-bucinnya deh." Sindir Ardan melirik Raga. "Lo jangan gitu, Ga. Tournament ini penting buat kita loh. Dan waktunya tinggal seminggu lagi. Lo yakin gak ikut latihan?" Tanya Reihan masih berusaha membujuk Raga. "Bener tuh, Ga. Lo gila apa gak ikut latihan cuma gara-gara mau jalan sama Zahra. Lo kan bisa bilang ke Zahra kalo ada latihan basket. Dia pasti ngerti kok" Ujar  Ardan yang diangguki oleh Reihan karena setuju dengan ucapannya. "Iya gue nanti bilang ke Zahra" ***** "Ra, sorry banget ya, gue gak bisa nemenin lo ke toko buku. Gue baru diingetin sama Reihan kalo hari ini ada latihan basket" Ujar Raga kepada Zahra yang masih sibuk menata bukunya yang akan ia masukkan ke dalam tas. "Oh... Ya nggak papa. Latihan aja, gue bisa ke toko buku sendiri kok" Ujar Zahra. Kini pandangannya sudah beralih ke Raga. "Lo gak marah kan?" Tanya Raga memastikan. Zahra tertawa. "Lo kira gue anak kecil apa kalo misal gak ditemenin nangis gitu?" Zahra menggelengkan kepalanya pelan karena tak habis pikir dengan jalan pikiran Raga yang sesempit itu. "Lo hati-hati ya dijalan" Ucap Raga dengan nada khawatir. "Iya. Lo tenang aja. Gue bisa jaga diri gue sendiri" Balas Zahra berusaha menenangkan Raga. "Lo ke lapangan sana. Pasti udah ditungguin tuh" Usir Zahra. "Lo ngusir gue?" Tanya Raga. "Iya" Balas Zahra singkat yang membuat Raga geram. "Lo minta dikasih hukuman ya" Ujar Raga. Kemudian ia menggelitiki Zahra. Zahra yang kegelian pun tak bisa menahan tawanya. Untung saja kelas sudah sepi dan hanya tersisa mereka berdua, jadi Zahra tak malu jika Raga berkelakuan seperti itu. "Udah, Ga. Gue capek nih hahahah" Ujar Zahra disela-sela tawanya. Raga menghentikan aksinya, Zahra pun terengah-engah karena ia lelah tertawa. "Yaudah, gue ke lapangan dulu ya" Pamit Raga yang diangguki oleh Zahra. Kemudian Raga segera keluar dari kelas dan menuju ke lapangan. Setelah kepergian Raga, Zahra segera keluar dari kelas dan pergi ke toko buku sebelum hari mulai petang. Saat ia baru saja berdiri, tiba-tibaa... Brakkkk... "Lo apa-apaan sih" Teriak Zahra setelah tau ada yang tiba-tiba menggebrak mejanya. "Lo yang apa-apaan. Dasar cewek murahan" Ujar Karin dengan sarkasnya. Ya, Karin bersama dengan Disty dan Alina yang menggebrak meja Zahra. "Maksud lo apa?" Ujar Zahra dengan suara yang keras. "Lo dibayar berapa sama Raga sampe Raga jadi pacar lo, hah?" Tanya Karin dengan suara yang tak kalah keras dengan Zahra. "Oh jadi karena Raga lo kaya gini. Kenapa? Lo cemburu?" Zahra tertawa sinis, ia melipat kedua tangannya di depan d**a. "Gue udah suka sama Raga dari dulu, lo pasti ngerti kan!!!" Ujar Karin blak-blakan. "Karin sama Raga udah temenan dari kecil. Dan lo gak berhak sama sekali buat ngerebut perhatian Raga dari Karin!!" Peringat Disty.  Zahra tertawa keras. "Ngapain lo ketawa? Gak ada yang lucu b**o" Ujar Alina tak suka. "Lo bertiga aneh ya. Terserah Raga dong mau pilih siapa. Kalo gue yang menang kalian bisa apa hah?" Ucap Zahra tak mau kalah.  "Gue peringatin ya sama lo, mulai sekarang lo jauhi Raga atau lo akan tanggung akibatnya" Ujar Karin sambil menunjuk-nunjuk tepat di depan muka Zahra. "Asal lo tau, gue gak pernah takut sama siapapun. Apalagi manusia gak punya harga diri kaya lo" Balas Zahra sambil menyentil muka Karin kemudian pergi meninggalkan ketiga cewek itu. "Lihat aja lo nanti" Ujar Karin. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN