"Bagaimana jika kita juga jualan obat?" kata Azareel dengan mata berbinar.
"Tapi jualan obatnya akan susah jika kita tidak menggunakan toko atau kios, lebih baik kita kumpulkan uang untuk membeli toko atau rumah?" kata Wayne, lelaki itu tampaknya sedang membayangkan sesuatu.
"Benar juga ... bearti sekarang apa yang harus kita lakukan?" kata Nelson yang sedang menggosok punggungnya dengan susah payah.
"Pertama-tama kita akan berburu, kemudian menyiapkan bumbu, datang ke Desa Hela, sebelum itu kita harus buat gerobak untuk jualan," kata Azareel sambil mengelus-elus dagunya yabg bersih, matanya seperti menerawang langit.
"Ok seperti itu saja, aku akan naik terlebih dahulu untuk menyiapkan sarapan kita," kata Darrel yang dari tadi hanya diam, lelaki itu memang cukup pendiam namun dia sangat memperhatikan semuanya layaknya seorang ibu, padahal dia hanyalah lelaki remaja yang baru saja menginjak usia dewasa.
"Senyum Darrel bagaikan mentari yang bersinar di pagi hari, hangat dan menyilaukan, layaknya sinar matahari itu sendiri," kata Reymond mendesah panjang ketika melihat senyum Darrel yang seperti anak polos tanpa sedikitpun dosa.
"Bagiku, Darrel adalah seorang malaikat yang datang ketika seseorang kesulitan, dia sangat pengasih dan penyayang, makanya aku snsgat menyayanginya layaknya adikku sendiri," jelas Eruza sambil menatap adik sepupunya.
"Aku baru ingat jika Eruza dan Darrel bersepupu," kata Tanner sambil ketawa sumbang.
⚛⚛⚛
Seorang pemuda berwajah puppy sedang berkonsentrasi di atas pohon besar yang sudah berumur ratusan tahun, tangan pemuda itu melambaikan dengan halus dan penuh dengan penekanan. Di ujung jarinya terdapat segerombolan air berwarna biru jernih yang terbang di udara. Air itu seketika berbentuk anak panah yang langsung melesat tepat sasaran.
Slap!
Air berbentuk panah itu berubah menjadi air biasa yang pecah ketika sudah mencapai target. Terget yang di kenai anak panah air itupun mulai mengeluarkan darah dan sekarat.
Ketika mengetahui buruannya sudah mati, Azareel akan turun ke bawah untuk mengambilnya buruannya.
Dia mengetahui bahwa sihir yang dia miliki lemah, tetapi dia menemukan cara agar dia juga bisa ikut melawan musuh, dengan menjadi petarung jarak jauh dan menyerang dengan sembunyi. Mungkin ini terbilang lemah tetapi emang inilah yang bisa dilakukan Azareel. Kekuatan yang hampir serupa dengannya adalah Nelson dan Darrel. Jadi mereka bertiga akan menjadi orang yang paling belakang yang akan melakukan serangan jarak jauh. Sisanya akan berada di garis depan, begitulah mereka membuat formasi serangan mereka. Yang terbaik saat ini hanyalah begitu. Namun di hutan saat berburu semuanya harus mengandalkan diri sendiri untuk berburu.
"Astaga, dapat Rusa Sambar!" kata seseorang yang sedang menghampiri Rusa Sambar hasil buruan Azareel.
"Kak Aza sangat hebat! Nelson hanya dapat lima kelinci," kata Nelson, kemudian lelaki itu mulai mengangkat hasil buruannya untuk memperlihatkan itu kepada Azareel.
"Segitu saja udah banyak kok Son, nanti kita makan kupas kulitnya," kata Azareel dengan senyumannya. Senyuman itu terlihat hangat namun tidak sehangat Darrel.
"Kulit ...." gumam Azareel yang tidak terdengar oleh Nelson di bawah sana.
"Ah benar! Kulit!" kata Azareel kemudian dia melompat turun dari atas pohon.
"Astaga! Kak Aza harus hati-hati!" omel Nelson yang melihat kecerobohan Azareel.
"Tenang saja adikku~ aku akan selalu sehat mulai sekarang," kata Azareel sambil tersenyum. Wajah itu sangat tampan dan terlihat sangat imut, bibirnya yang merekah ketika tersenyum dan matanya yang berbentuk seperti bulan sabit sangat menawan dan menenangkan hati.
