"Apa Perusahaan collaps lagi?" ujar Eza terkejut dengan kabar yang ia dapat dari telfon.
"....."
"Saya kesana sekarang juga" Ucap Eza. Lalu ia menutup telfonnya.
Radit yang tak sengaja mendengar obrolan papanya ditelfon pun segera menghampiri papanya.
"Pa, perusahaan papa kenapa?" Tanya Radit dengan nada takut. Karena disaat-saat seperti ini, Eza pasti gampang untuk terpancing emosinya
"Perusahaan papa collaps lagi. Beberapa bulan yang lalu, perusahaan papa kan bisa bangkit karena dapat suntikan dana dari perusahaan om Wira. Sekarang om Wira menarik semua dana yang masuk di perusahaan papa. Papa bingung, kenapa bisa om Wira berbuat seenaknya seperti itu" Eza mengacak rambutnya frustasi, baru saja ia bernapas lega karena perusahaannya bangkit tetapi saat ini harus collaps lagi.
"Papa harus ke kantor sekarang. Papa berangkat dulu, Dit. Jagain mama sama adek kamu" Pamit Eza.
Radit mengangguk pelan. "Hati-hati dijalan, Pa"
"Ini semua pasti karena Chintya. Arrrrghhhh" Radit berteriak frustasi. Ia menjambak-jambak rambutnya dengan kasar. Kemudian ia mengambil ponsel yang ada di atas nakas.
"Haloo, gue mau ketemu lo sekarang di taman deket komplek rumah lo" Ucapnya dengan seseorang ketika telfon telah tersambung.
"Lo licik banget sih, gini cara lo dapetin gue?" Ujar Radit ketika ia sudah bertemu dengan seseorang di taman.
"Gue udah bilang kan, gue bakal lakuin apapun demi dapetin lo" Ujar Chintya.
"Gak usah bawa-bawa keluarga gue juga. Gue gak mau mereka sengsara cuma gara-gara gue. Lo gak ngotak apa" Bentak Radit. Ia mengalihkan pandangannya, ia sudah sangat muak menatap cewek itu.
Chintya tertawa sinis. "Gue gak akan nyerah sebelum lo mau balik lagi sama gue, Dit"
"Lo bener-bener udah gila, Chin. Namanya cinta itu gak bisa dipaksa" Ujar Radit.
"Terserah lo deh. Lo tinggal pilih, keluarga lo sengsara atau lo balikan sama gue" Ujar Chintya tersenyum puas.
"Gue beri lo waktu 3 hari buat mikir. Jangan lupa kabarin gue" Chintya berjalan menjauhi Radit.
Radit mengacak rambutnya kasar. Ia semakin bingung harus berbuat apa sekarang.
"Dasar wanita iblis" Gerutunya.
*****
RaGanteng : Makasih lo udah mau nemenin gue.
Azzahra Paramita : Iya.
RaGanteng : Besok kan hari minggu. Gue mau jemput lo. Kita jalan-jalan. Anggap aja sebagai ucapan terimakasih gue
RaGanteng : Jangan nolak.
Read.
Zahra menghela napasnya kasar. Jangan tanya mengapa nama kontak Raga berubah menjadi seperti itu, Zahra telah dipaksa Raga untuk menyimpan nomornya dan menggantinya dengan nama seperti itu. Awalnya Zahra tidak mau, tetapi Raga terus memaksanya, hingga ia mengancam akan berbuat hal seperti tadi lagi.
Sungguh, Zahra tak tega jika melihat keadaan Raga seperti yang ia lihat tadi. Raga benar-benar berantakan, seperti orang stress berat yang sedang kumat. Zahra masih tak tau apa penyebab Raga menjadi seperti itu. Raga masih setia untuk menutup mulutnya. Bahkan, saat Zahra tanya ke Bi Ani, pembantu Raga, Bi Ani pun tak membuka mulut sama sekali. Rahasia yang ada di keluarga Raga benar-benar tertutup rapat.
Tetapi Zahra senang, akhirnya Raga bisa sedikit-sedikit melupakan masalahnya. Meskipun Zahra yang harus sengsara karena menuruti semua permintaan cowok itu. Tetapi tak apa baginya, karena menyenangkan orang lain nanti dapat pahala bukan?
Keesokan harinya, Raga benar-benar datang ke rumah untuk menjemputnya. Sekarang menunjukkan pukul 10 pagi, Zahra yang awalnya mempunyai niat untuk rebahan seharian dan menonton drama korea favoritnya pun harus tertunda karena ajakan cowok itu.
Zahra harus menuruti keinginan cowok itu, setidaknya sampai mood dan hatinya benar-benar pulih.
Zahra sudah siap dengan pakaian simplenya berwarna hitam yang dipadukan dengan warna pinknya. Ia terlihat sangat cantik.
Zahra menuruni tangga untuk menemui Raga yang sudah menunggunya di ruang tamu. Disana bisa Zahra lihat, Raga sedang berbincang-bincang dengan mamanya.
"Wah cantik sekali anak mama ini" Puji Anjani kepada anak gadisnya itu.
"Makasih ma" Balas Zahra tersenyum manis.
"Kenapa kamu nggak pernah kenalin pacar kamu ini ke mama sih?" Tanya Anjani yang membuat Zahra membulatkan matanya.
"Dia bukan pa--"
"Mungkin Zahra masih malu tante, makanya dia gak mau cerita ke tante dulu" Potong Raga. Zahra mendelik ke arah Raga, tetapi Raga hanya tersenyum penuh kemenangan.
"Oh iya mungkin ya. Gak usah malu-malu, Ra. Cerita aja gapapa. Pacar kamu juga ganteng gini kok" Ujar Anjani sambil melihat ke arah Raga. Raga tersenyum sopan kepada Anjani.
"Makasih, tante. Yauda kalo gitu, Zahra saya ajak jalan-jalan dulu ya tante" Pamit Raga, lalu ia mencium tangan Anjani dan diikuti oleh Zahra.
"Hati-hati ya. Pulangnya jangan kesorean" Ujar Anjani mengingatkan.
"Siap. Mari tante" Ujar Raga kemudian ia keluar bersama Zahra menuju ke mobilnya.
"Lo kenapa sih bilang kalo lo itu pacar gue ke mama? Lo kan bukan pacar gue" Omel Zahra saat di mobil bersama Raga.
"Yaudah sekarang kita pacaran" Jawab Raga enteng membuat Zahra membulatkan matanya.
"Gue gak mau" Balas Zahra.
Raga meliriknya sekilas. "Mau atau gak mau, gue tetep anggep lo sebagai pacar gue. Siapapun yang bertanya lo siapa gue, pasti akan gue jawab kalo lo itu pacar gue" Ujar Raga.
"Lo nyebelin banget sih" Ujar Zahra yang membuat Raga terkekeh.
Raga memarkirkan mobilnya, kemudian ia segera menyusul Zahra yang telah menunggunya di pintu masuk. Hari ini Raga mengajak Zahra jalan-jalan di salah satu mall di daerah mereka.
"Yukkk" Ajak Raga menggandeng tangan Zahra. Zahra yang terkejut, tak menggerakkan kakinya untuk mengikuti Raga. Raga menoleh ke arah Zahra yang masih enggan untuk berjalan.
"Kenapa? Lo kan pacar gue. Jadi gue mau gandeng lo" Ujar Raga yang seolah mengerti apa yang Zahra pikirkan. "Gak ada penolakan. Udah ayo jalan" Lanjutnya. Baru saja Zahra hendak membuka mulutnya tetapi lagi-lagi Raga sudah memotong ucapannya. Akhirnya ia menyerah dan membiarkan Raga menggandeng tangannya. Sebenarnya ia ingin melepaskannya tetapi apadaya, tangan Raga lebih besar dari tangannya, jadi ia tak akan bisa lepas dari genggaman Raga.
"Ga, kesana dulu yuk" Zahra menunjuk toko kosmestik disana. Raga hanya mengangguk, ia menuruti saja kemauan cewek itu.
