1. Menolak Perjodohan
"Kamu mau ke mana?" tanya seorang pria paruh baya pada putrinya.
"Mau keluar, Pah," sahut sang putri yang berpenampilan seperti laki-laki. Dia memakai kaos oblong dan celana jeans yang berlubang pada bagian lututnya.
"Ini sudah malam, Quin." Sang ibu ikut menengahi. Dia mencoba mencegah putrinya pergi keluar.
"Aku cuma mau beli kopi, Mah," sahut gadis bernama lengkap Quina Anjani itu.
"Kamu nggak boleh pergi!" bentak sang ayah.
"Tapi, Pah."
"Mah. Bilang ke dia dan cepat suruh dia pakai pakaian yang layak!" titah sang ayah yang diketahui bernama Wibowo itu.
"Iya, Pah. Ayo, Quin. Kamu harus ganti baju. Mamah sudah siapin baju buat kamu," ajak Inggit, ibunya.
Quin menghela napas. Dia pun menurut saja dan kembali menutup pintu rumah. Gadis dengan rambut pendek itu segera menghampiri sang ibu.
"Memangnya ada apa sih, Mah?" tanya gadis itu.
"Udah. Kamu nurut aja, ya?" bujuk sang ibu.
Quin kemudian ikut sang ibu masuk ke dalam kamar orang tuanya. Inggit mengeluarkan sebuah dress panjang berwarna biru muda. Seketika Quin menatap dress manis tersebut.
"Itu ...."
"Ini buat kamu. Mamah sengaja membelinya buat kamu," ujar sang ibu.
Quin diam sejenak. Dia mengamati desain pakaian tersebut yang tampak sederhana tapi juga elegan. Dress itu tidaklah terbuka meski dengan lengan yang cukup pendek. Dalam hati gadis itu ingin sekali memakinya.
"Apa aku boleh memakainya, Mah?" tanya Quin akhirnya mengutarakan isi hatinya.
"Tentu saja. Malam ini kamu harus memakainya," tegas sang ibu mengiyakan.
Quin segera mengganti pakaiannya dengan dress tersebut. Kini gadis itu tampak sedikit lebih anggun meski rambutnya pendek. Sang ibu pun membantu merias wajah putrinya.
"Kalau begini kamu kan beneran cantik, Quin," ujar Inggit setelah selesai mendandani putri tunggalnya.
Quin mematut diri di depan cermin lemari di kamar kedua orang tuanya. Dia memang tampak manis. Kesan tomboy-nya seketika menghilang di balik balutan dress biru muda tersebut.
"Ini beneran aku, Mah?" tanya Quin tak percaya.
"Iya. Itu kamu."
Quin tersenyum. Sudah lama sekali dia ingin merubah penampilan tomboy-nya. Namun dirinya tak berani. Kesan sebagai gadis lemah membuatnya bertekad untuk terus menjadi gadis tomboy yang jago bela diri.
"Mah. Memangnya kita mau ketemu siapa, sih? Apa Mamah sama Papah beliin aku tiket ke Filipina buat ketemu Manny Pacquiao?" tanya gadis itu tampak antusias. Memang dirinya begitu mengidolakan petinju pria yang mendapatkan banyak gelar juara tersebut.
Inggit menatap wajah putrinya yang begitu bersemangat. "Berhentilah membahas tinju! Sekarang kamu pakai dress dan sudah dandan cantik jadi harus bersikap anggun," tukasnya.
Quin terdiam. Dia kembali menurut. Kini gadis itu dibawa oleh ibunya ke ruang tamu. Ternyata di sana sudah ada beberapa orang menunggu kehadirannya.
"Nah. Ini dia putri kami. Namanya Quina," ucap Wibowo menyambut kedatangan putri semata wayangnya yang tampak cantik dengan rambut pendeknya. Ada sebuah jepit rambut tipis yang menghiasi rambutnya itu.
"Pah. Ada apa ini?" tanya Quin tak mengerti. Pasalnya tamu mereka tampak rapi dengan setelan kemeja batik dan gamis. Lalu ada seorang pemuda yang lebih tua beberapa tahun dari Quina duduk di tengah-tengah menghadap sang tuan rumah.
Pria itu mendongak dan kedua pandangan matanya bertemu dengan Quina.
"Duduklah dulu. Kita kenalan," tutur Wibowo.
"Ayo, Quin," bisik Inggit pada putrinya.
Kini gadis itu didudukkan di dekat sang ayah. Sang pemuda pun mencuri-curi pandang padanya. Siapa yang tak akan terpesona pada kecantikan Quina saat berdandan feminim. Tunggu sampai mereka tahu bagaimana garangnya Quina Anjani saat berada di atas ring.
"Perkenalkan, Quin. Ini teman Bapak namanya Pak Malik. Dan yang di tengah itu namanya Reno, putra Pak Malik," jelas Wibowo.
"Ya. Dan kedatangan kami ke sini karena kami ingin melamar Quina menjadi menantu kami sebagai bentuk perjodohan yang sudah pernah dijanjikan sebelumnya," ucap Malik dengan senyuman ramahnya.
Mendengar lamaran tersebut, Quina menatap ke arah pria yang cukup tampan dan modis. Hanya saja dapat dia ketahui pria itu cukup kolot dari penampilannya itu. Kedua mata Quin pun membulat.
"Apa? Dijodohkan?" seru Quin mengagetkan semua yang hadir di ruang tamu tersebut.
"Tenanglah, Quin. Nak Reno ini orang yang baik. Dia akan menjadi imam untuk kamu," ucap Wibowo.
"Tapi, Pah. Aku nggak mau dijodohin. Aku juga masih kuliah," cicit Quin dengan ekspresi memelas.
"Tenang dulu, Quin," ucap Inggit mencoba menenangkan putrinya.
Wibowo kemudian menatap ke arah Malik dan juga Reno. Pemuda bernama Reno itu pun hanya diam saja.
"Pah. Sudah kubilang ini rencana yang buruk," ucap Reno lirih namun masih dapat didengar oleh Quin.
"Nah, kan. Kamu juga pasti keberatan dengan perjodohan ini, kan?" tanya Quin tertuju pada Reno.
Pemuda itu pun mendongak menatap Quin yang tampaknya memang enggan untuk menikah dengannya. Sama seperti dirinya yang juga ingin melanjutkan karirnya sendiri. Namun, sebagai anak yang berbakti, Reno tak dapat menolak permintaan kedua orang tuanya.
"Diamlah, Quin!" sentak Wibowo.
Sang putri langsung terdiam. Gadis itu menatap kesal dengan napas yang memburu karena menolak perjodohan.
"Hahhh. Maafkan kelakuan putri saya. Dia memang sedikit susah diatur. Tapi Nak Reno pasti bisa mengatasinya," ucap Wibowo tanpa mau tahu bagaimana perasaan anaknya.
"Baiklah. Mungkin karena perjodohan ini terkesan mendadak," sahut Malik.
"Memang," ucap Quin dengan ketus. Inggit mencubit pelan lengan putrinya.
Reno pun menatap tajam ke arah Quin yang menurutnya tidak sopan. Quin bukanlah tipe istri idamannya. Setidaknya dia menyukai gadis berambut panjang dan bertubuh seksi seperti impian pria kebanyakan.
"Kalau begitu bagaimana? Apakah perjodohan ini akan kita lanjutkan Pak Bowo?" tanya Malik pada temannya itu.
"Tentu saja. Sebagai anak kan mereka harus mau. Apa lagi ini demi kebaikan mereka berdua," jawab Wibowo.
Quin menoleh menatap sang ayah. "Kok Papah nggak tanya perasaanku dulu, sih?"
"Ini yang terbaik untukmu, Quin."
Gadis itu sudah tak tahan. Dia menolak mentah-mentah perjodohan yang direncanakan kedua orang tuanya. Memang dia sendiri tak peduli dengan dunia pernikahan. Namun setidaknya dia juga memiliki pria idaman.
"Baiklah. Kalau begitu Papah saja yang menikahinya. Aku menolak," ucap Quin sembari berdiri dari duduknya.
"Quin!" panggil sang ibu. Namun Quin tetap melangkah meninggalkan rumah. Gadis itu memilih pergi dengan berlari secepat mungkin.
"Quin!" teriak Inggit saat menyusul putrinya sampai di depan pintu rumah.
Karena sering latihan fisik, Quin dapat berlari dengan cepat. Bayangannya pun hilang ditelan gelapnya malam.
"Jadi bagaimana, Pak Bowo?" tanya Malik setelah melihat penolakan dari calon menantunya.
"Maafkan aku, Pak Malik. Sepertinya perjodohan ini batal. Quin memang sulit sekali diatur. Maaf, ya, Nak Reno," ucap Malik merasa malu sekaligus tak enak hati pada keluarga temannya.
Sementara itu, Quin terus berlari sejauh mungkin. Gadis itu pun sampai di tepi jalan. Dengan dress panjang, dia sedikit kesulitan dan rok tersebut dia angkat sampai kaki jenjangnya terlihat. Gadis itu lalu mengeluarkan ponselnya. Dia menilik jam sudah menunjukkan pukul setengah sembilan.
"Hahhh. Apes. Kenapa malah ada acara dijodohin segala?" keluh Quin.
Gadis itu melanjutkan langkahnya dengan berjalan santai. Saat itu juga dia bertemu dengan dua orang preman yang sedang menghadang seorang pria berbaju koko.
"Bagi duitnya atau lu nggak bakal kita biarin lewat," ucap salah satu preman dengan jaket jeans yang tampak kusam.
"Maaf. Tapi aku harus lewat. Ada acara yang harus kuisi," sahut pria yang tubuhnya lebih kecil dari kedua preman tersebut.
"Duit lu dulu baru kita biarin lu jalan."
"Astaghfirullahal'azim ... Mas-Mas sebaiknya ikut saya saja kalau mau makan. Dari pada seperti ini," ucap pria itu dengan tenang.
"Bac*t! Tinggal kasih duit aja kenapa, sih?" Pria dengan rambut gondrong tiba-tiba menarik kerah baju koko si pria alim.
Quin menyaksikannya dan dia merasa geram. Baru saja dia kesal karena dipaksa dijodohkan, kini malah berhadapan dengan kejadian yang tak diinginkan.
"Sabar, Mas. Lebih baik Mas berdua ini ikut saya saja ke masjid dekat sana," ajak si pria alim tersebut.
"Lu beneran belagu, ya? Siapa lu, ha?" umpat preman yang satunya.
Quin mengantongi ponselnya dan segera berjalan mendekat. Dia paling tak suka melihat orang lemah ditindas.
"Woy, Abang! Kalau cari lawan yang sesuai, dong!" seru Quin dengan lantang.
Ketiga orang tersebut menoleh secara bersamaan dan mendapati seorang gadis manis tengah menatap kesal ke arah mereka.
"Wah. Ada cewek cakep."
"Napa, Mbak? Mau main sama kita? Tenang. Setelah kita dapet duit kita main, ya?"
Dua preman itu kini menatap ke arah Quin dengan tatapan menjijikkan.
"Nggak sudi."
Quin segera memberikan pukulan telak yang tak terbaca sehingga membuat salah satu preman tersungkur. Perkelahian pun tak dapat dihindari. Namun berkat itu, sang pria berbaju koko selamat dari pemalakan.
"Lu nggak papa, kan?" tanya Quin pada si pria yang memiliki paras tampan dan teduh itu. Jantungnya berdebar tiba-tiba saat melihat kedua mata teduhnya.
"Aku nggak papa. Kamu sendiri?" Pria itu bertanya balik.
"Ya udah, ya? Aku pergi duluan," ucap Quin sembari pergi begitu saja setelah menolong.
Pria itu menatap kepergian si gadis penolongnya. Dia merasa gadis itu terlalu cuek padanya. Sementara Quin terus berjalan menjauhi taman. Gadis itu pun berhenti di ujung taman.
"Woy, Quin. Ngapain?" Tiba-tiba saja ada seseorang yang menghentikan motornya tepat di depan Quina.
"Ryan? Ryan bantuin gue," pinta Quin.
"Ngapain? Haha. Kenapa pakaian lu kaya gitu?"
"Cerewet. Bawa gue pergi!" titah Quin sembari membonceng pada sepeda motor Ryan.
"Ck. Ngapain, sih? Gue mau nongkrong sama temen-temen gue. Pergi, lu!"
"Ya udah gue ikut," sahut Quin.
"Ck. Ngerepotin aja lu," sungut Ryan namun laki-laki itu melajukan motornya lagi.
Quin kini diajak ke sebuah tempat di mana Ryan berjanji dengan teman-temannya. Semua orang yang merupakan teman Ryan menatap kagum pada gadis yang dibawa.
"Wuih. Cantik bener cewek lu, Yan," celetuk salah satu teman Ryan.
"Dia bukan cewek gue," sahut Ryan.
"Gue juga ogah jadi ceweknya dia," timpal Quin.
"Udah, deh. Mendingan lu semua nggak usah banyak omong. Dia itu calon petinju, sekali buat masalah habis lu semua," ucap Ryan memperingati.
"Wah ... Iya, kah?" tanya mereka tak percaya.
"Udahlah. Mendingan dia diajak aja. Nih gue bawa minuman," ucap seorang pria yang lebih tua dua tahun dari Ryan dan Quin.
Pria itu membawa beberapa botol minuman. Dan dimulailah kegiatan yang selalu Ryan lakukan dengan teman-temannya. Quin pun duduk di sudut ruangan. Dia melihat teman-teman Ryan sedang meneguk anggur untuk melepaskan penat mereka.
"Lu nggak minum?" tanya Quin penasaran.
"Nggak. Gue nggak suka," sahut Ryan sembari menghisap rokoknya. Dia pun mulai bermain game.
"Oh."
"Lu mau coba? Kayanya lu lagi ada masalah," tawar salah seorang teman Ryan yang duduk di sebelah Quin.
"Jangan ngadi-ngadi, lu!" ancam Ryan.
"Aku nggak minum," tolak Quin sembari mengangkat tangan kanannya. Dia hanya ingin bersembunyi dari kedua orang tuanya.
"Oke."
"Kalau lu nggak mau lebih baik lu minum ini aja, deh. Jus jeruk," tawar seorang yang lainnya.
Quin yang memang merasa haus segera meminumnya tanpa rasa curiga. Sedangkan Ryan tengah asyik bermain game dengan ponselnya.
Minuman satu gelas penuh itu pun langsung habis. Namun Quin malah merasa aneh. Karena merasa tak nyaman, Quin memilih keluar dari tempat tersebut dengan alasan mencari angin. Dia pun memilih berjalan-jalan di taman yang tadi dia lewati. Dadanya kembali merasa sesak saat mengingat perjodohan yang dilakukan.
'Kenapa sih Papah sama Mamah nggak pernah mau ngehargain aku?' tanya gadis itu pada diri sendiri.
'Duh. Kok kepalaku pusing, ya?' tanya gadis itu lagi.
Dia menilik jam pada layar ponselnya yang sudah menunjukkan pukul sepuluh lebih. Quin pun berjalan gontai saat melewati jalan setapak. Dia tanpa sadar menabrak seseorang.
"Hati-hati, Bro," ujar Quin yang kini bersandar pada da.da bidang orang yang dia tabrak.
"Kamu ...."
***