"Ayo kita pulang," kata Azareel sambil membawa buruannya menggunakan sihir. Nelson hanya menitipkan hasil buruannya kepada Azareel kemudian anak lelaki itu berjalan dengan riang gembira melupakan kesedihannya yang hanya mendapatkan lima kelinci gemuk.
Bagaikan seorang kakak yang sedang menjaga adiknya, begitulah posisi Azareel saat ini.
Grr!
Nelson seketika langsung berhenti dan mulai berjalan mundur mendekati Azareel yang berada di belakangnya.
"Kak Aza, sepertinya ada hewan lain di depan sana," bisik Nelson di samping Azareel.
"Kita akan lihat ke sana," kata Azareel.
Kemudian mereka berjalan mengendap-endap kini sampailah mereka di semak-semak yang cukup untuk menyembunyikan keberadaan mereka.
"I ... itu ... Harimau Putih," bisik Aza. Matanya terlihat sangat kaget ketika melihat Harimau putih yang beberapa kali lebih besar dari Harimau di dunianya. Kemudian terbesit ide cemerlang di dalam pikiran Aza.
"Nelson, bantu aku untuk melawan Harimau Putih," bisik Aza kepada Nelson. Wajah anak lelaki itu terlihat sangat pucat dan tidak berpengalaman.
"Ayo belajar untuk membiasakan diri menghadapi bahaya," kata Azareel tersenyum hangat. Ini bagus untuk Nelson yang sedang dalam tahap berkembang.
"Baik," bisik Nelson. Kemudian Azareel menurunkan hasil buruan mereka tanpa melepas pelindung yang mengelilingi binatang mati itu.
Lelaki bermata puppy itu sudah menyiapkan busur yang sedari tadi dia bawa. Dia sengaja tidak menggunakan busur itu ketika memburu Rusa Sambar.
Grasak-grusuk
Perhatian Harimau Putih mulai mengarah ke semak yang mengeluarkan suara.
"Ya Tuhan bantu aku," gumam Nelson yang berada di balik semak-semak. Dia sedang memperhatikan Azareel yang melangkah mendekati Harimau Putih itu. Nelson sempat berpikir kenapa kak Aza menyerang dari sini, namun jika target mereka meleset maka buruan mereka akan lari. Perhitungan yang tepat namun sangat nekat.
Harimau itu mulai meraung seolah-olah menakuti mangsanya. Azareel berjalan perahan mendekati Harimau Putih itu, badannya mulai menegang karena binatang berbulu putih itu sangat besar dari yang dia perkirakan.
Aza berdiri di jarak yang sudah dihitungnya, lelaki itu mulai menarik busur dan mengarahkannya ke Harimau Putih itu. Begitu juga Nelson yang sudah bersiap dari tempat tersembunyinya.
"Serang!" seru Aza kemudian tiga anak panah berwarna biru air yang jernih melesat tepat ke arah Harimau, namun sangat di sayangkan Harimau Putih sudah memasuki level dua menengah. Pada dasarnya binatang di Hidden World dikategorikan sebagai binatang iblis dan Warcraft. Serigala berbulu Perak yang pernah mereka jumpai merupakan Warcraft level satu, namun serigala berburu perak lebih sering dalam bentuk kelompok membuat beberapa pemula akan kesusahan untuk menghadapi pack serigala berbulu Perak itu.
Sekarang Aza dan Nelson hanya berdua saja untuk melawan Harimau Putih yang berada di Warcraft level dua menengah. Tiga level di atas Serigala Berbulu Perak yang merupakan Warcraft level satu.
Panah yang Aza tembakkan meleset karena Harimau Putih mempunyai daya pertahan yang tinggi, namun beda hal dengan pisau angin yang akan di tembakkan Nelson.
Sreet!
Suara raungan Harimau Putih menggema satu kilo meter dari tempat itu, membuat beberapa burung yang sedang bersantai di batang pohon meninggalkan pohon tersebut takut sasaran selanjutnya adalah mereka.
Teman-teman mereka yang berada tidak jauh dari mereka mulai menolehkan kelapa mereka ke arah sumber suara.
"Auman Harimau," gumam Wayne yang berada empat ratus meter dari keberadaan Azareel dan Nelson. Perasaan tidak enak menyeruak dalam dirinya. Jantungnya mulai berdegup kencang, dalam diam Wayne merapalkan doa agar itu bukan temannya. Dia takut akan ada yang terluka lagi setelah insiden satu bulan kemarin, di mana Azareel tampak sekarat akibat serangan Pohon Menjalar.
"Wayne! Kau dengar?"