Raga melepaskan genggamannya sebentar karena ia ingin membebaskan Zahra untuk memilih barang yang akan dibelinya. Setelah beberapa saat, Zahra sudah membawa kantong belanjaannya dan mengajak Raga untuk melanjutkan jalan-jalannya. Raga kembali menggandengnya.
"Mau nonton?" Tawar Raga saat mereka melewati gedung bioskop.
"Nggak deh. Filmnya lagi gak ada yang bagus. Ke timezone aja yuk. Udah lama gue gak main" Usul Zahra yang kemudian dibalas anggukan oleh Raga.
Sesampainya di timezone, Raga mengisi kartunya agar bisa digunakan. Zahra memilih permainan yang akan dimainkannya, pilihannya jatuh pada bola basket.
"Ga, tanding basket yuk!!! kalo lo kalah, lo harus nraktir gue es krim sepuas gue. Kalo lo menang, gue yang traktir lo es krim" Ujar Zahra bersemangat.
"Gue gak suka es krim" Jawaban Raga membuat Zahra cemberut. Kemudian Zahra mengetuk dagunya dan memikirkan kembali apa yang ia lakukan jika Raga menang.
"Kalo gue menang, lo harus mau jadi pacar gue" Ujar Raga disaat Zahra masih berfikir.
"Curang banget. Gue gak mau" Zahra melipat tangannya di d**a.
"Kalo gak mau ya udah, kita gak jadi main disini" Ancam Raga. Raga segera melangkahkan kakinya menjauhi timezone guna menipu Zahra agar Zahra mau menerima tantangannya.
"Oke kita deal" Ujar Zahra. Raga tersenyum puas.
Pertandingan basket antara Zahra dan Raga pun dimulai. Di babak awal, Zahra masih bisa mendapat poin lebih banyak dari Raga. Begitupun babak-babak selanjutnya, Raga masih tertinggal dengan poin Zahra.
Dan saat ini, mereka telah memasuki permainan yang terakhir. Inilah yang akan menentukan siapa pemenangnya.
Poin mereka terus kejar-kejaran. Kali ini Raga unggul dari Zahra dan tiba-tiba permainan selesai. Poin Raga lebih banyak dari Zahra. Zahra menurunkan pundaknya. Padahal biasanya Zahra selalu menang dalam permainan basket di timezone, tetapi mengapa saat ini kemenangan tak berpihak kepadanya.
"Yesss gue menang. Berarti lo mau kan jadi pacar gue?" tanya Raga. Zahra hanya membuang mukanya, ia malas menoleh ke arah Raga.
"Pokoknya gue anggap mau" Ujar Raga lagi.
"Terserah lo deh" Zahra berjalan meninggalkan area permainan basket. Matanya tertuju pada permainan capit boneka. Tiba-tiba, ide jahilnya muncul.
"Ga, lo harus dapetin salah satu boneka disana dan gue mau jadi pacar lo tanpa ada rasa terpaksa" Usul Zahra. Raga menatap ke arah permainan yang Zahra maksud. Ia menaikkan satu alisnya.
"Itu?" Tunjuk Raga yang dibalas anggukan oleh Zahra. "Gue pasti bisa" Ujar Raga kemudian ia berjalan mendekati area permainan itu, Zahra mengikutinya dari belakang.
Raga penuh konsentrasi untuk mengambil boneka di dalam sana, sesekali Zahra mencoba membuyarkan konsentrasinya. Tetapi, Raga mencoba untuk tetap fokus dan tidak terkecoh.
Raga berhasil mencapit boneka beruang mungil berwarna pink disana. Ia masih terus konsentrasi agar mendapatkan boneka itu dan tidak jatuh dari capitannya.
Zahra yang melihatnya hanya melongo, bagaimana bisa secepat itu Raga mendapatkan bonekanya? Seumur hidupnya, ia tak pernah berhasil mendapatkan boneka dari permainan ini sehingga ia menganggap permainan itu hanya bohongan semata.
Raga berhasil membawa boneka itu jatuh ke lubang. Raga mengambilnya dan memperlihatkannya kepada Zahra.
"See, gue bisa. Sekarang lo resmi jadi pacar gue"
*****