"Kamu pulang aja, San. Aku mau sendiri dulu!" Belanjaan yang baru saja kami beli kusodorkan kepadanya. Sany hanya menatap prihatin, tidak mengatakan apa pun setelah kami keluar dari tempat di mana aku melabrak Mas Dales. Mungkin aku memang keterlaluan, mempermalukan seorang bos klinik kecantikan di tempat umum. Salah siapa mengambil suami orang, di saat banyak sekali perjaka jomlo di Jakarta Utara, kenapa harus suamiku yang digodanya? Separuh hatiku cukup puas, tapi separuhnya lagi risau. Bagaimana jika mereka membalas dendam? Menculikku lalu dijual ke pasar organ gelap misalnya. Ah, biarkan saja. Toh kesalahan tidak sepenuhnya ada padaku. Yang penting aku puas. Apa lagi banyak yang melihat kepo ketika aku mulai berteriak di depan mereka. Bahkan beberapa dari yang melihat kami sudah me

