16. Berburu

1013 Kata
"Hei kalian dapat apa saja?" tanya Leonard sambil berjalan ke arah mereka, di belakangnya ada Reymond dan kemudian gerobak besar yang berjalan dengan bantuan sihir. "Hanya buruan kecil, wah ... kalian mendapatkan badak bercula satu," kata Eruza melihat hasil buruan mereka. "Sepertinya suara itu berasal dari badak bercula satu ini," kata Wayne sambil mengamati tubuh besar badak bercula satu. "Bukan, suara Badak bercula satu memang nyaring tapi tidak akan sampai di dengar oleh kalian yang jaraknya jauh dari kami," jelas Reymond agar tidak terjadi kesalahpahaman. "Yang belum datang Aza dan Nelson ya," kata Darrel yang mulai mengamati saudara-saudaranya. "Ah benar! Kemana dua anak itu!" kata Eruza yang teringat dengan si kecil dan si pintar. "Ayo kita cari," kata Wayne, lelaki itu mulai berdiri dari tempat duduknya dan berjalan ke dalam hutan. Yang lainnya juga mengikuti Wayne, secara tidak langsung mereka membuat kelompok untuk mencari Aza dan Nelson. Namun kedua manusia yang sedang asyik mencuci bekas darah Harimau Putih tidak tahu menahu. Mereka masih menyuci sambil bersiul. "Jika dagingnya di jual, kira-kira kita dapat berapa ya?" gumam Aza sambil membersihkan daging yang sudah di potong rapi. Ketika mereka datang, mereka mengambil baskom besi yang di buat Leo kemudian mengambil gerobak untuk mengangkut barang-barang mereka, setelah itu mulai membersihkan dan memilah buruan mereka, dari lima ekor kelinci putih gemuk, hingga tubuh besar Harimau Putih. Berbagai bentuk daging di masing-masing baskom besi. Serta bulu-bulu basah yang baru saja di cuci oleh Aza dan Nelson. "Akhirnya sudah selesai!" seru Nelson sambil memandang puas karya tangannya bersama Aza. "Semoga besok ada yang mau membeli makanan kita," kata Aza kemudian mendorong gerobak yang terbuat dari kayu dan tanaman rambat. "Semoga saja, Nelson tidak sabar ingin melihat dunia luar sini, waktu melihat orang yang berlalu-lalang rasa ingin mencari tahu sangat besar," kata Nelson menggebu-gebu, anak lelaki itu sangat menyukai bertualang namun takut menghadapi bahaya. "Tapi semua itu memerlukan uang, benarkan?" tanya Aza kepada Nelson. "Bener kak, makanya aku tidak sabar untuk hari esok, semoga banyak yang beli, kumpulkan uang dan masuk akademi," kata Nelson lagi. Wajah itu terlihat sendu namun sangat jelas terlihat jika pemuda tampan berambut hitam ini sangat menantikan hal itu.  Di lain sisi dan tempat. "Aza! Nelson!" seru Eruza di tengah hutan bersama dengan Reymond. Semuanya gelisah di dalam hutan karena tidak menemukan dua teman mereka.  Sinar mentari di sore hari terbenam, semuanya sudah sepakat akan kembali ke rumah pohon ketika sore menjelang malam.  "Di mana Aza dan Nelson sebenarnya?" gumam Eruza lagi kemudian dia kembali pulang bersama Reymond.  Teman-teman yang lainnya juga pulang ketika sore menjelang malam. Karena hewan buas aktif berkeliaran di malam hari, dengan kemampuan pemula seperti mereka, mungkin tidak akan bertahan lama sebelum mereka sampai ke rumah pohon. Syut! Darrel menembak panah cahaya ke ayam hutan yang sedang berkumpul, melihat itu Leonard yang menjadi teman Darrel untuk mencari Aza dan Nelson tidak mau kalah, dia kemudian membuat lima anak panah dari besi. Anak panah itu mengenai lima ayam hutan yang besar dan gemuk. "Niat mencari malah berburu," kata Leonard sambil melihat Darrel yang ingin melepaskan anak panah cahaya. "Waktu bersama Tanner, aku tidak bisa berburu karena sibuk mencabuti tanaman," jelas Darrel kepada Leonard. Rasa penasaran Leonard sudah terobati oleh penjelasan Darrel. "Tapi aku penasaran, di mana dua orang itu," kata Darrel. Namun pandangan lelaki tampan ini tidak lepas dari seekor Rusa Timor yang sedang menikmati enaknya rumput. Syut! Anak panah cahaya milik Darrel berhasil menumbangkan Rusa Timor. "Yes! Besok kita bakal banyak jualnya," kata Darrel melihat hasil buruannya dengan puas. "Tapi kita harus membersihkannya, eum bay the way, bulu ayam dan kulit rusa sepertinya bisa di manfaatkan," kata Leonard yang kepikiran sesuatu. "Emang apa yang bisa dilakukan dengan bulu ayam?" tanya Darrel kepada Leonard. "Buat kerajinan tangan," jawab Leonard. "Iya tau ... Dibuat apa?" tanya Darrel lagi. "Buat kerajinan kataku!" jawab Leonard, kali ini dia sedikit menekankan katanya. "Iya buat apa!" tanya Darrel lagi. Kini dia jadi ikut-ikutan menekankan kata-katanya. "Buat kerajinan!"  "Kerajinan apa?" tanya Darrel lagi, kini alisnya sedikit mengkerut, sorot matanya tajam menandakan jika Leonard menjawab hal yang sama dia akan marah. "Buat kipas tangan dari bulu ayam, nanti di kasih perwarna," jelas Leonard. Rupanya lelaki berbadan kekar itu tidak mengerti maksud dari perkataan Darrel. "Fyuh ... jawab itu dari tadi," protes Darrel namun dia sedikit memahami temannya yang satu ini. "Sebaiknya kita sudahi acar berburu kali ini, aku yakin Eruza pasti akan mengomeli kita," kata Leonard yang membuat gerobak dari besi. "Enak banget ya kamu bikinnya," kata Darrel ketika melihat hasil gerobak buatan Leonard. "Memanfaatkan kekuatan sebaik mungkin itu bagus, cukup enak mendapat kekuatan besi, biasanya membuat sesuatu dari besi harus melalui tahap pemurnian besi dan lain sebagainya, sangat tidak praktis," jelas Leo yang bangga dengan kekuatannya. "Benar juga, kira-kira apa mereka sudah menemukan dua anak itu?" gumam Darrel, tatapannya mengarah ke langit senja. "Ayo cepat," kata Leonard. Kemudian mereka berjalan dengan kecepatan sedang, mereka sedikit cukup jauh dari rumah pohon. Belum lagi mereka harus membersihkan hasil buruan mereka. Di rumah pohon. "Kemana perginya mereka? Apakah mereka pergi berburu lagi?" tanya Nelson kepada Aza yang kini mulai menata daging yang sudah dia cuci bersama Nelson. "Tapi buruan mereka besar-besar," kata Aza sambil mengamati hasil buruan teman-temannya. "Banyakan Rusa, Kelinci, Ayam dan satu Badak Bercula Satu, jika mereka berburu lagi mungkin cukup untuk kita jualan selama beberapa hari, tapi sebelum itu apakah kita harus membuat suatu tempat seperti kulkas," kata Aza lagi, banyaknya daging yang mereka dapatkan secara gratis membuat Aza berpikiran, jika tidak laku dengan keras di mana menaruh daging-daging di hadapannya itu. "Sepertinya mereka terlalu menikmati membunuh sesuatu," kata Nelson, wajahnya menunjukkan sedikit ketakutan. Teman-temannya suka membunuh itu bukanlah sesuatu yang bisa dia pikirkan. "Tidak mungkin," kata Aza lagi, namun dirinya sendiripun tampak sedikit ragu dengan kata-katanya. "Semoga saja mereka tidak ketagihan, karena itu suatu saat nanti akan membawa malapetaka," kata Nelson khawatir, terlihat jelas di wajah sendunya yang semakin sendu. "Mari kita pilah-pilah hasil buruan mereka," kata Aza sambil menghela nafas. Dia sudah cukup lelah untuk menguliti Harimau Putih dan lima kelinci. "Fyuh ... kerjaan lagi," keluh Nelson kemudian ikut memilah bersama Aza. "Kalian berdua dari mana saja?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN