Jantung Zahra berdegup kencang, tangannya bergetar, tubuhnya lemas. Setelah melihat video itu, semuanya telah terbukti. Selama ini yang Zahra curigai akhirnya terjawab melalui video itu.
Zahra semakin membenci cowok itu. Cowok itu telah mengkhianati kepercayaannya. Zahra sangat kecewa.
Keesokan harinya, Zahra berangkat sekolah lebih awal. Ya, dia akan selalu mencari cara agar Raga tak menemuinya. Tetapi meskipun begitu, Zahra tak bisa sepenuhnya menghindar dari Raga. Itu semua karena mereka adalah teman satu kelas.
Jika Zahra boleh memilih, ia ingin tak mengenal Raga lebih jauh, tak masuk ke dalam kehidupannya. Ini semua seperti mimpi buruk bagi Zahra.
Di jam awal pelajaran, Zahra merasa aneh, Raga tak ada di kelas. "Apakah cowok itu tidak masuk?" Pikirnya.
"Raga gak masuk?" Tanya Zahra kepada teman-teman Raga.
"Masuk kok, Ra. Kenapa?" Jawab Reihan.
"Kok nggak ada? Kemana dia?" Tanya Zahra.
"Diaa ada dii..." Ucap Reihan menggantungkan ucapannya.
"Dimana?" Tanya Zahra lagi.
"Dia ada kok, Ra. Tapi lagi pengen sendiri aja katanya" Jawab Ardan.
"Ya dia kemana? Gue ada urusan sama dia" Ujar Zahra masih ngotot ingin tau keberadaan Raga.
"Fik, dia kemana?" Tanya Zahra pada Fikri.
"Ada di rooftop" Balas Fikri enteng.
Zahra segera pergi setelah mendengar jawaban Fikri. Ia tau tempat rooftop itu, tetapi memang tak pernah kesana. Karena bagi Zahra untuk apa datang kesana, membuang-buang waktu.
"Lo b**o banget sih. Dia kan bilang kalo dia mau sendiri dulu" Ujar Reihan memarahi Fikri.
"Emang tadi gue bilang apa?" Tanya Fikri yang masih lemot.
"Lo bilang kalo Raga ada di rooftop b**o. Lo gimana sih, Fik? Kalo Raga marah, lo hadepin sendiri deh" Ujar Ardan.
"Tau nih, b**o banget lo" Ujar Reihan.
"Kok gue disalahin sih" Ujar Fikri bingung.
Zahra sudah sampai di rooftop, ia melihat Raga yang duduk membelakanginya. Ia mendekat dan menghampiri Raga.
Zahra baru tau jika saat ini Raga sedang menerima telfon karena ponselnya ada di dekat telinganya.
"Iya, aku selalu disini kok buat kamu. Kamu cepet sehat ya, nggak boleh ngelakuin hal yang aneh-aneh lagi" Ujar Raga di dalam telfonnya.
"...."
"Aku selalu sayang sama kamu" Ujar Raga.
Zahra terkejut, jantungnya bergemuruh hebat. Zahra berniat ingin meminta penjelasan tentang video itu tetapi ia urungkan. Air matanya tak tertahan. Zahra menangis. Ia membalikkan badan dan segera pergi meninggalkan Raga.
Raga menoleh saat mendengar suara hentakan kaki. Raga terkejut ternyata Zahra menghampirinya. Tetapi ia bingung mengapa Zahra berputar balik dan tak jadi menemuinya.
"Zahraaaaa" Teriak Raga saat Zahra mulai berjalan meninggalkannya.
Raga segera berlari untuk mengejar Zahra.
Raga menahan lengan Zahra.
"Raaa, kamu kenapa?" Tanya Raga saat melihat air mata Zahra jatuh bebas di pipinya.
"Raaa?" Panggil Raga pelan.
Plakkkk...
Tanpa menjawab sepatah kata apapun, Zahra langsung menampar Raga. Hanya itu yang bisa ia lakukan untuk membalas rasa sakit hatinya.
Ia sudah sakit hati terlalu dalam. Dan itu semua hanya karena cowok yang ada di depannya ini.
"Raaa, ada apa sih? Kenapa kamu tampar aku?" Tanya Raga yang masih bingung dengan semuanya.
Raga memang merasa bersalah karena kemarin ia tak bisa mengantarkan Zahra pulang, tetapi yang ia bingungkan adalah mengapa Zahra hendak menemuinya di rooftop tetapi Zahra malah pergi dan menangis seperti ini? Lalu, mengapa Zahra sampai menamparnya?
"Lo emang b******k, Ga. Gue nyesel kenal lo. Dan gue lebih nyesel karena udah pacaran sama lo" Ujar Zahra di sela-sela tangisnya. Zahra berbalik badan dan hendak pergi meninggalkan Raga tetapi tangan Zahra ditahan oleh Raga.
"Ra, ada apa sih? Jelasin ke aku" Ujar Raga yang masih tak paham dengan apa yang sudah terjadi.
"Udah lah, Ga, gak perlu dijelasin lagi. Semuanya udah jelas" Ujar Zahra yang mengusap wajahnya menggunakan tangan agar air matanya hilang.
"Ragaa..." Panggil Karin yang tiba-tiba datang diantara Zahra dan Raga.
"Dasar playboy!" Sindir Zahra. Ia melirik sebentar ke arah Karin dan segera pergi meninggalkan dua manusia itu.
"Gue samperin Zahra dulu bentar" Pamit Raga kepada Karin tetapi Karin langsung menahan lengan Raga agar tak mengejar Zahra lagi.
"Ini lebih penting, Ga" Ujar Karin.
Raga hanya menghela napasnya kasar.
*****
Zahra kembali ke kelasnya dan duduk ditempatnya. Ia melihat hanya ada Rania disana. Karena ini jam istirahat, kemungkinan besar Nadien dan Tasya sedang berada di kantin.
Rania melirik sebentar ke arah Zahra yang penampilannya sudah kacau. Matanya sembab. "Kenapa lo?" Tanya Rania.
Zahra hanya menggeleng pelan. "Nggak papa" Jawabnya singkat.
"Mata lo udah sembab parah lo masih bilang gak papa? Basi banget" Sindir Rania. Dalam sekali berbicara, omongan Rania memang sangat menusuk, tetapi memang seperti itu kenyataannya.
"Gue salah besar gak sih Ran kalo punya hubungan sama Raga?" Tanya Zahra.
"Kenapa lo tanya gitu?" Tanya Rania yang bingung dengan arah perkataan Zahra.
Zahra menghela napas dan menoleh kepada sahabatnya itu. "Sekarang gue tau kalo Raga itu cuma permainin gue. Dia pacarin gue juga cuma karena permainan ToD sama temen-temennya. Sakit gak sih, Ran?" Curhat Zahra pada Rania.
"Akan lebih sakit saat lo menyukai seseorang tapi dia gak menyukai lo balik dan jadian sama orang lain" Ujar Rania.
Zahra terkejut dengan apa yang dikatakan Rania.
"Maksud lo?" Tanya Zahra bingung.
Rania mengangkat bahunya. "Gue ke kantin dulu samperin Nadien sama Tasya. Lo mau ikut?" Tanya Rania.
Zahra menggelengkan kepalanya. "Nggak. Lo aja yang kesana" Ujar Zahra.
Rania segera pergi meninggalkan Zahra di kelas.
Zahra menelungkupkan wajahnya diatas meja dengan tangan sebagai bantalannya. Zahra tertidur setelah lelah menangis.
Setelah berbicara dengan Karin, Raga segera pergi ke kantin untuk menemui teman-temannya.
"Siapa yang bilang ke Zahra kalo gue ada di rooftop tadi?" Tanya Raga saat ia menghampiri ketiga temannya.
"Kenapa, Ga?" Tanya Reihan memancing.
"Gue tanya siapa yang bilang ke Zahra?" Tanya Raga dengan nada sedikit meninggi.
"Gue yang bilang" Ujar Fikri jujur.
"Lo...." Raga bersiap untuk meninju Fikri sekarang juga tetapi ditahan oleh Reihan dan Ardan.
"Ga, lo sabar dulu dong. Lo ini kenapa sih? Gak usah pake nonjok temen lo sendiri. Dia gak sengaja" Ujar Ardan.
"Gak sengaja? Bisa-bisanya lo ngomong gitu. Gue ada urusan penting, Dan. Tiba-tiba Zahra dateng tanpa gue tau. Dia sekarang marah sama gue. Bahkan dia tadi nampar gue" Raga menceritakan dengan nada emosinya.
"Tapi lo juga gak seharusnya pake nonjok Fikri gitu. Kita bisa selesein baik-baik kok" Ujar Reihan menasehati.
*****
Setelah makan malam, Raga berniat untuk menghubungi Zahra. Tetapi berkali-kali ia mencoba menghubungi tetapi ponselnya selalu tidak aktif.
Raga menjadi tak tenang. Ia ingin meminta maaf kepada Zahra sekarang juga. Ia tak mau jika Zahra harus marah kepadanya apalagi dalam jangka waktu yang lama. Raga tak ingin Zahra mendiamkannya.
Raga mengambil jaket kulit yang ada di gantungan lemarinya, ia segera memakainya dan mengambil kunci mobil yang ada di nakas.
Raga akan ke rumah Zahra malam ini untuk meminta maaf secara langsung. Raga tak bisa menunggu besok, karena ia ingin masalahnya dengan Zahra cepat terselesaikan.
Raga menuruni tangga, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Ia melihat nama yang tertera di layar. Ternyata dari Ardan.
"Halloo" Ucap Raga saat telfon telah terhubung dengan Ardan.
"Hallo, Ga. Gawat nih" Ujar Ardan panik di seberang sana.
"Gawat kenapa?" Tanya Raga.
"Zahra, Ga..." Ardan masih menggantungkan ucapannya.
"Iya Zahra kenapa? Lo ngomong yang jelas dong" Ujar Raga kesal.
"Zahra tau tentang ToD kita" Ujar Ardan. Raga terkejut. Ia langsung menutup telfon dari Ardan. Raga terduduk di anak tangga, ia menunduk lalu kembali mendongakkan kepalanya dan mengacak rambutnya kasar.
"Aarrghhhh..." Teriak Raga yang masih mengacak rambutnya hingga berantakan. Rahangnya mengeras.
"Gue gak akan biarin siapapun berani ganggu hubungan gue sama Zahra"
"Gue bakal bikin perhitungan ke orang yang udah berani neror Zahra dan ngebongkar semuanya" Ujar Raga dengan kedua tangannya mengepal.
"Gue akan nemuin lo. Dalam waktu dekat ini!"
*****