Bab 22

1091 Kata
Saat di sekolah, Zahra benar-benar bertekad untuk menjauh dari Raga. Ia tak mau dipermainkan lagi oleh cowok itu. Ia benar-benar ingin melupakannya, meskipun itu terlihat mustahil karena setiap hari masih harus bertemu. Zahra berjalan menyusuri koridor, ia akan ke perpustakaan kali ini. Zahra tak ingin ikut teman-temannya ke kantin, ia lebih memilih kelaparan daripada ia harus duduk satu meja dengan Raga dan teman-temannya. Teman-teman Zahra dan Raga memang dekat, jadi mereka lebih sering makan dalam satu meja. Tetapi kini Zahra benar-benar malas dengan semuanya, ia ingin menghindari apapun yang berhubungan dengan Raga. "Zahra mana?" Tanya Raga yang celingukan. Benar yang ada dalam pikiran Zahra, Raga dan teman-teman Zahra duduk dalam satu meja di kantin. "Tadi dia bilang mau ke perpus" Balas Rania. "Lo biarin dia sendiri dulu deh, Ga. Dia perlu waktu" Ujar Nadien. "Bener tuh, Ga. Kasih dia space buat sendiri. Mungkin dia masih syok dengan kenyataan ini" Timpal Ardan. "Lagian kalian juga ngapain sih pake bikin dare gituan? Gak lucu tau" Ujar Tasya. "Ya kan kita iseng aja. Kita mikirnya tuh kalo Raga dan Zahra jadian kan makin asik. Orang yang awalnya kaya tom n jerry sekarang jadi sepasang kekasih" Ujar Fikri. "Yee,, lo aja kali yang mikir darenya. Gua mah kagak" Ujar Ardan tak terima dengan apa yang dikatakan oleh Fikri. "Tapi emang kita yang salah sih. Kita udah ngelibatin Zahra dalam permainan ini" Ujar Reihan. "Gue harus samperin Zahra" Ujar Raga yang langsung berdiri tetapi tangannya ditahan oleh Ardan. "Ga, jangan gegabah. Kalo lo samperin Zahra sekarang yang ada dia makin benci sama lo" Ujar Ardan menasehati. "Terus gue harus gimana, Dan? Gue harus diem aja gitu?" Tanya Raga frustasi. "Kalo menurut gue, lo harus bisa buat Zahra balikin kepercayaannya ke lo. Lo lakuin suatu hal yang buat Zahra speechless kaya misal lo ngasih tau hal pribadi lo?" Ujar Nadien mencoba memberikan usul. "Harus gue kaya gitu?" Tanya Raga tak yakin. Nadien mengangkat bahunya. "Terserah lo. Keputusan hanya ada di lo. Gue cuma kasih saran aja" Ujar Nadien. ***** Zahra meminta Radit untuk menemaninya ke toko buku. Ia ingin membeli novel dari penulis favoritnya. Sudah banyak kumpulan buku novel Zahra dirumah. Zahra memang suka membaca, terutama buku novel. Zahra masih mengelilingi rak buku novel sementara Radit berada di rak kumpulan buku komik, bukan untuk membeli tapi Radit hanya ingin melihat gambar-gambar untuk penghilang rasa bosannya saat menunggu adiknya yang tengah memilih novel. Mata Radit nenyipit saat melihat seseorang yang baru saja masuk ke toko buku. Ada dua orang, satu cewek dan satu cowok. Mereka terlihat mesra seperti sepasang kekasih. Ia mencoba mendekati agar bisa melihat lebih jelas dan memastikan apa yang ia lihat barusan. Ternyata benar, itu adalah Raga bersama dengan seorang cewek yang entah siapa, Radit tak tau itu. Radit segera menghampiri kedua manusia itu. Tanpa aba-aba lagi, Radit segera menonjok muka Raga. "Bangsattt!!!!" Ujar Radit ketika Raga telah jatuh tersungkur ke bawah. Gadis yang ada di sebelah Raga segera menolong Raga. "Kakk...?" Ujar Raga terkejut. "Iya gue. Kenapa? Lo kaget ada gue disini? Ada Zahra juga tuh disana" Ujar Radit. "Zahra?" Tanya Raga bingung. "Jadi cowok b******k banget lo. Berani-beraninya lo selingkuhin adik gue. Pantesan dia selalu sedih pas pulang sekolah. Ternyata ini alasannya" Ujar Radit. Lalu ia kembali menonjok muka Raga tanpa ampun. "Stoppp!! Lo siapa sih? Kenapa lo tiba-tiba pukulin Raga?" Teriak gadis yang datang bersama Raga. Zahra yang sedang asyik memilih buku tiba-tiba mendengar sebuah keributan disana. Ia melihat sebentar, ternyata kakaknya ada disana. Ia segera menghampiri