Rasya mengetuk - ketuk meja kerjanya. Sejak kembali dari butik Kalina, sedikit pun dia tidak beranjak dari sana. Pria itu hanya berputar - putar di dalam ruangannya. Sesekali dia duduk bersandar di kursinya dan terlihat memejamkan mata. Beberapa saat kemudian, ia kembali berjalan seperti orang bingung lalu berhenti di depan jendela bertirai biru terang dan termenung disana. Dia terus memikirkan kata - kata Kalina tadi. Tidak ada salahnya untuk mencoba saran yang Kalina berikan. Tapi masalahnya, bagaimana cara mengatakannya. Ini adalah pengalaman pertamya bersama seorang gadis. Dia tidak mengerti apa yang harus dilakukan. Dia khawatir akan melakukan kesalahan lagi dan membuat Ayana semakin membencinya. Kalau itu sampai terjadi, untuk selamanya dia tidak akan pernah bisa memiliki Ayana.

