2. Penggrebekan

1524 Kata
Quin mendongak menatap wajah pria yang dia tabrak. Namun pandangannya mulai kabur. Nampaknya jus jeruk yang dia minum bukanlah jus jeruk yang sebenarnya. "Lu kenal sama gue?" tanya Quin sembari menunjuk wajahnya. Si pria diam memerhatikan gadis yang sudah tampak limbung. Ada aroma alkohol yang menyeruak. "Ughhh. Sebenarnya apa sih yang gue minum? Kenapa jus jeruk bikin gue ngantuk," gumam Quin yang masih dapat didengar oleh pria itu. Quin menegakkan badannya. Gadis itu pun kembali terhuyung dan kali ini memilih berjongkok. Dia sedang mencoba menahan rasa kantuk sekaligus pusing di kepalanya. "Sial. Kenapa gue harus apes seperti ini? Gue cuma pengen hidup normal kaya cewek kebanyakan. Emangnya salah kalau gue selama ini berusaha jadi kuat?" gumam Quin lagi sembari memukul-mukul kepalanya. Si pria masih diam memerhatikan. Dia kemudian ikut berjongkok. "Apa yang terjadi padamu?" tanya pria itu. Dia mengamati wajah yang begitu familiar. Quin menoleh menatap wajah samar pria yang mengajaknya bicara. "Lu tanya ada apa? Gue dijodohin sama orang yang nggak suka sama penampilan jelek gue. Ughhh." Kembali gadis itu memegangi kepalanya. "Gue sadar gue dulunya cuma cewek lemah yang sering sakit-sakitan. Tapi emangnya salah kalau gue coba jadi kuat seperti ini? Salah gitu? Lemah salah, kuat salah. Terus gue harus jadi kaya gimana? Gue udah nurutin semua kata orang tua gue. Bahkan gue udah nggak tahu lagi mau jadi apa. Mungkin kalau mati pun gue nggak akan dipeduliin," papar Quin yang nampaknya mulai meracau tak jelas. Gadis tomboy itu memang selalu menyembunyikan kesedihan dan masalahnya. Apa lagi dia selalu dituntut untuk selalu kuat. Namun karena pengaruh minuman yang dia minum, gadis itu malah menceritakan masalahnya pada seorang pria asing. "Kamu nggak salah, kok. Menjadi kuat itu hebat," tutur pria itu dengan suara lembut dan tenang. Quin diam mendengar kalimat tersebut. Gadis itu merasakan sesak di dadanya. Dia pun mulai menitikkan air mata. "Aku ... Aku cuma pengen jadi cewek seutuhnya. Aku juga pengen disayang, aku bisa boxing bukan berarti aku sangat kuat ...." cicit gadis itu sembari terisak. Sang pria asing kembali terdiam. Dia menunggu si gadis menuntaskan tangisannya. Namun dia harus segera pulang karena waktu sudah mulai larut. "Ya sudah. Kamu sekarang harus pulang, ya? Di mana rumahmu?" tanya pria itu lagi. Quin menghapus air matanya. Gadis itu kemudian menggeleng. "Nggak. Aku nggak mau pulang. Lebih baik aku tidur di jalan saja. Aku capek," isaknya. Si pria menghela napas. "Tapi kamu perempuan. Nggak baik juga anak gadis di luar malam-malam," tuturnya lembut. Quin kembali mendongak. Kini samar-samar dia mulai melihat wajah tampan di hadapannya. Sosok pria dengan peci hitam dan juga baju koko tengah berjongkok menemaninya. "Lu anggep gue cewek?" tanya gadis itu. "Kamu memang cewek, kan? Dan perempuan nggak boleh di luar malam-malam," ucap pria tampan itu. Quin kembali diam. Dia menghapus air matanya lagi. "Tapi gue bisa menghajar orang yang mengganggu. Gue ini kuat," hiburnya pada diri sendiri. Sang pria tersenyum lembut. "Meski kuat jangan memaksakan diri. Kamu pulang, ya? Aku antar," ajak pria itu tanpa menyentuh Quin. Gadis itu pun mulai sedikit tenang. Dia kemudian berdiri. Namun kembali kepalanya merasa pusing dan kesadarannya mulai hilang. Gadis itu pun jatuh. Beruntung si pria tampan menangkapnya. "Astaghfirullahal'azim ... Bagaimana ini?" gumam pria itu. Dia menoleh ke kiri dan ke kanan. Tak ada seorang pun di sana. Dan jika ada mungkin dia akan mendapat masalah. Si gadis cantik berambut pendek itu pun sudah tak sadarkan diri dalam pelukannya. 'Ya Allah ... Maafkan hamba. Tadi hamba tak sengaja bertabrakan dengannya dan kini hamba menyentuhnya. Ampuni hamba, Ya Allah ....' batin pria itu sembari menenangkan diri. Pria itu pun segera membawa Quin pergi dengan menggendongnya. Dia tak mau terjadi fitnah jika ada yang melihat mereka berdua. Quin segera didudukkan di bangku dekat kemudi. Lalu dirinya masuk dan segera menyalakan mesin mobilnya. 'Siapa sebenarnya dia? Dia sudah menolongku, tapi aku tak tahu siapa dia. Namun wajahnya seperti familiar,' batin sang pria yang kemudian melepaskan peci hitamnya dan segera melajukan mobil. Kini mobil sedan itu pergi meninggalkan taman. Karena sang pria tak tahu identitas asli gadis itu, dia pun membawanya pulang ke rumah kedua orang tuanya. Mobil pun berhenti di depan sebuah rumah yang cukup megah. "Assalamu'alaikum," ucap sang pria berusia sekitar dua puluh delapan tahunan itu saat sudah tiba di depan pintu masuk. Beberapa saat kemudian terdengar jawaban dan pintu pun terbuka. "Wa'alaikumussalam ... Salman. Itu siapa?" tanya seorang wanita paruh baya yang kini mengenakan jilbab abu-abu. "Aku juga tidak tahu dia siapa, Ummi. Tapi dia butuh bantuan," ujar Salman. "Ya Allah. Apa dia korban tabrak lari? Masuklah dulu, Nak," ucap wanita itu yang diketahui bernama Asti. Salman membawa masuk Quin dan menidurkannya pada kamar tamu. Asti menatap gadis manis dengan dress biru muda. Gadis berambut pendek itu begitu cantik. Namun ada aroma aneh dari tubuhnya. "Dia sebenarnya kenapa, Salman?" tanya Asti pada putranya. "Dia sepertinya sedang dalam masalah, Ummi. Dia tadi menangis di dekat taman," jawab Salman tanpa memberi tahu sang ibu bahwa gadis itu terpengaruh oleh alkohol. "Terus kenapa nggak kamu anter pulang?" tanya sang ibu. "Aku nggak tahu di mana rumahnya. Aku kasihan dan membawanya pulang sebelum dia diapa-apakan orang tak dikenal," jawab Salman yang kini berdiri di samping ranjang. "Ya Allah. Masalah apa yang membuatmu seperti ini, Nak?" tanya Asti yang kini duduk di samping tubuh Quin. "Apa kamu sudah cari tahu informasi keluarganya?" tanya wanita itu sembari menatap wajah putranya. Salman menggeleng. "Belum, Ummi. Coba Ummi cari tahu di bajunya. Barangkali dia membawa dompet atau ponsel yang bisa menghubungi keluarganya," anjur pria itu. Asti mengangguk. "Iya." Saat Asti tengah mencari sesuatu di kantong baju Quin, tiba-tiba saja ada beberapa orang yang mengetuk pintu rumah mereka. "Sebentar, Mi." "Iya." Salman segera berjalan keluar untuk melihat siapa yang bertamu. "Assalamu'alaikum!" "Wa'alaikumussalam," sahut Salman saat membukakan pintu. Ada beberapa orang pria yang merupakan tetangganya dan ada pula ketua RT setempat. "Maaf, ada apa, ya, Bapak-Bapak?" tanya Salman dengan sopan. "Maaf, Gus Salman. Kami mendapat laporan bahwa Gus Salman membawa pulang perempuan yang bukan muhrimnya," ujar sang ketua RT. Dahi Salman mengernyit. Dari mana mereka tahu? Padahal dia sendiri tadi memastikan tak ada siapa pun di luar saat dia membawa pulang si gadis misterius. "Maaf. Itu memang benar tapi ada alasannya saya membawanya," jawab Salman dengan tenang. "Astaghfirullah! Gus. Gus sendiri kan tahu kalau berzina itu dilarang dan dosa besar! Kenapa Gus sendiri melakukannya?" seru seorang pria paruh baya seusia ayah Salman. "Astaghfirullahal'azim ... Saya tidak berzina dengannya," sahut Salman masih dengan tenang. "Nggak mungkin! Jika Gus benar, maka nggak mungkin membawa perempuan masuk ke rumah malam-malam begini." "Itu ada alasannya, Bapak-Bapak. Mohon dengarkan saya," pinta Salman. "Nggak bisa. Gus sendiri mengajarkan supaya menjauhi zina, tapi malah dirinya melakukannya sendiri. Kemari! Kamu harus diadili tanpa kecuali," ucap seorang pria yang lainnya sembari menarik lengan Salman. "Astaghfirullah!" seru Salman saat dirinya ditarik paksa dan ditahan oleh seorang pria yang lebih tua darinya. "Kamu bau alkohol!" ucap pria yang menahan tubuh Salman pada semua orang yang ada di tempat itu. "Ini nggak bisa dibiarkan. Orang yang berpengaruh buruk nggak boleh ada di RT saya!" tegas sang ketua RT. "Ya Allah ... Bukan begini, Pak," sahut Salman masih mencoba membela diri. Saat itu juga Prayit keluar dari kamar mandi. Pria paruh baya itu merasa terganggu saat mendengar suara ribut-ribut di luar rumahnya. Asti pun ikut keluar untuk memeriksa dan meninggalkan gadis cantik yang masih terlelap. "Ada apa ini, Abi?" tanya Asti pada suaminya. "Entahlah, Mi," sahut Prayit. "Ada apa, Abi, Ummi?" tanya seorang pemuda berusia delapan belas tahun yang merupakan anak bungsu Prayit dan Asti. Mereka pun segera mencari jawaban dengan berjalan keluar menemui beberapa pria yang berada di depan rumah. "Ada apa ini, Bapak-Bapak?" tanya Prayit yang kemudian melihat putranya sedang ditahan. "Pak Prayit. Gus Salman sudah berzina! Dan dia juga minum alkohol. Orang seperti ini tidak bisa dibiarkan begitu saja," sahut pria yang menahan tubuh Salman. "Astaghfirullah. Saya tidak berzina!" tegas Salman. "Ini pasti salah paham. Perempuan yang dibawa anak saya itu cuma perempuan yang ditolongnya saja," bela Asti. "Jangan membelanya, Bu. Meski anak ibu seorang ustadz, tapi kalau sudah ketahuan berzina, maka tetap saja dia nggak pantas berada di tempat kita!" sahut seorang pria lain lagi. "Kalian salah. Saya tidak berzina. Dia itu–" "Sudahlah. Lebih baik kamu bertanggung jawab dengan perbuatanmu, Gus!" potong pria yang menahan Salman. Mereka kembali menyuarakan kekecewaannya pada sang ustadz muda yang cukup terkenal. Lalu Prayit pun meminta penjelasan dari sang istri yang memang tak terlalu tahu secara detail mengapa putranya membawa pulang seorang gadis muda yang tengah dalam pengaruh alkohol. "Tenang, Bapak-Bapak. Kita bicarakan masalah ini di dalam saja," ucap Prayit mencoba menengahi. Sebagai seorang ayah dan juga warga, dia harus bersikap bijak. "Tenang, tenang! Ini sudah kelewatan, Pak!" "Ya, benar. Ini sudah kelewatan!" "Dia harus dihukum rajam!" Begitulah beberapa ancaman terucap dari mulut para pria yang merupakan tetangga Salman. "Astaghfirullah ...." "Kita bawa perempuan itu sekalian!" ajak salah satu pria sembari mencoba memasuki rumah Salman. Salman sendiri tiba-tiba diseret menjauh. Namun pria itu mencoba bertahan agar tidak dibawa terlalu jauh. "Jangan sentuh istriku!" bentaknya membuat dua orang yang hendak menyerobot masuk menghentikan langkahnya. Kedua orang tua Salman dan juga sang adik terkejut mendengarnya. Salman tampak marah dan pria yang menahannya pun melepaskan tubuh Salman. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN