3. Nikah Dadakan

1762 Kata
"Istri?" tanya sang ketua RT. Semua pandangan mata kini tertuju pada Salman. Pria itu pun menegakkan badannya. Dalam hati dia beristighfar karena telah berani berbohong. Akan tetapi menurutnya ini adalah jalan terbaik agar gadis tak bersalah itu tidak dihukum rajam bersama dirinya. Karena menjelaskan kebenarannya yang menolong gadis tak dikenal pasti tak akan dipercaya begitu saja. "Iya," jawab Salman. "Kalau dia memang istri Gus Salman, kenapa kami sebagai warga tidak tahu?" tanya salah satu warga yang masih tak mau percaya. Seorang remaja laki-laki pun muncul. Dia adalah Arsaka, adik Salman. Remaja itu mendekati sang kakak. "Memangnya tidak boleh kalau Mas mengadakan pernikahan sederhana yang hanya dihadiri keluarga?" bela Arsa. Prayit dan Asti saling melempar pandang. Mereka tahu kedua putra mereka tengah berbohong. Namun sebagai orang tua, mereka tak ingin para warga dengan seenaknya menghukum putra mereka dan gadis misterius yang masih tertidur pulas. Kedua orang tua Salman berpikir positif bahwa pasti ada alasan putra mereka membawa si gadis. "Jelas, kan? Sekarang juga mohon kalian semua pulang. Dan saya ingatkan, jangan termakan fitnah," tegas Salman. Semua orang yang berkumpul di depan rumah Salman pun terdiam. Benar kata pria itu. Mereka langsung menggerebek rumahnya karena mendapatkan informasi dari seseorang tanpa mereka selidiki terlebih dahulu kebenarannya. "Baiklah. Maafkan kami, Gus. Kami salah karena telah bertindak seenaknya," ucap sang ketua RT merasa malu. Sebenarnya dia hanya ikut dipanggil untuk menghakimi. Namun dia sendiri tahu keluarga Prayit dan Asti selalu membantunya dan para warga. "Ya, Pak RT. Tapi saya minta agar Pak RT dan Bapak-Bapak lainnya jangan suka main hakim sendiri," balas Salman. "Iya, Gus. Maafkan Bapak." Sang ketua RT mengangguk tak enak hati. "Baiklah, Bapak-Bapak. Kita kembali ke rumah. Sudah jelas kalau Gus Salman tak mungkin melakukan hal hina tersebut," ajaknya pada para warga yang berkumpul. Setelah semua warga pergi, Salman dan kedua orang tua beserta adiknya segera kembali masuk ke dalam rumah. Salman pun dimintai keterangan oleh kedua orang tuanya mengenai gadis yang ada di dalam kamar tamu. "Ya Allah. Jadi begitu? Dia sedang dalam masalah dan ada orang yang memberikan dia alkohol?" tanya sang ayah mencoba tetap tenang. "Iya, Pah. Kemungkinan seperti itu. Tadi aku sempat mendengar dia minum jus jeruk dan merasa pusing," sahut Salman membenarkan. "Itu berarti bukan jus jeruk saja, tapi sudah dicampuri minuman lain. Kasihan sekali dia kalau sampai dimanfaatkan oleh orang lain," ucap Prayit. "Iya, Pah. Tapi sepertinya aku sekarang ingat dia siapa." "Siapa, Nak?" tanya sang ibu yang saat ini menggenggam ponsel milik Quina. "Dia sepertinya kuliah di kampusku," jawab Salman mengingat beberapa wajah yang pernah dia temui. "Ya Allah ... Jadi kamu mengenalnya?" tanya sang ibu. "Tidak kenal. Hanya wajahnya saja aku ingat pernah lihat," jawab pria itu. "Oh. Begitu." Asti mengangguk-angguk. "Terus gimana ini, Mas? Kita udah terlanjur berbohong," tanya Arsaka. Salman menatap sang adik. "Hahhh. Entahlah. Mungkin aku akan mengantarnya pulang saja dan menjelaskan pada warga bagaimana cerita yang sebenarnya. Semoga mereka percaya. Aku juga bersalah karena membawa perempuan pulang dan tadi aku menyentuhnya. Padahal kami bukanlah pasangan halal atau mahram," paparnya tampak lesu. "Kalau begitu apa kamu punya nomor rumahnya?" tanya Prayit lagi. Asti mengulurkan ponsel yang dia dapatkan. "Ini. Di dalam kantongnya cuma ada ini. Sepertinya dia nggak bawa apa-apa saat keluar rumah," ucapnya. Keempat orang itu segera menuju ke kamar tamu. Mereka perlu sidik jari si gadis misterius untuk membuka kunci ponsel dan menghubungi kedua orang tua gadis itu. Setelah terhubung, Asti menjelaskan bahwa putri mereka tengah berada di rumahnya. Asti pun memberi tahukan di mana alamat rumahnya karena didesak oleh orang tua Quina. Sekitar lima belas menit kemudian, terdengar suara mobil berhenti tepat di depan rumah. Arsaka pun membukakan pintu dan menyambut tamu mereka di malam yang mulai larut. "Di mana anak kurang ajar itu?" tanya Wibowo dengan amarah yang berkobar di dalam dadanya. "Pah. Sabar," ucap Inggit mencoba menenangkan suaminya. "Iya, Mas. Sabar." Adik Inggit yang dimintai untuk membantu mencari Quina ikut serta. "Aku nggak bisa sabar. Dia sudah mempermalukanku di depan temanku. Padahal calon suaminya itu memiliki masa depan," tegas Wibowo. "Tolong tenang, Pak. Ini sudah malam," tutur Prayit menengahi. Setelah itu mereka pun duduk di ruang tamu. Inggit langsung menemui putrinya yang masih belum sadarkan diri. Sementara itu, Para pria sedang membicarakan sesuatu. Pandangan Wibowo kini tertuju pada seorang pemuda yang mengaku bertemu Quina dan membawanya pulang. "Jadi kamu yang membawa dia ke rumahmu?" tanya Wibowo. "Iya, Pak. Maafkan atas kelancangan saya," sahut Salman. "Quina lah yang seharusnya minta maaf. Dia sudah berbuat kurang ajar dan kabur begitu saja dari rumah," papar Wibowo dengan ekspresi kesal. Suasana begitu tegang. Salman pun harus mengutarakan apa yang tadi dia dengar. Dia sendiri manusia yang tak tega melihat manusia lainnya menderita. Apa lagi Quina tampak putus asa. "Maaf, Pak Wibowo. Tapi ... Saya ada satu permintaan," ujar Salman. Wibowo menatap heran pada pemuda di hadapannya. Arsaka pun memilih duduk sedikit menjauh dengan kedua mata yang sudah mengantuk. "Apa?" "Saya hanya meminta Pak Wibowo jangan terlalu memaksakan Quina. Biarkan dia memilih jalan hidupnya," jawab Salman dengan tenang. Kedua alis Wibowo saling bertaut. "Urusan apa kamu memintaku seperti itu? Oh. Atau jangan-jangan maksudmu kamulah yang dipilih Quina sehingga dia berani kabur? Seharusnya kamu datang saja ke rumah secara baik-baik. Putriku itu susah diatur, jadi kau pasti juga sama saja," sentaknya. "Astaghfirullahal'azim ...." gumam Salman dan sang ayah. Mereka langsung menilai bahwa gadis muda itu kabur karena sikap keras ayahnya. "Bapak jangan bicara sembarangan tentang Mas saya! Dia itu seorang ustadz dan–" "Sudah, Arsa," potong Salman. "Ustadz?" ulang Wibowo. Pria itu menatap penampilan rapi Salman dengan baju koko dan celana panjang kain yang begitu rapi. Bahkan bisa dibilang wajah pemuda itu begitu teduh. "Kalau kamu seorang ustadz, seharusnya kamu paham bahwa membawa perempuan yang bukan mahramnya ke rumah itu dosa," ucap Wibowo lagi. Salman terdiam. Benar kata tamunya. Dia sendiri merasa bersalah karena telah berani menyentuh gadis muda itu meski dengan alasan menolongnya. "Maafkan saya, Pak. Saya tidak bermaksud untuk menghinakan Quina. Saya hanya ingin menolongnya," papar Salman sembari menunduk meminta maaf. Wibowo melihat kerendahan hati pria yang disebut-sebut sebagai ustadz itu. Dia tak bisa marah padanya. Pemuda itu tampak memiliki ilmu yang cukup banyak dalam pendalaman agama yang dianutnya. "Kalau kamu memang ingin menolong putriku, maka nikahilah dia," ujar Wibowo, bukan, ini terdengar seperti perintah. "Pak Wibowo. Ini salah paham," bela Prayit. Meski dirinya sendiri dan sang istri ingin segera memiliki menantu, namun mereka tak mau memaksakan putra pertama mereka. Salman terdiam lama. Wibowo melihat pria muda itu tengah memikirkan permintaannya. "Baiklah. Saya akan menikahinya," jawab Salman mengejutkan adik dan ayahnya. "Kalau begitu karena kamu sudah menyentuh putriku, maka tak bagus juga berlama-lama. Bagaimana kalau kita menikahkanmu sekarang?" tawar Wibowo. Melihat bagaimana perangai Salman dari tindakannya membuat pria paruh baya itu tak ingin melepaskannya begitu saja. Salman kembali diam. Pria itu mengamati sekelilingnya. "Baiklah. Kalau begitu tolong jadilah penghulu untuk saya dan wali untuk putri Bapak," ucap Salman. "Tidak. Aku tidak bisa menjadi penghulu," tolak Wibowo. "Kalau begitu ... Pah, tolong jadilah penghulu untukku," ucap Salman. "Kau yakin?" tanya Prayit. "Ya. Aku yakin. Aku sendiri salah karena menyentuh wanita yang bukan istriku. Aku tak mau menambah dosa lagi," sahut Salman dengan sungguh-sungguh. "Dan Pak Wibowo jadilah wali untuk Quina. Lalu Paman dan Arsa tolong jadilah saksi untuk pernikahan ini," sambung Salman dengan tegas. Semuanya menempatkan diri. Salman menghadap sang ayah yang akan menjadi penghulu untuknya. Wibowo sebagai seorang wali duduk di dekat Prayit dan dua saksi duduk di sebelah mereka. Sementara itu dua wanita paruh baya di dalam kamar tamu ikut menyaksikan ijab qabul yang akan segera dilaksanakan. Sedangkan Quina masih belum sadarkan diri karena pengaruh alkohol yang telah dia minum tanpa sengaja. "Anakku Salman Na'im, aku nikahkan engkau dan aku kawinkan engkau dengan Quina Anjani binti Wibowo, dengan maskawin uang senilai lima ratus ribu rupiah, tunai," tutur Prayit saat menjabat tangan putranya sendiri. Salman menarik napas. "Bismillahirrahmanirrahim ... Saya terima nikah dan kawinnya Quina Anjani binti Wibowo dengan maskawin tersebut di atas, tunai," jawabnya tegas. Prayit menoleh menatap dua saksi yang duduk bersama. "Bagaimana, saksi?" "Sah," sahut dua orang itu secara bersamaan. Arsaka sebenarnya berat membiarkan sang kakak menikah. Akan tetapi ini adalah permintaan kakaknya sendiri. Setelah sah menjadi pasangan suami istri, Salman pun berdiri dan menghampiri Quina yang masih belum sadarkan diri. Gadis itu terlalu lelap terbuai mimpi. "Maafkan putriku, Nak Salman," tutur Inggit pada pria yang kini menjadi menantu dadakannya. Salman masih berwajah tenang. Pria itu pun duduk di samping tubuh Quina. Dia tatap wajah cantik itu lekat-lekat dan ada bekas air mata yang sudah mengering di wajahnya. "Tidak, Bu. Seharusnya saya tadi memaksanya memberi tahu alamat rumahnya. Lagi pula dia sepertinya salah meminum sesuatu sampai dirinya tidur seperti ini," papar Salman pada sang ibu mertua. "Dia pasti memang sengaja meminumnya supaya bisa kabur dari rumah," ucap Wibowo yang ikut berdiri di dekat pintu kamar. Salman menoleh dan menatap wajah ayah mertuanya yang begitu keras. Dia menebak Quina menjadi seperti itu karena sikap ayahnya. Apa lagi dia ingat betul saat di kampus Quina begitu ceria meski dengan penampilan tomboy-nya. "Bagaimana pun juga dia perempuan. Saya sendiri sekarang akan mencoba membimbingnya," ucap Salman. "Terima kasih, Nak," sahut Inggit. "Baiklah. Aku percayakan anakku padamu. Tolong bimbing dia dan jika dia berulah, kau boleh menghukumnya," timpal Wibowo. Setelah pernikahan itu, Wibowo dan istri serta adiknya pulang ke rumah. Mereka meninggalkan Quina di tempat yang baru. Keluarga Salman pun mulai beristirahat. Kini akan ada lagi satu anggota keluarga yang baru di dalam rumah tersebut. Hingga subuh menjelang, Salman terbangun dari tidurnya. Pria itu bersiap menuju ke masjid terdekat untuk menjadi imam di sana. Para jamaah menyambutnya tanpa mereka tahu bahwa sang ustadz muda sudah memiliki seorang istri di rumah. Sementara itu, Quina mulai membuka kedua matanya. Gadis itu mengerjapkan kedua matanya dan dia dapati langit-langit kamar yang cukup rendah. Lalu dia sadar bahwa dirinya sedang tak berada di rumahnya. "Hah? Di mana ini?" pekiknya. Quina duduk dan menatap ke sekeliling. Itu bukanlah kamarnya. Lalu kepalanya terasa berdenyut. "Ughhhh. Pusing ...." Lalu dirinya segera mencari ponselnya dan tak dia temukan di dalam kantong. Ponselnya dia temukan pada meja kecil di samping ranjang. Quina pun memeriksa ponselnya dan dia dapati beberapa pesan dan panggilan tak terjawab dari Ryan. [Ryan: Quin. Lu di mana? Gue cariin lu nggak ada. Sorry tadi ada temen gue yang ternyata ngasih lu alkohol sama obat tidur.] Begitulah penjelasan dari Ryan. Ternyata Quina memang tak sengaja meminum alkohol dan berakhir tak sadarkan diri. 'Sialan temen-temen lu, Yan,' geram Quin dalam hati. Saat Quin tengah emosi, pintu kamar tiba-tiba terbuka. Lalu muncullah sosok tinggi dan tampan yang kini memakai abaya putih dengan peci putih memasuki kamar tersebut. "Siapa lu?" ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN