Eruza menghampiri Wayne yang sedang melihat ke sumber suara.
"Ya."
"Aku harap tidak terjadi apa-apa dengan teman-teman yang lainnya," kata Wayne lagi, wajah tampan itu sedikit berkerut karena mengkhawatirkan teman-temannya.
"Semoga saja," kata Eruza sambil menatap langit yang bersinang terang.
Di waktu yang sama di tempat yang berbeda.
"Kamu dengar Rel?" kata Tanner yang sedang memetik tanaman herbal, tidak jauh darinya Darrel berdiri memperhatikan daerah sekitar, namun badannya condong ke arah sumber suara.
"Mungkinkah itu suara binatang yang sekarat? Atau binatang yang sedang marah?" tanya Darrel kepada Tanner, pandangannya tetap tertuju ke arah sumber suara.
"Aku berharap kemungkinan yang kedua," jawab Tanner, lelaki berambut panjang itu masih memetik tanaman herbal, atas usul Aza dia mulai mengumpulkan obat dan meramunya. Bertepatan dengan jurusan Tanner di kuliahnya ... dia mengambil jurusan obat tradisional, lelaki berambut blonde panjang itu sangat menyukai tanaman herbal dan cara pengobatan tradisional. Karena bahan-bahan obat tradisional tumbuh liar di pinggir jalan. Sekarang dia berada di dalam hutan di mana tanaman herbal tumbuh liar di mana-mana, mata lelaki itu selalu berbinar ketika melihat tanaman herbal. Makanya setiap hari lelaki itu akan membawa tas berbentuk anyaman, jika kalian mengetahui tas untuk menaruh teh yang baru dipetik, seperti itulah tas Tanner sekarang, karena menurutnya keranjang bunga terlalu kecil untuk dijadikan tempat obat.
"Tanner ... tasmu sudah mulai terisi penuh, sebaiknya kita maju ke depan, kita hanya mendapatkan tiga ayam hutan," kata Darrel mengeluh kepada Tanner, namun lelaki berambut panjang itu terlihat tidak peduli.
"Sebentar lagi, aku memetik yang di sebelah sini dulu," kata Tanner kemudian mengabaikan Darrel yang sedang tercengang sambil menunggu temannya memetik tanaman herbal.
"Meskipun kita hanya mendapatkan tiga ekor ayam hutan, tetapi kita mendapatkan banyak tanaman herbal," sambung Tanner sambil membanggakan hasil petikkannya.
"Bener juga si ... aku ingin beli tepung! Aku ingin buat brownis," keluh Darrel. Lelaki berambut perak itu memiliki hobi memasak. Semua masakan mungkin bisa dia olah, bahan-bahan sederhana pun dibuatnya menajdi makanan yang lezat apalagi bahan yang mahal?
"Tunggu kita mempunyai penghasilan, ah! Chimera sialan! Masa gak di kasih uang jajan," keluh Tanner yang menyalahkan Chimera.
Di lain sisi, Leonard dan Reymond sangat giat menangkap hewan buruan mereka.
"Perisai Tanah!" seru Reymond, tangannya menengadah ke atas bersamaan dengan munculnya balok yang terbuat dari Tanah. Balok itu terlihat sangat rapi dan kokoh mampu menahan serangan badak bercula satu.
"Tombak besi!" teriak Leonard yang melompat dari atas perisai balok yang dibuat Reymond. Beberapa tombak dengan diameter tiga kome lima sentimeter melesat ke arah dua mata badak bercula satu.
"Leo tusuk jantungnya!" seru Reymond dari belakang perisai, lelaki berambut hitam dengan gradasi biru malam itu menahan agar perisai yang dia buat tidak pecah, pasalnya cula badak itu tersangkut di perisai batu yang dibuat Reymond.
Ketika serangan Leonard yang mengenai matanya, Badak bercula satu itu mulai memberontak ingin melepaskan culanya. Keduanya mengetahui bahwa badak bercula satu yang mereka lawan ini mengalami sekarat.
Leonard langsung menyerang jantung badak bercula satu dalam sekali tembak. Suara Auman badak yang menemui ajalnya memenuhi daerah sekitarnya. Suara Harimau Putih dan suara Badak Bercula Satu yang menemui ajalnya beradu menjadi satu, membuat kedua pemuda tampan itu tidak mengetahui ada suara yang lebih mengerikan daripada suara sekarat badak bercula satu.
"Kita panen besar!" Leo sambil memeluk Reymond senang. Begitu juga dengan lelaki berambut hitam bergradasi biru gelap itu.
"Ayo kita pulang!" seru Reymond. Mereka membuat gerobak yang berisikan hasil buruan mereka.
Dan kembali dengan riang. Sementara Azareel dan Nelson sedang melakukan serangan. Yang satu mengalihkan perhatian dan yang satu menyerang diam-diam.
Suara auman Harimau Putih membuat keduanya membeku sesaat. Antara tegang dan takut, namun keduanya masih menyerang di titik vital binatang bertubuh besar itu.
"Nelson! Sekarang!" seru Azareel. Harimau Putih berlari dan siap untuk memangsa Aza, bertepatan ketika Harimau Putih ingin menerkam lelaki berwajah puppy itu.
Lelaki berwajah sendu itu langsung menembak panah angin.
Syut!
Binatang bertubuh besar itu berhenti seperti membeku bersamaan dengan d**a hewan itu yang mulai mengaliri darah segar, darah itu berasal dari sumber kehidupan mahluk hidup, Aza langsung menendang Harimau Putih yang baru saja mati.
"Kita berhasil?" tanya Nelson yang kini keluar dari tempat persembunyiannya.
"Iya kita berhasil," kata Aza, lelaki itu sedang sibuk mengelap keningnya yang dipenuhi keringat.
"Bulu harimaunya bagus dan lembut," kata Nelson sambil menghampiri Harimau yang terbaring kaku di tanah. Tangannya sibuk mengelus-elus bangkai binatang yang baru saja mati itu.
"Sudah saatnya kita pulang," kata Aza sambil memegang bahu Nelson.
"Iya ... kita perlu mengulitinya," kata Nelson, pandangannya masih menatap bangkai Harimau Putih.
"Nanti kita bagi-bagi," kata Aza kemudian berjalan menuju rumah pohon tempat mereka tinggal belum lama ini.
⚛⚛⚛
"Kalian dengar bunyi Auman tadi? Suaranya sangat keras," kata Tanner yang tidak sengaja bertemu dengan kelompok Eruza dan Wayne.
"Wuoah, kalian mendapat banyak sayuran," kata Wayne melihat tas besar yang terbuat dari anyaman, tas itu terisi penuh oleh berbagai tanaman berwarna-warni.
"Ini buka sayuran, ini tanaman herbal!" bantah Tanner, suaranya sedikit protes.
"Iya-iya, tapi kalian dengar? Aku harap itu pemburu lain," kata Eruza sambil memimpin jalan. Mereka pernah sempat bertemu beberapa kali dengan para pemburu, makanya mereka mengira itu bukan salah satu dari mereka. Karena sebagai ketua, dia wajib mengetahui kemampuan rekan-rekannya dan Eruza merasa kemampuan mereka mungkin tidak akan mengambil buruan itu.
Di tepi sungai, seratus meter dari rumah pohon, tercium bau anyir darah yang memenuhi daerah sekitar tempat itu. Kedua pemuda tampan sedang menguliti kulit Harimau Putih dengan hati-hati.
"Argh! Akhirnya udah selesai," kata Nelson sambil mencuci kulit harimau putih di sungai. Air yang semula berwarna biru jernih kini ternodai oleh cairan merah yang berbau ganyir.
"Cocoknya di apakah ya?" kata Nelson lagi sambil mencuci kulit binatang itu.
"Aku berpikiran untuk membagi dan menjahitnya di kerah leher," jawab Aza atas keinginannya kepada Nelson.
"Ah benar ... semuanya harus tetap merasakan kehangatan," kata Nelson yang tersadar.
"Daging harimaunya kita buat bbq," kata Azareel sambil tersenyum, dia memiliki tugas untuk membersihkan daging Serigala Putih.
"Kata Kak Tanner taring Harimau Putih bermanfaat sebagai bahan obat-obatan," kata Nalson ketika melihat empat gigi taring besar tergeletak di tanah, lelaki itu berpikiran jika saudaranya pasti sangat menyukai taring itu. Karena cukup langka dan sangat susah di dapatkan. Pastinya sangat senang kan ... namun yang dia dapatkan adalah Omelan dari saudara-saudara beda darah lainnya.