Hari-hari berikutnya masih sama, Zahra tetap mendiamkan Raga, bahkan Zahra menganggap Raga seperti tak ada.
Pernah suatu hari Raga mengajak Zahra berbicara tetapi Zahra tak menggubrisnya dan malah pergi meninggalkan Raga.
Raga sudah tak tau lagi harus berbuat apa lagi agar Zahra mau memaafkannya. Ia benar-benar ingin menyerah tetapi hatinya masih berkata untuk terus berjuang.
Sementara Karin, setiap Raga berusaha untuk meminta maaf kepada Zahra tetapi selalu saja Karin merusak suasananya, hingga akhirnya Zahra pergi meninggalkannya lagi.
Raga begitu kesal dengan Karin tetapi ia tak bisa menolak karena urusannya dengan Karin juga sangat penting baginya.
"Ra, boleh aku ngomong bentar?" Ujar Raga meminta izin saat Zahra sedang berada di perpustakaan untuk membaca novel favoritnya.
"Lo lihat sendiri gue lagi baca buku" Ujar Zahra yang masih tak mengalihkan pandangan dari buku yang sedang ia baca.
"Ra, kita perlu ngobrol" Ujar Raga masih bersikeras untuk bisa menjelaskan semua kepada gadisnya.
"Perpustakaan bukan tempat untuk ngobrol" Jawab Zahra ketus.
"Kita bisa ngobrol diluar, Ra. Sebentar aja" Ujar Raga memohon.
"Gue gak ada waktu" Ujar Zahra lalu ia berdiri dan segera berjalan meninggalkan Raga yang masih terdiam.
"Sampe kapan kamu mau kaya gini, Ra" Pikir Raga. Ia menatap nanar punggung Zahra yang bergerak menjauhinya itu.
Zahra melangkahkan kakinya untuk keluar perpustakaan. Ia segera memakai sepatunya, setelah selesai ia berdiri. Tetapi ia terkejut dengan kedatangan seorang gadis tepat dihadapannya.
"Mau apa lo?" Tanya Zahra dengan nada tak suka.
"Weitss, santai dong. Gue cuma mau berterima kasih sama lo. Karena tanpa gue ngelakuin apa-apa, Raga udah jadi milik gue" Ujar Karin, gadis yang menghampiri Zahra di depan perpustakaan.
"Milik lo?" Ujar Zahra tersenyum meremehkan.
"Iya, Raga udah jadi milik gue. SEUTUHNYA" Ujar Karin dengan menekankan kata terakhirnya.
"Selamat deh, atas kepemilikan lo. Lo makan tuh bekas gue" Ujar Zahra.
"Emang daridulu tuh harusnya Raga jadi milik gue. Bukan lo, lo tuh siapa? Cuma cewek yang berani merebut Raga dari gue" Ujar Karin mengatai Zahra.
"Dasar perempuan gak tau diri! Udah pernah gue tolongin dan sekarang ini balesan lo? Dasar iblis!" Ujar Zahra sarkas lalu segera meninggalkan Karin yang masih kesal dengan segala ucapan Zahra itu.
Beberapa menit kemudian, Karin melihat Raga yang baru saja keluar dari perpustakaan. Ia segera menghampirinya.
"Haiii, Ga" Sapa Karin tersenyum.
Raga hanya menatapnya sekilas dan tak berniat untuk menjawab sapaan Karin.
Setelah memasang sepatunya, Raga segera pergi ke kantin menyusul teman-temannya.
Tangan Raga ditahan oleh Karin. Raga menoleh dan menatap Karin tajam. "Apa?" Tanyanya dengan nada tak suka.
"Kita nanti jalan-jalan yuk, ke mall gitu. Nonton atau main atau makan aja deh. Gimana? Mau kan?" Tanya Karin.
"Gak" Jawab Raga singkat kemudian melanjutkan langkahnya.
Lagi-lagi tangan Raga masih ditahan oleh Karin. "Gaa, please, sekali ini ajaa" Ujar Karin memohon.
Raga melepaskan tangan Karin dengan kasar. "Gue gak mau ya dengan lo kaya gini malah buat Zahra makin salah paham dan benci sama gue. Lo jangan deketin gue lagi" Ujar Raga memperingatkan.
"Tapi, Ga... Gimana sama..." Ucap Karin menggantung.
Raga mengernyitkan dahinya.
"Selain urusan itu, lo gak usah deket-deket sama gue" Ujar Raga sambil menunjuk tepat pada wajah Karin, lalu ia segera pergi dari sana.
Karin menatap punggung Raga yang sudah semakin jauh meninggalkannya. "Bagaimanapun caranya, lo harus tetep sama gue, Ga. Lo cuma milik gue" Batin Karin, ia tersenyum penuh arti.
*****
Zahra kembali ke kelasnya dan segera duduk ditempatnya. Ia menelungkupkan kepalanya diatas meja.
"Lo kenapa lagi, Ra?" Tanya Nadien yang ada di sebelah Zahra.
"Gue capek tau gak sih, Nad. Gue capek banget" Ujar Zahra.
"Lo kenapa sih?" Tanya Nadien yang masih bingung dengan apa yang sedang dirasakan oleh temannya itu.
Zahra melirik sebentar ke meja yang ada di belakangnya. "Mereka kemana?" Tanya Zahra setelah melihat meja Tasya dan Rania kosong.
"Ke kantin" Jawab Nadien.
"Kok lo gak ikut?" Tanya Zahra.
"Lagi males makan aja" Ujar Nadien.
Zahra hanya ber'oh' ria.
"Jadi, lo kenapa, Ra?" Tanya Nadien mencoba mengembalikan topik di awal obrolan.
Zahra menghela napasnya sebelum ia memulai cerita.
"Gue tuh capek berusaha move on dari Raga. Gue gak bisa, Nad. Gimana gue mau move on kalo setiap hari aja gue harus ketemu dia, gue harus lihat wajahnya" Ujar Zahra.
"Ya emang udah konsekuensi kalo lo pacaran sama temen sekelas, Ra. Kalo ribut, bakal repot sendiri" Ujar Nadien.
"Terus gue harus gimana, Nad?" Tanya Zahra meminta saran.
"Lo udah coba dengerin penjelasan Raga?" Tanya Nadien.
Zahra mengernyitkan dahinya. "Buat apa? Semua udah jelas" Ujarnya.
"Lo emang tau apa yang udah terjadi sama Raga yang sebenernya?" Tanya Nadien.
Zahra semakin bingung dengan ucapan Nadien, seolah-olah Nadien tau sesuatu tentang apa yang terjadi dengan Raga.
"Apa?" Tanya Zahra.
Nadien menghela napasnya panjang. "Makanya lo tuh harusnya denger penjelasan Raga dulu. Gak langsung main hakim sendiri" Ujar Nadien.
"Tapi, Nad, dia tuh udah permainin gue, dia bahkan sekarang deket sama Karin. Terus gue denger waktu dia telfon sama seseorang di rooftop katanya dia tuh sayang banget sama seseorang yang ada di telfon itu. Udah fix kan berarti dia tuh playboy cap kapak?" Ujar Zahra.
"Emang lo tau siapa yang ditelfon Raga waktu di rooftop itu? Tanya Nadien.
Zahra menggeleng pelan.
Nadien kembali menghela napasnya kasar. Tak habis pikir dengan tingkah temannya ini. "Raaa, Raa... Harusnya lo tuh tanya sama Raga minta penjelasan itu siapa dan kenapa Raga ngomong gitu. Bukan malah saling ngehindar gini." Ujar Nadien.
"Lo kira dengan lo ngehindar, masalah lo sama Raga selesai? Enggak kan? Buktinya sampe saat ini pun Raga masih cari cara biar lo mau dengerin penjelasan dia dan dia masih berharap lo maafin dia" Tambahnya.
"Jadii, gue yang salah, Nad?" Tanya Zahra menggigit bibirnya.
"Menurut lo?" Tanya Nadien dengan ketusnya.
"Terus gue harus gimana?" Tanya Zahra lagi.
Nadien menepuk jidatnya, ternyata temannya ini bisa bodoh karena cinta juga. "Gue udah bilang daritadi, lo mendingan dengerin penjelasan Raga biar semuanya jelas. Setelah itu, lo bisa semau lo ambil keputusan. Lo mau lanjut atau mau udahan sama Raga" Ujar Nadien.
"Paham gak lo?" Tanya Nadien lagi.
Zahra menganggukkan kepalanya. "Tapi, masa iya gue tiba-tiba bilang ke Raga biar dia jelasin sesuatu ke gue?" Tanya Zahra lagi.
"Why not? Lo malu? Lo gengsi?" Sindir Nadien.
"Yaudah gue nanti ngomong ke Raga dan gue bakal dengerin penjelasan dari dia" Ujar Zahra memutuskan.
"Nah itu baru temen gue" Ujar Nadien tersenyum.
Sepulang sekolah, Zahra menemui Raga terlebih dahulu. Ia sengaja menunggu Raga di dekat mobil Raga.
Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya yang ia nantikan datang juga.
"Gaa, gue mau ngomong sama lo" Ujar Zahra menghampiri Raga yang sudah membuka pintu mobilnya.
Raga kembali menutup pintu mobilnya dan tak jadi masuk setelah melihat Zahra disana. "Kenapa, Ra?" Tanya Raga.
"Guuu..ee mau dengerin penjelasan lo" Ujar Zahra sedikit gugup karena sudah lama tak ngobrol dengan cowok itu. Sejujurnya, Zahra sangat rindu kepadanya.
Raga menaikkan satu alisnya. Raga ingin menjawab pernyataan Zahra tetapi Karin sudah datang menghampirinya.
"Ga, berangkat sekarang yuk, keburu sore" Ujar Karin yang kemudian diangguki oleh Raga.
"Besok aja ya, Raa. Aku ada urusan" Ujar Raga kemudian ia meninggalkan Zahra yang masih mematung ditempat setelah melihat semua kejadian itu.
Lagi-lagi Zahra dibuat sakit hati. Apakah keputusannya salah untuk mendengar semua penjelasan Raga? Ataukah memang hubungannya dengan Raga harus berakhir sampai disini?"
*****