kakaknya itu. "Kak, kenapa sih?" Tanya Zahra lalu menoleh ke arah Raga yang mukanya telah babak belur dan gadis yang ada disebelahnya, Karin. "Jadi ini, Ra, alasan kamu tiap pulang sekolah nangis? Karena cowok b******k ini?" Tanya Radit kepada adiknya. "Kak, udah. Ini toko buku. Jangan bikin keributan disini lah" Ujar Zahra mengalihkan pembicaraan Radit. "Raa, cowok kaya dia tuh harus dikasih pelajaran tau gak" Ujar Radit. Radit ingin kembali menonjok muka Raga tetapi tangannya ditahan oleh Zahra. "Kak udah, ayo kita pulang sekarang" Ajak Zahra lalu menarik tangan Radit untuk segera keluar dari toko buku itu. "Lo apaan sih, Ra? Gue tuh mau ngasih pelajaran buat dia" Ujar Radit. "Udah gak usah ladenin Raga lagi. Biarin aja dia kaya gitu. Lagian gue juga udah gak peduli" Zahra memelankan ucapannya di kalimat terakhir. "Bagus deh kalo lo udah gak peduli. Lo udah putusin dia kan?" Tanya Radit. Zahra menelan ludahnya. Ia tak bisa menjawab pertanyaan kakaknya ini. Zahra dan Raga belum ada yang memutuskan untuk berpisah. Tetapi bagi Zahra apa lagi yang harus dipertahankan? Raga saja sudah mulai dekat dengan Karin saat ini. "Raa? Lo udah putusin dia kan?" Tanya Radit lagi karena tak mendapatkan jawaban dari Zahra. "Kak, kita pulang aja yuk, aku capek banget" Ujar Zahra mengalihkan pembicaraannya. "Yaudah ayok" Ujar Radit kemudian mereka menuju ke motor Radit dan segera pulang. Karin mengajak Raga untuk pulang sebentar ke rumah Raga untuk mengobati luka Raga karena tonjokan kakak Zahra tadi. Raga hanya menuruti permintaan Karin tanpa ada penolakan. "Sebenernya tadi itu siapa sih? Kenapa dia mukulin kamu?" Tanya Karin yang mulai mengobati Raga. Saat ini mereka berdua sedang berada di rumah Raga. Raga hanya diam. Tak berniat menjawab sedikitpun. "Gaa... Kamu dengerin aku ngomong kan?" Tanya Karin yang mulai menatap Raga. Raga menatap kosong ke arah depan. Ia tak peduli di sekitarnya. Ia lebih asyik memikirkan hal lain. Karin mulai jengah dengan sikap Raga, bisa-bisanya Raga ngelamun saat sedang bersama Karin. "Ragaaa..." Panggil Karin yang sedikit meninggikan suaranya. "Apa sih lo? Ngapain teriak-teriak? Sakit telinga gue" Ujar Raga menutupi kedua telinganya. "Aku tadi tanya, tadi siapa sebenernya yang pukulin kamu" Ujar Karin mengulangi pertanyannya. Lagi-lagi Raga hanya diam dan kembali menatap kosong ke arah depan hingga membuat Karin semakin kesal. "Gaa, kamu mikirin apa sih? Daritadi aku ngomong nggak kamu jawab" Ujar Karin mulai kesal dengan sikap Raga. "Lo bisa diem gak sih?" Ujar Raga sedikit membentak Karin terdiam. Ia terkejut karena Raga membentaknya. Karin menahan air matanya. Tak lama air matanya telah jatuh di pipinya. Karin berlari dan segera pergi dari rumah Raga. Saat telah berada di depan rumah Raga, ia bertemu dengan Reihan, Fikri dan Ardan. Tetapi ia hanya melewatinya dan segera berlari. "Lo ngapain ngajak di nenek lampir kesini, Ga?" Tanya Fikri saat sudah berada di dalam rumah Raga. "Eh, muka lo kenapa, Ga? Kok babak belur gitu" Tanya Ardan. "Lo habis berantem sama orang?" Tanya Reihan. "Gue ditonjok kakaknya Zahra" Jawab Raga. "Hah? Kok bisa?" Tanya Ardan terkejut. "Kakaknya Zahra ketemu gue waktu gue lagi pergi sama Karin" Ujar Raga. "Begooo... Lo ngapain sih pergi sama Karin? Apalagi kondisi hubungan lo sama Zahra tuh lagi urgent banget" Ujar Fikri kesal. "Iya, lo ngapain sih sekarang malah dekat sama si Karin?" Tanya Reihan heran. "Gue ada urusan sama dia" Ujar Raga. Ardan melipat kedua tangannya di depan d**a. "Urusan apa sih? Pasti gak penting" Ujar Ardan. "Lo kalo gak tau apa-apa mending diem" Ujar Raga memperingatkan Ardan. Raga menatap Ardan dengan tatapan tajamnya. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN